Ikuti Kami Di Medsos

Persatuan

#Podcast ABI | 47 Tahun Diembargo dan Ditekan Barat, Mengapa Iran Tak Pernah Tumbang?

Published

on

#Podcast ABI | 47 Tahun Diembargo dan Ditekan Barat, Mengapa Iran Tak Pernah Tumbang?
Tangkapan layar Podcast ABI

Jakarta, 6 Maret 2026 — Selama lebih dari empat dekade, Republik Islam Iran hidup di bawah tekanan internasional. Embargo ekonomi, sanksi politik, hingga ancaman konflik militer terus mengiringi perjalanan negara itu sejak Revolusi Islam 1979.

Namun satu pertanyaan terus muncul: mengapa Iran tidak runtuh? Negara itu tetap berdiri hingga hari ini.

Pertanyaan tersebut menjadi pokok pembahasan dalam Podcast Channel Media ABI yang tayang pada 18 Februari 2026 dengan tema “Ditekan 47 Tahun, Kenapa Iran Tak Bisa Dihancurkan?”.

Dalam perbincangan tersebut, Billy Joe berbicara dengan pengamat geopolitik Timur Tengah Hasan Zakaria, membahas dinamika politik Iran serta faktor-faktor yang dinilai membuat negara tersebut tetap bertahan di tengah tekanan global.

Sebagai catatan, ketika podcast ini direkam, agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran belum terjadi.

Tekanan Ekonomi di Tengah Embargo

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Iran saat ini adalah tekanan ekonomi akibat sanksi internasional yang telah berlangsung lama. Dampaknya terlihat dari perubahan signifikan pada nilai tukar mata uang Iran dalam beberapa bulan terakhir. “Jika kita lihat nilai tukar, satu dolar sekarang sudah mencapai sekitar 160.000 toman atau sekitar 1.600.000 rial. Padahal sekitar delapan bulan sebelumnya masih di kisaran 800.000 rial,” ujarnya.

Perubahan tersebut berimbas langsung pada harga kebutuhan pokok.

Harga minyak goreng, misalnya, sempat mencapai sekitar 4 juta rial per liter, sementara telur bisa mencapai sekitar 2 juta rial untuk 15 butir. “Kondisi ini tentu memberi tekanan bagi masyarakat,” katanya.

Menurutnya, embargo ekonomi dan berbagai sanksi internasional memang sejak lama diarahkan untuk melemahkan Iran.

Demonstrasi dan Dinamika Politik

Di tengah tekanan ekonomi tersebut, Iran juga menghadapi dinamika keamanan di dalam negeri. Dalam beberapa waktu terakhir terjadi demonstrasi yang dipicu oleh persoalan ekonomi, termasuk kenaikan harga bahan bakar dan kebutuhan pokok.

Sebagian aksi pada awalnya berlangsung damai. Namun situasinya kemudian berkembang menjadi lebih kompleks setelah ditunggangi kepentingan politik tertentu. “Kenaikan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar memicu demonstrasi. Namun kemudian situasinya berkembang menjadi lebih kompleks,” ujarnya.

Meski demikian, dinamika tersebut tidak serta-merta melemahkan dukungan masyarakat terhadap sistem politik yang ada.

Baca juga : Resensi Buku: Syiah Menurut Syiah

Dukungan Publik yang Tetap Kuat

Fenomena yang menarik justru terlihat pada tingkat dukungan publik. Di tengah tekanan ekonomi, partisipasi masyarakat dalam berbagai peringatan Revolusi Islam tetap tinggi. “Yang menarik justru masyarakat tetap berbondong-bondong membela Revolusi Islam Iran meskipun menghadapi tekanan ekonomi,” katanya.

Hal ini menunjukkan bahwa faktor ideologi dan identitas politik masih memiliki pengaruh kuat dalam menjaga stabilitas negara tersebut.

