Internasional
Media Israel: Iran Tak Akan Menyerah,Trump Ingin Akhiri Perang Tanpa Kehilangan Muka
Ahlulbait Indonesia | 1 April 2026 — Media Israel mulai memotret kebuntuan dalam perang melawan Iran. Di tengah belum terlihatnya kemenangan yang menentukan, sejumlah laporan menyebut Teheran tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah, sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai tengah mencari jalan keluar dari konflik tanpa menanggung beban politik yang terlalu besar.
Surat kabar Maariv pada Selasa (31/3/2026) melaporkan, Israel mendorong opsi operasi darat yang singkat namun intens terhadap Iran sebelum masuk ke tahap negosiasi. Dalam laporan itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut memahami posisi politik Trump yang dinilai makin tertekan seiring dinamika akhir masa kekuasaannya.
Menurut Maariv, para pejabat Israel membaca pernyataan Trump yang saling bertolak belakang soal perang sebagai tanda kebimbangan Washington dalam menentukan arah berikutnya. Di satu sisi, Trump berbicara tentang kemungkinan mengakhiri konflik. Di sisi lain, ia juga tetap membuka ruang eskalasi.
Media Israel juga menilai Trump kini berupaya menutup fase konfrontasi dengan Iran tanpa terlihat malu di hadapan publik. Namun, pendekatan itu disebut berbenturan dengan posisi Teheran yang dinilai tidak menunjukkan sikap menyerah.
“Iran tidak akan menyerah,” tulis laporan media Israel, seraya menyebut Israel tengah menyiapkan kemungkinan mengakhiri pertempuran dengan deklarasi “kemenangan formal” bergaya Trump.
Israel Dorong Operasi Darat Sebelum Negosiasi
Laporan Maariv mengindikasikan Israel masih mendorong langkah militer tambahan sebelum pembicaraan apa pun benar-benar dimulai. Opsi yang dibahas adalah operasi darat dengan durasi pendek, tetapi memiliki efek kejut yang kuat untuk memperbaiki posisi tawar sebelum masuk ke meja negosiasi.
Dalam kerangka itu, Netanyahu disebut terus mempresentasikan apa yang diklaim sebagai “pencapaian” perang dan janji hasil lanjutan, meski belum memberi gambaran jelas mengenai kapan atau bagaimana konflik akan diakhiri.
Pembacaan media Israel menunjukkan pemerintah di Tel Aviv masih berusaha membangun kesan kontrol, sekalipun perang memasuki fase yang semakin rumit secara militer dan politik.
Trump Dinilai Cari Jalan Keluar
Di saat yang sama, sejumlah media Israel menggambarkan Trump sebagai pihak yang mulai mencari celah untuk keluar dari konflik dengan tetap menjaga citra politiknya.
Laporan itu menyebut Trump berupaya mengakhiri babak perang dengan Iran “tanpa mempermalukan diri sendiri”, sementara Teheran dinilai membaca langkah itu sebagai upaya Washington keluar dari situasi yang kian sulit.
Media Israel bahkan menggambarkan upaya Trump sebagai usaha “putus asa” untuk mengakhiri fase konflik dengan Iran secara relatif terhormat. Penilaian tersebut memperlihatkan adanya kegelisahan yang mulai terbuka di ruang publik Israel terhadap arah perang yang belum memberi hasil final.
Peringatan soal Cadangan Militer Israel
Tekanan juga datang dari dalam negeri Israel sendiri. Surat kabar Haaretz menulis Trump “sedang membakar Timur Tengah dan mengharapkan dunia untuk memadamkan api tersebut”, sebuah kritik yang mencerminkan kekhawatiran atas perluasan konflik dan beban regional yang ditimbulkannya.
Sementara itu, Israel Hayom melaporkan peringatan Kepala Staf militer Israel, Eyal Zamir, soal kemungkinan runtuhnya angkatan darat. Peringatan itu disebut menyingkap persoalan yang lebih dalam: menipisnya kekuatan pasukan cadangan.
Laporan tersebut menyebut krisis personel kian terasa karena kebijakan yang didorong pemerintah justru dinilai tidak memperluas basis perekrutan, melainkan mempertahankan pola penghindaran wajib militer yang selama ini menjadi sorotan di Israel.
Perang Masuk Bulan Kedua, Hasil Belum Menentukan
Perang AS-Israel melawan Iran kini memasuki bulan kedua tanpa kemenangan yang tegas maupun tanda-tanda penyerahan dari Teheran. Di saat yang sama, Washington disebut masih kesulitan menentukan arah konflik, sementara Israel terus berupaya menjaga tekanan militer dan politik di tengah tanda-tanda kelelahan yang mulai muncul di dalam negeri.
Perang kini bergerak ke fase yang lebih berbahaya. Kemenangan belum terlihat, tetapi ongkos politik, militer, dan strategis terus membengkak. Di titik itu, yang mulai tampak bukan kepastian menang, melainkan kegelisahan tentang bagaimana perang ini diakhiri tanpa mempermalukan diri sendiri.[]
