Internasional
Ayatullah Sistani Kecam Agresi AS–Israel ke Iran, Izinkan Dana Wakaf untuk Bantu Iran-Lebanon
Ahlulbait Indonesia | 22 Maret 2026 — Ulama Syiah terkemuka Irak, Ayatullah Sayyid Ali al-Sistani, menyampaikan kecaman keras terhadap agresi militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Pernyataan disampaikan saat salat Idul Fitri di Karbala dan Kadhimiya, Sabtu (21/3/2026).
Pernyataan itu dibacakan di hadapan jamaah di dua kota suci Syiah tersebut. Mengutip laporan Press TV, Ayatullah Sistani menyoroti situasi yang disebut terus memburuk di Iran dan Lebanon akibat eskalasi militer.
“Kami menggunakan kata-kata yang paling keras untuk mengutuk perang yang menindas ini dan menyerukan kepada semua Muslim dan pencari kebebasan di dunia untuk mengutuknya dan menunjukkan solidaritas dengan bangsa-bangsa yang tertindas di Iran dan Lebanon,” bunyi pernyataan tersebut.
Ayatullah Sistani juga menyerukan negara-negara berpengaruh dan dunia Muslim mengambil langkah konkret guna menghentikan agresi. Seruan mencakup dukungan politik dan kemanusiaan bagi warga yang terdampak konflik.
Selain itu, Ayatullah Sistani mengizinkan penggunaan dana sumbangan serta wakaf yang dikelola kantor dan perwakilan untuk membantu korban di Iran dan Lebanon. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah respons cepat terhadap dampak kemanusiaan.
Pernyataan muncul sekitar tiga pekan setelah meningkatnya ketegangan militer antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Situasi berkembang menjadi rangkaian serangan dan balasan di sejumlah wilayah.
Laporan menyebutkan bahwa Iran melancarkan serangan balasan ke target yang terkait Israel dan aset Amerika Serikat di kawasan Teluk. Ketegangan turut memicu aksi kelompok perlawanan di berbagai negara.
Di Lebanon, kelompok Hizbullah melancarkan serangan ke target Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran. Respons Israel berupa serangan ke sejumlah wilayah di selatan, timur, hingga Beirut. Eskalasi tersebut memicu gelombang pengungsian besar.
Perkembangan situasi masih dinamis. Sejumlah pihak internasional terus menyerukan deeskalasi untuk mencegah dampak lebih luas di kawasan. []
