Internasional
Pemimpin Tertinggi Iran: Senjata Penenggelam Kapal Induk AS Lebih Berbahaya
Ahlulbait Indonesia, 18 Februari 2026 — Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei menegaskan kesiapan negaranya menghadapi tekanan militer dan politik Amerika Serikat saat berpidato di hadapan ribuan warga di Tabriz dan Azerbaijan Timur, Selasa pagi, 17 Februari 2026. Ancaman kapal perang induk Amerika dinilai tidak sebanding dengan kemampuan persenjataan Iran yang disiapkan untuk menenggelamkannya.
“Kapal induk memang alat perang berbahaya, tetapi yang lebih berbahaya adalah senjata yang mampu menenggelamkan kapal ke dasar laut,” kata Ayatullah Khamenei. “Tentara yang menganggap diri paling kuat di dunia pun bisa menerima tamparan keras hingga tidak mampu bangkit.”
Pidato itu berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kawasan serta tekanan internasional terkait program pertahanan dan nuklir Iran. Pemimpin Revolusi Iran menilai situasi tahun ini sarat peristiwa penting dan menekankan kekuatan nasional bertumpu pada persatuan, kesiapan, serta kewaspadaan.
Kondisi ekonomi domestik turut disorot. Menekan inflasi dan menstabilkan nilai mata uang ditempatkan sebagai prioritas pemerintah untuk menjaga ketahanan sosial dan kepercayaan publik.
Kerusuhan Januari juga menjadi sorotan penting. Menurut Pemimpin Tertinggi Iran, peristiwa tersebut merupakan operasi terencana untuk melemahkan negara. “Yang terjadi bukan gerakan spontan. Ini kudeta terencana yang dihancurkan oleh rakyat,” ujarnya.
Dalam pidato itu disebutkan juga jaringan intelijen asing yang merekrut dan melatih kelompok tertentu di luar negeri sebelum dikirim untuk melakukan sabotase. Serangan diarahkan pada fasilitas militer dan pemerintahan, sementara aparat keamanan, Basij, serta Garda Revolusi dinilai berhasil menggagalkan upaya tersebut.
Baca juga : Ayatullah Ali Khamenei: Jika AS Memulai Perang, Konflik akan Meluas Jadi Perang Regional
Korban kerusuhan dari berbagai pihak turut disinggung. Pasukan keamanan, warga sipil, serta peserta aksi yang disebut terpengaruh propaganda tetap dipandang sebagai bagian dari bangsa. “Kami menganggap semua korban sebagai anak bangsa dan berduka untuk mereka,” kata Ayatullah Khamenei.
Generasi muda diingatkan agar lebih waspada terhadap arus informasi dan propaganda. Ancaman kelompok radikal baru, menurut Pemimpin Revolusi Iran, memiliki pola serupa dengan organisasi ekstremis yang pernah muncul di kawasan.
Penegakan hukum turut ditekankan. Kelompok yang berpihak pada musuh melalui tindakan, analisis, atau pernyataan harus diproses secara adil di pengadilan.
Isu nuklir dan rudal kembali menjadi titik tekan pidato. Kemampuan pertahanan disebut sebagai kebutuhan strategis negara, sementara program nuklir damai dipandang penting bagi energi, medis, dan pertanian.
Ajakan negosiasi dari Washington juga mendapat kritik tajam. “Mereka mengajak bernegosiasi, tetapi hasilnya sudah ditentukan: Iran tidak boleh memiliki energi nuklir. Cara seperti ini tidak rasional,” kata Ayatullah Khamenei.
Ancaman militer Amerika dinilainya tidak efektif. Pengalaman puluhan tahun Republik Islam disebut menunjukkan ketahanan sistem yang bertumpu pada dukungan rakyat. “Republik Islam berdiri bersama rakyat yang bekerja dan berjuang selama puluhan tahun,” ujarnya.
Mobilisasi massa di Tabriz serta pawai nasional disebut sebagai indikator vitalitas politik. Kehadiran publik dalam berbagai aksi dipandang mencerminkan stabilitas dan daya tahan sosial.
Pidato ditutup dengan penegasan pentingnya persatuan nasional dalam menghadapi tekanan eksternal. Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan pesan strategis Teheran dalam konteks persaingan kawasan: Iran menilai memiliki kapasitas pertahanan yang selama ini tidak sepenuhnya diperhitungkan Washington, termasuk kemampuan militer yang disiapkan menghadapi proyeksi kekuatan laut Amerika di kawasan. [HMP/ABI]
Baca juga : Forum Internasional Kebangkitan Islam Kecam Uni Eropa yang Tetapkan IRGC sebagai Organisasi Teroris
