Ikuti Kami Di Medsos

Nasional

Ustadz Miqdad Turkan Dorong Penguatan Peran ABI dalam Program Strategis Nasional

Published

on

Ustadz Miqdad Turkan menyampaikan arah konsolidasi dan strategi politik ABI dalam forum diskusi di Islamic Cultural Center Jakarta, 11 April 2026. (Dok. ABI)

Jakarta, 12 April 2026 — Anggota Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI) Ustadz Miqdad Turkan mendorong konsolidasi internal komunitas Syiah agar bergerak lebih terstruktur dan terukur. Pandangan itu disampaikan dalam forum diskusi usai Halal Bihalal Dewan Syura ABI di Islamic Cultural Center Jakarta, 11 April 2026.

Ustadz Miqdad menekankan pentingnya merumuskan langkah organisasi yang konkret. Posisi ABI, menurutnya, tidak cukup berhenti pada identitas komunitas, melainkan perlu diterjemahkan ke dalam agenda kerja yang sistematis dan dapat dijalankan. Rumusan itu perlu menghimpun masukan dari berbagai unsur di internal organisasi.

Merujuk paparan sejumlah tokoh dalam sambutan antara lain Ustadz Husein Syahab dan Ustadz Zahir Yahya, salah satu poin yang disorot adalah peluang yang tercermin dari tingkat penerimaan publik yang disebut mencapai 83,7 persen. Angka tersebut dinilai menjadi pintu masuk untuk memperluas jaringan dengan tokoh masyarakat.

Dalam konteks itu, Ustadz Miqdad menilai pendekatan langsung kepada tokoh agama dan masyarakat perlu dijalankan oleh ABI sebagai organisasi. Ia mencontohkan langkah diplomasi yang selama ini dilakukan pihak lain, termasuk perwakilan negara asing, yang dinilai dapat diadopsi melalui agenda silaturahmi strategis kepada para kiai dan tokoh daerah.

Ustadz Miqdad juga mendorong peningkatan kapasitas organisasi dalam membangun jejaring dengan tokoh senior dan aktor politik. Langkah ini diarahkan untuk memperluas pengaruh sekaligus membuka ruang advokasi terhadap kebijakan publik yang dinilai tidak sejalan dengan kepentingan komunitas.

Ustadz Miqdad kemudian mengangkat pengalaman Thailand sebagai pembanding. Di negara tersebut, komunitas Syiah mendapat pengakuan atas kontribusinya dalam pembangunan nasional. Hal ini dinilai menunjukkan pentingnya keterlibatan aktif komunitas dalam kehidupan bernegara.

Selain itu, momentum politik ke depan turut menjadi perhatian. Pemilu 2029 dipandang sebagai peluang untuk memperkenalkan figur dari kalangan ABI agar dapat masuk ke lembaga legislatif maupun struktur pemerintahan.

Seluruh gagasan itu, menurut Ustadz Miqdad, perlu dicatat, diklasifikasikan, dan diterjemahkan menjadi langkah operasional dengan fokus pada gerakan yang terukur dan berkelanjutan.[]