Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Ketua Parlemen: Iran Kaget Wilayah Tetangga Selatan Dipakai untuk Serangan

Published

on

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengaku Teheran tidak memperkirakan wilayah negara-negara tetangga di Teluk akan digunakan sebagai basis agresi terhadap Republik Islam Iran. (Foto: Press TV)

Ahlulbait Indonesia | 17 Maret 2026 — Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengaku Teheran tidak memperkirakan wilayah negara-negara tetangga di selatan akan digunakan sebagai basis agresi terhadap Republik Islam. Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel di kawasan.

Dalam wawancara dengan Al-Araby Al-Jadeed, Selasa (17/3/2026), Qalibaf menegaskan Iran terpaksa merespons setelah serangan dilancarkan dari luar wilayahnya.
“Izinkan saya mengesampingkan basa-basi, kamilah yang tidak menyangka tanah negara tetangga selatan kami akan digunakan untuk agresi terhadap Iran, yang memaksa kami untuk membela diri,” ujarnya.

Qalibaf juga mengkritik keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Menurutnya, fasilitas tersebut justru memicu ketidakstabilan regional.
“Kalian memberikan pangkalan militer kepada Amerika untuk menciptakan keamanan bagi kalian, tetapi pangkalan-pangkalan ini justru menjadi sumber ketidakamanan bagi negara kalian,” katanya.

Konflik meningkat sejak 28 Februari ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Serangan itu menewaskan sejumlah tokoh penting dan memicu respons militer Teheran berupa serangan rudal serta drone ke target Israel dan pangkalan militer AS di kawasan.

Qalibaf menyebut Iran sempat menahan diri agar konflik tidak meluas ke negara-negara tetangga. Situasi berubah setelah keterlibatan langsung Washington dalam operasi militer.
“Amerika memulai ketidakamanan dari wilayah negara-negara ini, dan dalam perang eksistensial, kami terpaksa membela diri,” ujarnya.

Ia menilai perang saat ini akan mengubah peta geopolitik kawasan secara signifikan. Iran tidak melihat kemungkinan kembali ke kondisi sebelum konflik.
“Keamanan regional harus dijamin oleh negara-negara kawasan tanpa campur tangan asing,” katanya.

Teheran juga membuka opsi perjanjian keamanan jangka panjang dengan negara-negara regional. Qalibaf menilai kerja sama tersebut dapat menciptakan stabilitas sekaligus meningkatkan kepercayaan investor di kawasan.

Terkait gencatan senjata, Qalibaf mengambil sikap tegas. Ia menolak penghentian perang yang hanya memberi ruang bagi lawan untuk memperbaiki kekuatan militer.
“Bukan gencatan senjata yang memberi kesempatan kepada musuh untuk memperbaiki kelemahan dan kemudian menyerang lagi,” ujarnya.

Ia menegaskan Iran telah menyiapkan skenario menghadapi konflik berkepanjangan, termasuk penguatan produksi rudal dan drone dalam negeri.
“Kami mempersiapkan diri untuk perang panjang dan telah merancang respons untuk setiap skenario,” katanya.

Qalibaf juga meragukan klaim Amerika Serikat terkait pelemahan kemampuan ofensif Iran. Menurutnya, pencegahan serangan lanjutan hanya dapat dicapai jika pihak lawan menanggung konsekuensi berat atas agresi sebelumnya.

Dalam konteks politik domestik, Qalibaf menyinggung kepemimpinan baru pascakonflik. Ia menegaskan Iran tidak akan runtuh di bawah tekanan eksternal. “Pesan kepada dunia jelas, Iran bukan Suriah dan bukan Venezuela,” ujarnya. []