Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Pembukaan Rafah Picu Arus Kepulangan, Warga Pilih Bertahan di Gaza

Published

on

Ahlulbait Indonesia, 20 Februari 2026 — Pembukaan terbatas perlintasan Rafah kembali menggerakkan arus kepulangan warga Palestina yang terjebak di luar Jalur Gaza selama lebih dari dua tahun. Di tengah keterbatasan akses dan kondisi keamanan, banyak warga tetap memilih kembali dan bertahan di tanah kelahiran.

Kantor Berita Mehr, Jumat (2/2/2026), mengutip Pusat Informasi Palestina, melaporkan suasana emosional di halaman Rumah Sakit Nasser, Khan Yunis. Keluarga menunggu bus yang membawa anggota keluarga pulang setelah berpisah berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Fadaa Imran, yang menjalani perawatan panjang di luar Gaza, kembali bertemu ayah, ibu, dan saudara perempuannya. “Perasaan kembali ke tanah air dan bersama keluarga tidak tergantikan. Penantian ini sangat panjang, tidak ada tempat yang lebih baik selain Gaza,” ujarnya.

Perlintasan Rafah dibuka parsial sejak 2 Februari dengan pembatasan ketat. Jalur tersebut tertutup sejak Mei 2024 setelah operasi militer Israel di Rafah dan pengambilalihan sisi Palestina. Proses keluar masuk penumpang masih berjalan terbatas.

Data terbaru menunjukkan sekitar 80.000 warga Palestina di luar Gaza telah mendaftar untuk kembali. Angka tersebut muncul di tengah perdebatan politik mengenai masa depan wilayah Gaza. Sejumlah pengamat menilai arus kepulangan memperlihatkan keteguhan warga mempertahankan keterikatan pada tanah asal.

Tahani Omar, warga yang kembali, menggambarkan kehidupan di luar Gaza penuh tekanan. “Kami lahir di sini dan akan tetap di sini,” katanya. Proses pulang tidak mudah. Pembatasan ketat dan pemeriksaan panjang dialami sepanjang perjalanan.

Di lokasi yang sama, Hossam Al-Mansy, pemuda yang meninggalkan Gaza akibat luka perang, memeluk anak-anaknya saat tiba. “Saya memilih pulang sebelum pengobatan selesai. Tanah air, dengan semua kesulitan, tetap tempat paling dekat bagi saya,” ujarnya.

Analis politik Palestina Iyad al-Qura menilai setiap kepulangan memiliki dampak strategis. “Kembalinya satu orang saja menjadi pukulan terhadap upaya pengusiran paksa. Keputusan pulang mengandung dimensi kemanusiaan sekaligus nasional,” katanya. Pengalaman warga yang kembali ke Gaza utara pasca gencatan senjata menunjukkan pola serupa.

Sumber pemerintah Gaza menyebut pelaksanaan penyeberangan belum sesuai kesepakatan. Kantor Informasi Negara mencatat, antara 2–15 Februari, hanya 811 dari sekitar 2.800 musafir berhasil menyeberang. Angka tersebut setara sekitar 29 persen dari kuota.

Di sisi lain, lebih dari 22.000 pasien dan korban luka masih membutuhkan evakuasi medis ke luar Gaza. Sistem layanan kesehatan menghadapi tekanan berat akibat keterbatasan fasilitas dan pasokan.

Arus kepulangan memperlihatkan sikap kolektif warga yang tetap memilih bertahan. Bagi banyak keluarga, kembali ke Gaza bukan sekadar keputusan pribadi, tetapi bagian dari upaya mempertahankan identitas, keluarga, dan ruang hidup di tengah situasi yang terus berubah. [HMP/ABI]