Ikuti Kami Di Medsos

Daerah

Gerakan Cabe Jamu Menguat, ABI Probolinggo Dorong Ekonomi Komunitas

Published

on

Tanaman ini dikenal sebagai cabe jawa ini dan tidak hanya bernilai sebagai bahan jamu dan rempah, tetapi juga menyimpan potensi besar sebagai penggerak ekonomi bersama. (Dok. ABI)

Probolinggo, 19 Maret 2026 — Di tengah tantangan ekonomi yang kian terasa, sebuah gerakan sederhana namun penuh harapan tumbuh dari Probolinggo. Bukan dari proyek besar atau modal raksasa, melainkan dari bibit-bibit kecil bernama cabe jamu yang perlahan disemai menjadi kekuatan ekonomi umat.

Dewan Pimpinan Daerah Ahlulbait Indonesia (DPD ABI) Kota Probolinggo melalui Departemen Pemberdayaan Ekonomi (PE) menghadirkan program budidaya cabe jamu sebagai langkah nyata membangun kemandirian komunitas. Tanaman yang dikenal juga sebagai cabe jawa ini tidak hanya bernilai sebagai bahan jamu dan rempah, tetapi juga menyimpan potensi besar sebagai penggerak ekonomi bersama.

Pada Rabu (18/3), Wakil Ketua Departemen Humas, Media, dan Penerangan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) ABI, Lutfi A. Basori, turut hadir meninjau langsung program tersebut. Dalam kunjungannya, ia juga mengambil bagian dengan membeli selusin bibit cabe jamu untuk ditanam di rumahnya sebagai bentuk dukungan nyata terhadap gerakan ini.

“Kadang kita menunggu gerakan besar, padahal perubahan justru lahir dari langkah-langkah sederhana seperti ini,” tuturnya.

“Ketika kita membeli satu bibit, kita sedang menanam harapan. Ketika kita menanamnya, kita sedang menumbuhkan kemandirian. Dan ketika ini dilakukan bersama, ia akan menjadi kekuatan ekonomi umat yang nyata,” lanjutnya.

Program ini digerakkan oleh Divisi Pemberdayaan Ekonomi DPD ABI Probolinggo. Salah satu perwakilan dari divisi tersebut, Habib Ali Zainal Abidin Almuhdhor, menegaskan bahwa budidaya cabe jamu bukan sekadar aktivitas pertanian, melainkan bagian dari upaya membangun sistem ekonomi komunitas yang terintegrasi.

“Kami ingin ini menjadi gerakan bersama. Dari pembibitan, penanaman, hingga penjualan, semuanya dilakukan oleh komunitas. Bukan hanya untuk hasil hari ini, tapi untuk masa depan yang lebih mandiri,” ujarnya.

Dukungan juga disampaikan Ketua DPD ABI Kota Probolinggo, Ahmad Gufron. Ia menilai program ini memiliki potensi besar sebagai sumber penghasilan tambahan bagi keluarga.

“Budidaya tanaman cabe jamu ini sangat cocok sebagai alternatif pendapatan tambahan dalam keluarga. Ini bisa menopang ekonomi komunitas, sekaligus membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga di samping penghasilan utama. Kami berharap program ini dapat berjalan sukses dan menjadi langkah nyata menuju kemandirian komunitas, khususnya di wilayah Probolinggo,” katanya.

Cabe jamu dipilih bukan tanpa alasan. Tanaman ini dikenal kuat menghadapi panas maupun hujan, mudah dirawat, serta mampu hidup hingga belasan tahun. Karakter tersebut seolah menjadi simbol bahwa ketahanan dan keberkahan dapat tumbuh dari sesuatu yang sederhana, selama dirawat dengan kesungguhan.

Lebih dari itu, peluang pasarnya juga terbuka luas. Permintaan tidak hanya datang dari pasar domestik, tetapi juga dari sejumlah negara seperti China, Pakistan, India, hingga Eropa yang membutuhkan komoditas ini dalam jumlah besar.

Namun bagi ABI Probolinggo, yang menjadi fokus utama bukan semata angka dan potensi pasar. Gerakan ini juga diarahkan sebagai upaya membangun kohesi sosial di dalam komunitas. Melalui program ini, diharapkan terjalin hubungan yang lebih erat antaranggota, memperkuat solidaritas, serta menumbuhkan semangat untuk saling menopang dalam kebaikan.

Dari langkah sederhana berupa penanaman bibit, diharapkan lahir sebuah gerakan kolektif yang berkembang menjadi kekuatan ekonomi umat secara berkelanjutan. Dari Probolinggo, inisiatif ini diharapkan menjadi awal dari tumbuhnya kemandirian ekonomi berbasis komunitas yang lebih luas. []