Khasanah Islam
Pesan Ketua Dewan Syura ABI, Ustadz Husein Shahab, Menyambut Bulan Suci Ramadan 1447 H
Jakarta, 19 Februari 2026 – Ketua Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI), Ustadz Husein Shahab, menyampaikan pesan mendalam dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 H. Ia menekankan bahwa Ramadan bukan sekadar bulan ritual, melainkan momentum istimewa ketika setiap Muslim diundang secara khusus sebagai tamu Allah SWT.
Dalam pidatonya, Ustadz Husein mengutip khotbah Rasulullah SAW yang menyebut Ramadan sebagai “Huwa syahrun du‘iitum fihi ila dhiyafatillah, wa ju‘iltum fīhi min ahli karamatillah” (bulan ketika kalian diundang menuju jamuan Allah dan dijadikan termasuk golongan orang-orang yang dimuliakan-Nya). Status sebagai “tamu” ini, menurutnya, menuntut konsekuensi berupa adab dan perilaku yang mulia dari setiap individu.
“Sebagai tamu, mestilah kita menghormati pemilik rumah. Kita harus beradab dan berakhlak kepada tuannya. Sebagai orang yang dimuliakan, hendaknya kita membalas kemuliaan Sang Tuan dengan sikap yang pantas,” ujar Ustadz Husein dalam pesan audio melalui kanal resmi Dewan Syura ABI, Rabu malam (18/2/2026).
“Itulah sebabnya, di bulan suci Ramadan kita sangat dianjurkan memperlakukan diri sebagai tamu Allah yang terhormat dan dimuliakan,” lanjutnya.
Menurut Ustadz Husein, menghormati Ramadan harus diwujudkan dengan kesalehan pribadi yang lebih baik dibandingkan waktu-waktu sebelumnya. “Dengan cara mensalehkan diri lebih daripada sebelumnya, berkhidmat kepada Allah, serta berbuat baik kepada sesama makhluk-Nya melebihi bulan-bulan lainnya,” tegasnya.
Melalui ketulusan hati, kualitas ibadah, silaturahmi yang terjaga, serta khidmat kepada kemanusiaan, manusia dimuliakan Allah pada bulan Ramadan sebagai tamu-Nya.
Atas kemuliaan itu, Allah menganugerahkan ganjaran yang berlipat ganda. Tidak ada satu pun amal, sekecil apa pun, yang luput dari penghargaan-Nya pada bulan yang penuh berkah ini.
Kemuliaan Ramadan dan Martabat sebagai Tamu Allah
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Anfasukum fīhi tasbīh.” Nafas orang yang berpuasa di bulan Ramadan dihitung sebagai tasbih. “Naumukum fīhi ‘ibadah,” bahkan tidur dinilai sebagai ibadah. “Wa ‘amalukum fīhi maqbul,” amal-amal diterima oleh Allah. “Wa du‘a’ukum fīhi mustajab,” doa-doa pun diijabah oleh-Nya.
Baca juga : #Podcast | Paralegal Sebagai Suluk Sosial: Menyatukan Spiritualitas dan Kerja Sosial
Semua itu karena manusia diperlakukan sebagai tamu Allah dan hamba yang dimuliakan-Nya. Berbahagialah mereka yang menyadari kedudukannya serta menjaga martabatnya sebagai tamu Allah.
Dalam hadis yang sama, Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan: “Fa inna syaqiyyan man hurima ghufranallah fī hādza asy-syahr.” Sungguh merugi orang yang terhalang dari ampunan Allah pada bulan ini.
Dua Pilihan Sikap Manusia di Bulan Ramadan
Apabila seseorang tidak menghormati Ramadan, meremehkannya, mengabaikan kewajiban, serta memperlakukannya sama seperti bulan lainnya hingga tetap melakukan pelanggaran terhadap perintah Allah, maka orang tersebut termasuk golongan yang celaka. Mereka adalah orang-orang yang tidak memperoleh ampunan Allah pada bulan yang agung ini.
Pada bulan Ramadan tampak dua kutub yang jelas. Di satu sisi, Allah memuliakan manusia: mereka menjadi tamu-tamu-Nya, dimuliakan, dan diberi ganjaran besar atas setiap ibadah yang dilakukan. Di sisi lain, ada orang-orang yang mengabaikan kewajiban, tidak berpuasa, tidak salat, serta tidak memohon ampun kepada Allah, seolah merendahkan kesucian Ramadan. Mereka menjadikan dirinya terhalang dari ampunan Allah.
Karena itu, terdapat dua pilihan di bulan ini: menjadi tamu Allah yang dimuliakan atau menjadi hamba yang lalai dan merugi. Umat Islam diajak menempatkan diri sebagai hamba yang dimuliakan, menghargai Ramadan dengan berpuasa, memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur’an, serta berbuat baik kepada sesama yang membutuhkan perhatian dan kepedulian.
Dalam bimbingan praktisnya, Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar rasa lapar dan dahaga saat berpuasa menjadi pengingat akan lapar dan dahaga di hari kiamat. Umat juga dianjurkan bersedekah kepada fakir miskin, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang muda, menyambung silaturahmi dengan kerabat, tetangga, dan sahabat, serta menjaga lisan, pandangan, dan pendengaran dari hal-hal yang dilarang Allah.
Inilah tuntunan nyata Nabi dalam menyambut bulan suci Ramadan. Apabila semua itu diamalkan, insyaallah manusia akan termasuk tamu-tamu Allah yang dihormati dan dimuliakan.
“Apabila kita mampu mengamalkan semua itu, insyaallah kita akan termasuk tamu-tamu Allah yang dimuliakan pada bulan suci Ramadan. Semoga kita memperoleh ganjaran yang dijanjikan serta dipertemukan dengan malam-malam Lailatul Qadar,” pungkasnya.
Taqabbalallahu minna wa minkum, fataqabbal ya Karim. Semoga Allah mengabulkan segala hajat dan doa kita semua. [HMP/ABI]
Baca juga : Postkolonialisme Digital dan Tantangan Kemerdekaan Teknologi