Figur Kepemimpinan

Selain ideologi, faktor kepemimpinan juga dinilai memainkan peran penting. Banyak masyarakat Iran memandang pemimpin tertinggi mereka, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, sebagai figur yang menjalankan kehidupan sederhana dan berusaha konsisten dengan nilai-nilai yang disampaikan. “Banyak generasi muda melihat langsung kehidupan pemimpinnya dan menilai ada keteladanan dalam gaya hidup tersebut,” ujarnya.

Dalam sistem politik Iran, kepemimpinan memiliki landasan ideologi yang kuat. Konsep wilayat al-faqih atau kepemimpinan ulama dipandang sebagai bagian dari tradisi pemikiran politik Syiah yang berkaitan dengan konsep Imamah.

Keyakinan ideologis tersebut, menurutnya, memperkuat kesatuan masyarakat meskipun dinamika politik tetap terjadi. “Walaupun ada perbedaan pandangan antara kelompok reformis dan kelompok konservatif, figur pemimpin tertinggi tetap menjadi titik rujukan bersama,” katanya.

Stabilitas Politik yang Bertahan Puluhan Tahun

Keberlanjutan kepemimpinan tersebut juga dianggap berkontribusi pada stabilitas politik Iran. Selama puluhan tahun, sistem politik negara itu tetap bertahan meskipun perubahan besar terjadi dalam politik global. “Amerika Serikat sudah berkali-kali berganti presiden, tetapi kepemimpinan Iran tetap bertahan,” ujarnya.

Stabilitas ini dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat sistem politik Iran tidak mudah digoyahkan.

Ideologi sebagai Fondasi

Selain faktor politik dan kepemimpinan, ideologi juga memainkan peran penting. Dalam tradisi politik Syiah, konsep keadilan (‘adl) menempati posisi sentral. Dalam ilmu kalam bahkan dikenal istilah al-madzhab al-‘adl, yaitu mazhab yang menempatkan keadilan sebagai prinsip utama.

Karena itu, seorang pemimpin tidak hanya dituntut berbicara tentang keadilan, tetapi juga menunjukkan nilai tersebut dalam praktik kehidupan. “Jika pemimpin tidak mampu menunjukkan nilai itu, legitimasi kepemimpinannya akan dipertanyakan,” katanya.

Terbiasa Hidup di Bawah Tekanan

Pengalaman panjang menghadapi tekanan internasional juga membentuk karakter politik Iran. Selama bertahun-tahun negara tersebut telah menghadapi embargo ekonomi, tekanan diplomatik, hingga ancaman militer. “Pengalaman itu membuat Iran selalu menjaga kesiapan nasional,” ujarnya.

Konflik terbuka dengan Iran pun dinilai bukan perkara sederhana. Situasi tersebut berpotensi memicu perang regional di Timur Tengah dan memengaruhi keseimbangan geopolitik global, termasuk hubungan antara negara-negara besar seperti China dan Rusia.

Karena itu banyak analis melihat ketegangan yang terjadi selama ini lebih banyak berada pada level tekanan geopolitik dan strategi. “Ketegangan yang terjadi lebih banyak berupa tekanan geopolitik, bukan langsung menuju perang terbuka,” katanya.

Pelajaran bagi Negara Lain

Di akhir perbincangan, ia menilai pengalaman Iran juga memberikan pelajaran bagi negara lain, terutama dalam hal kepemimpinan. Dalam sistem demokrasi, rakyat memiliki peran penting dalam menentukan masa depan bangsa melalui pilihan politik mereka.

“Rakyatlah yang menentukan masa depan bangsa melalui pilihan mereka terhadap pemimpin,” ujarnya.

Podcast tersebut ditutup dengan harapan agar diskusi mengenai geopolitik dan dinamika dunia Islam dapat membantu masyarakat memahami situasi Iran serta perkembangan politik global dengan lebih jernih. [HMP]

Baca juga : Melemahkan Persatuan, Dosa Tak Termaafkan