Internasional
Teheran Tawarkan Pakta Keamanan Baru Dunia Islam, Singkirkan Peran AS dan Israel
Ahlulbait Indonesia | 25 Maret 2026 — Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya menyatakan Republik Islam Iran siap membangun aliansi keamanan dan militer bersama negara-negara kawasan tanpa keterlibatan Amerika Serikat dan Israel. Pesan ini disampaikan dalam seruan terbuka kepada dunia Arab dan Islam di tengah eskalasi konflik regional yang terus meluas.
Pernyataan itu dibacakan Juru Bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaqari, dalam momentum Idul Fitri pada Rabu, (25/3/26), yang disebut berlangsung di bawah bayang-bayang agresi militer terhadap Iran.
Dalam pesannya, Zolfaqari menegaskan keamanan kawasan tidak seharusnya bergantung pada kekuatan eksternal. Menurutnya, negara-negara Muslim memiliki kapasitas untuk membangun sistem pertahanan kolektif sendiri tanpa campur tangan kekuatan di luar kawasan.
“Kita sama sekali tidak membutuhkan negara yang berjarak ribuan kilometer untuk menjamin keamanan kawasan kita,” kata Zolfaqari.
Ia juga menyebut Amerika Serikat selama ini lebih memprioritaskan kepentingan Israel dibanding stabilitas dunia Islam. Dalam pernyataan itu, Washington digambarkan sebagai aktor yang melihat kawasan semata dari nilai strategis energi dan kepentingan geopolitik.
“Kita tidak membutuhkan negara yang memprioritaskan keamanan dan kepentingan Israel di atas segalanya,” ujar Zolfaqari.
Pernyataan tersebut membawa pesan politik yang lebih luas, bahwa Iran ingin mendorong arsitektur keamanan regional yang dibangun dari dalam kawasan, bukan dipaksakan dari luar.
Zolfaqari mengajak negara-negara Muslim bergerak menuju pakta keamanan kolektif yang berlandaskan prinsip Islam dan kepentingan bersama. Menurutnya, persatuan keamanan regional kini menjadi kebutuhan strategis, bukan lagi sekadar wacana politik.
“Logika rasionalitas politik mendikte kita untuk membangun persatuan keamanan yang komprehensif,” katanya.
Dalam bagian lain, Zolfaqari menyinggung pengalaman sejarah kekalahan dunia Arab dalam perang 1967 dan 1973 sebagai pelajaran tentang rapuhnya ketergantungan pada aliansi eksternal tanpa kekuatan militer independen.
Ia menilai perubahan keseimbangan kekuatan di kawasan saat ini membuka ruang bagi pembentukan tatanan baru yang lebih mandiri.
Di akhir pernyataannya, Iran secara resmi menyatakan kesiapan membangun kerja sama keamanan dan militer dengan negara-negara tetangga, dengan pengecualian tegas terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan ini menambah sinyal kuat dari struktur militer Iran dalam beberapa hari terakhir. Di tengah perang yang terus berkembang, Teheran tampak mulai menggeser pesan strategisnya dari persoalan respons militer menuju tawaran pembentukan blok keamanan regional alternatif. []
