Ikuti Kami Di Medsos

Berita

Jenderal Safavi: Intelijen Iran Mengetahui Lokasi Pertemuan Netanyahu

Published

on

Ahlulbait Indonesia | 4 Maret 2026 – Penasihat Utama Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata menyatakan bahwa pihaknya mengetahui lokasi pertemuan Benjamin Netanyahu dan bank data intelijen telah lengkap.

Menurut laporan Kantor Berita Tasnimnews pada Selasa (3/3/26), Mayor Jenderal Sayyid Yahya Rahim Safavi dalam wawancara televisi nasional mengatakan, analisis politiknya menunjukkan bahwa Donald Trump telah menjadi permainan di tangan Netanyahu; dengan kata lain, Amerika Serikat dikorbankan demi rezim Zionis. Banyak politisi Amerika juga mempertanyakan mengapa uang pajak rakyat dan nyawa tentara AS harus dikorbankan demi Netanyahu dan rezim Zionis.

Ia melanjutkan, Netanyahu dalam berbagai pertemuan telah menyampaikan informasi dan estimasi yang keliru. Mereka mengira Republik Islam Iran melemah setelah perang 12 hari, padahal Iran justru menjadi puluhan kali lebih kuat.

Mayjen Safavi juga menyampaikan kepada rakyat bahwa pihaknya telah memperkirakan setelah perang 12 hari akan ada kembali upaya tipu daya dan penyesatan. Ia menyebut Trump dan Netanyahu sebagai kejahatan mutlak bagi keamanan global dan umat Islam.

Penasihat Utama Panglima Tertinggi menegaskan bahwa pihaknya telah mengetahui tipu daya dan kebohongan tersebut. Namun, kebijakan negara adalah menunjukkan kepada dunia dan rakyat dalam negeri bahwa Iran mengedepankan perdamaian dan dialog. Di saat yang sama, seiring diplomasi berjalan, kekuatan pertahanan, terutama kemampuan serangan rudal dan drone ditingkatkan hingga puluhan kali lipat.

Ia juga menyinggung superioritas intelijen negara. Struktur intelijen Republik Islam, termasuk Kementerian Intelijen dan lembaga intelijen lainnya, memiliki penguasaan penuh atas target musuh di sekitar Iran serta atas tujuan Amerika Serikat dan Israel. Bahkan, lokasi pertemuan Netanyahu telah diketahui dan bank data intelijen telah lengkap.

Safavi menyatakan bahwa pusat-pusat rudal telah dikosongkan sebelum serangan terjadi. Fasilitas yang menjadi sasaran juga telah dikosongkan. Menurutnya, yang dihancurkan adalah gedung-gedung tanpa personel, tanpa anggota Garda Revolusi maupun Basij.

Ia menekankan bahwa Amerika memulai serangan berdasarkan perhitungan strategis yang keliru dan tidak akan mencapai satu pun tujuan mereka. Tujuan yang diumumkan, katanya, adalah menggulingkan Republik Islam Iran, memecah belah, melemahkan, dan memaksa Iran tunduk agar menerima semua tuntutan Trump dan Netanyahu. Mereka ingin mengembalikan Iran ke era Syah serta menguasai minyak dan ekonomi kawasan.

Safavi menambahkan, selama 47 tahun terakhir bangsa Iran semakin kuat dari hari ke hari. Angkatan bersenjata dan struktur politik negara memiliki soliditas dan kohesi tinggi. Jika beberapa orang gugur sebagai martir, sistem tetap berjalan karena struktur politik bersifat institusional, memiliki kemampuan regenerasi, fleksibilitas, dan rekonstruksi.

Asisten dan Penasihat Utama Panglima Tertinggi juga menyatakan bahwa setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Revolusi, telah dibentuk Dewan Kepemimpinan Sementara. Ia menegaskan bahwa dalam waktu dekat, dengan izin Tuhan, Majelis Khobregan akan menetapkan pengganti Pemimpin Tertinggi. [HMP/ABI]