Wawancara
Dr. Tedi Kholiludin: Syahidnya Ayatullah Khamenei Tak Hentikan Semangat Perlawanan
Semarang, 16 Maret 2026 — Syahidnya pemimpin spiritual Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, tidak akan memadamkan semangat perlawanan umat Islam dan masyarakat dunia terhadap penindasan, terutama dalam perjuangan membebaskan Palestina.
Hal tersebut disampaikan Dr. Tedi Kholiludin, pendiri sekaligus Ketua Yayasan Pemberdayaan Komunitas Lembaga Studi Sosial dan Agama Semarang (eLSA), saat memberikan testimoni kepada Media ABI pada peringatan Yaumul Quds Sedunia di Semarang, Jumat (13/3/2026).
Dalam pernyataannya, Tedi terlebih dahulu menyampaikan belasungkawa atas wafatnya tokoh yang selama ini dikenal aktif membangun hubungan diplomatik dengan berbagai negara.
“Saya ingin mengucapkan turut bela sungkawa atas syahidnya Ayatullah Ali Khamenei, pemimpin spiritual Iran. Beliau telah banyak membangun diplomasi yang luar biasa dengan berbagai negara, termasuk Indonesia,” ujarnya.
Menurut Tedi, kepergian Ayatullah Khamenei merupakan kehilangan besar, bukan hanya bagi rakyat Iran, tetapi juga bagi umat Islam serta masyarakat dunia yang memperjuangkan kebebasan, perdamaian, dan kemerdekaan bangsa-bangsa.
“Kehilangan ini tentu bukan hanya kehilangan bagi rakyat Iran, tetapi juga bagi umat Islam secara khusus, serta bagi orang-orang di seluruh dunia yang menginginkan kebebasan, perdamaian, dan kemerdekaan,” katanya.
Meski demikian, menurut Tedi yang selama ini tak kenal lelah memperjuangkan hak-hak minoritas itu menilai syahidnya Ayatullah Khamenei tidak akan memadamkan semangat perjuangan umat dalam melawan imperialisme dan kolonialisme, terutama terkait perjuangan rakyat Palestina.
“Syahidnya Ayatullah Ali Khamenei tidak akan memadamkan api perlawanan. Tidak akan memadamkan semangat umat Islam untuk membebaskan Palestina dari imperialisme dan kolonialisme,” ujarnya.
Tedi juga menilai peringatan Yaumul Quds sebagai manifestasi solidaritas rakyat dunia terhadap perjuangan Palestina dan kaum tertindas.
“Yaumul Quds yang sedang kita saksikan hari ini merupakan salah satu manifestasi dari kekuatan rakyat yang berdiri di bawah satu bendera yang sama. Ini menunjukkan solidaritas untuk kemerdekaan Palestina,” ungkapnya.
Ia menegaskan, Yaumul Quds tidak semata-mata agenda tahunan, melainkan ruang terbuka bagi masyarakat dunia untuk menyuarakan kebebasan dan menolak segala bentuk penindasan terhadap bangsa-bangsa.
“Yaumul Quds bukan semata-mata rutinitas yang digerakkan setiap tahun sebagaimana yang diamanatkan oleh pemimpin besar Revolusi Iran, Ayatullah Khamenei. Ini juga menjadi ruang terbuka bagi siapa pun yang menghendaki kebebasan di dunia dan kemerdekaan bangsa-bangsa dari segala bentuk penindasan,” tuturnya.
Lebih jauh, pendiri yayasan eLSA ini menyebut Yaumul Quds dan solidaritas terhadap Palestina maupun bangsa-bangsa yang mengalami penindasan di berbagai belahan dunia sebagai panggilan bersama masyarakat internasional.
“Ini menjadi global suffering, penderitaan bersama masyarakat dunia,” katanya.
Karena itu, menurutnya, siapa pun yang menghendaki perdamaian yang berlandaskan keadilan dan kemerdekaan perlu terlibat untuk menyuarakan dukungan melalui berbagai cara.
“Bisa melalui suara, tulisan, aksi unjuk rasa, kebijakan politik, maupun melalui berbagai jalur diplomasi. Semua itu merupakan ikhtiar yang memungkinkan perjuangan ini mencapai kemenangan,” ujar Tedi.
Ia menambahkan, setiap upaya untuk memperjuangkan keadilan tidak akan sia-sia.
“Dengan izin Allah, apa pun usaha dan upaya yang dilakukan tidak akan sia-sia, dan kemenangan itu selalu mungkin terjadi,” pungkasnya.[]
