Ikuti Kami Di Medsos

Keluarga

Mengenang Hari Wafat Sayyidah Khadijah al-Kubra: Satu Misi, Satu Cinta

Published

on

Mengenang Hari Wafat Sayyidah Khadijah al-Kubra: Satu Misi, Satu Cinta

Oleh: Ustadzah Rabiatul Adawiyah
Sekretaris Pimwil Muslimah ABI Jatim

Ahlulbait Indonesia | 28Februari 2026 — Ada banyak kisah cinta dalam sejarah, tetapi hanya sedikit yang mampu mengubah arah peradaban. Hubungan Rasulullah SAW dan Sayyidah Khadijah ra bukan hanya kisah suami istri yang saling mencintai; pertemuan itu adalah persenyawaan dua jiwa yang sadar bahwa hidup mereka dipanggil untuk sebuah misi Ilahi.

Ketika Sayyidah Khadijah memilih Muhammad saw sebagai pendamping hidupnya, yang dipilihnya bukan raja, bukan pula bangsawan terkaya Quraisy. Yang dipilih adalah seorang lelaki yang dikenal sebagai al-Amîn (yang terpercaya), bersih, dan memancarkan cahaya akhlak. Seakan-akan Sayyidah Khadijah telah membaca tanda-tanda bahwa masa depan besar sedang menanti lelaki itu.

Saat wahyu pertama turun dan Rasulullah SAW kembali dari Gua Hira dengan tubuh bergetar, Sayyidah Khadijah tidak bertanya dengan nada ragu. Tidak ada tuntutan pembuktian. Tidak ada hitung-hitungan untung rugi. Dengan keteguhan iman, Khadijah berkata:

كَلَّا وَاللَّهِ لَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتُكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتُقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

“Sekali-kali tidak, demi Allah! Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Sesungguhnya engkau menyambung tali silaturahmi, memikul beban orang yang lemah, membantu orang yang tidak memiliki, memuliakan tamu, dan menolong dalam kebenaran.”

Kalimat itu tidak berhenti pada penenangan hati. Ucapan tersebut merupakan penegasan bahwa pribadi seperti Muhammad Saw mustahil ditelantarkan Allah. Ketika langit membuka pintu wahyu, Khadijah telah lebih dahulu membuka pintu keyakinannya. Di titik itulah satu misi dimulai. Sayyidah Khadijah tidak berada di belakang Nabi Saw, melainkan berdiri sejajar dalam perjuangan.

Baca juga : Ujian di Lingkaran Terdekat: Membaca Makna “Musuh” dalam Surah At-Taghabun

Cinta yang sejati selalu diuji. Ketika Quraisy memboikot Bani Hasyim dan kaum muslimin terkurung di Syi‘ib Abi Thalib, kenyamanan hidup Sayyidah Khadijah lenyap. Kekayaan yang dahulu membuatnya dihormati habis untuk menopang dakwah. Perempuan yang terbiasa hidup berkecukupan itu rela merasakan lapar dan himpitan kesulitan. Rasulullah SAW kemudian mengakui pengorbanan tersebut dengan sabda yang mengguncang sejarah:

مَا نَفَعَنِي مَالٌ قَطُّ مَا نَفَعَنِي مَالُ خَدِيجَةَ

“Tidak ada harta yang pernah bermanfaat bagiku sebagaimana harta Khadijah.”

Ucapan ini bukan hanya pujian. Sabda tersebut adalah pengakuan bahwa risalah agung itu bertumpu pada kesetiaan seorang perempuan yang memilih misi di atas kenyamanan.

Hubungan keduanya pun tidak dibangun di atas tuntutan duniawi. Rasulullah SAW bersabda:

إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا

“Sesungguhnya aku telah dianugerahi cintanya.”

Cinta adalah anugerah. Ia tumbuh dari kesamaan arah dan kejernihan niat. Selama Khadijah hidup, Rasulullah SAW tidak menikah dengan perempuan lain. Fakta ini bukan hanya catatan sejarah, melainkan isyarat tentang kemitraan ruhani yang utuh. Ketika Khadijah wafat, tahun itu dikenal sebagai Tahun Kesedihan (‘Aam al-Huzn). Rasulullah SAW kehilangan bukan hanya seorang istri, tetapi sahabat seperjuangan.

Dari rumah tangga dengan satu misi dan satu cinta lahirlah Sayyidah Fathimah az-Zahra ra, penerus cahaya Ahlul Bait. Sejarah Islam tidak lahir dari istana megah. Sejarah itu bertumbuh dari rumah sederhana yang di dalamnya ada dua hati berjalan menuju satu tujuan: Allah. Kisah Sayyidah Khadijah dan Rasulullah SAW menunjukkan bahwa kekokohan hubungan tidak semata ditopang oleh rasa cinta, melainkan oleh kesatuan visi. Ketika suami dan istri menyatukan hidup dalam misi Ilahi, cinta berubah menjadi kekuatan, pengorbanan menjelma kemuliaan, dan rumah tangga menjadi titik awal lahirnya perubahan besar di dunia. [HMP]

Baca juga : Poligami dan Keadilan Bagi Perempuan