Daerah
Dari Semarang untuk Palestina: Ribuan Massa Tolak BOP dan Kecam Agresi AS–Israel atas Iran
Semarang, 13 Maret 2026 — Menjelang sore, sekitar pukul 14.00 WIB, kawasan Masjid Jami Baiturrahman di Semarang mulai dipadati ribuan massa. Langit Ramadhan perlahan berubah warna, sementara cahaya matahari yang menurun memantul pada deretan bendera yang berkibar di atas kerumunan.
Hijau, merah, putih, dan hitam, warna Palestina bercampur dengan merah putih Indonesia. Di antara poster-poster tersebut juga tampak gambar-gambar para syuhada yang dibawa oleh anak-anak, ibu-ibu, orang tua, dan para remaja. Di tangan mereka, wajah-wajah tokoh yang mereka kagumi terangkat tinggi, Sayyid Hassan Nasrallah, Qasim Soleimani, Yahya Sinwar, Ismail Haniyeh, Abu Mahdi al-Muhandis, serta para syuhada Poros Perlawanan lainnya.
Takbir menggema dari berbagai sudut kerumunan. Sesaat kemudian yel-yel solidaritas meledak memecah udara sore. “Mampus Amerika!”, “Mampus Israel!”, “Hidup Indonesia!”, “Hidup Iran!” teriak massa bersahut-sahutan.
Mahasiswa, aktivis, tokoh agama, hingga keluarga yang datang bersama anak-anak mereka berdiri berdampingan di jalanan. Di antara kerumunan itu, sebagian mengangkat poster bergambar Syahid Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, sementara yang lain membentangkan spanduk besar yang menyerukan kemerdekaan Palestina.
Bagi ribuan orang yang berkumpul di sana, Hari Al-Quds bukan hanya peringatan tahunan. Hari Al0Quds menjadi panggung solidaritas global sekaligus ruang ekspresi politik bagi masyarakat sipil yang memandang konflik Palestina sebagai simbol ketidakadilan internasional.
Tahun ini, gema peringatan tersebut terasa lebih kuat.
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah, aksi di Semarang tidak hanya berbicara tentang Gaza atau Al-Quds, juga menyinggung isu yang lebih luas: agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta posisi Indonesia dalam arsitektur politik global.
Ribuan peserta mengikuti aksi damai yang dikoordinasikan oleh Solidaritas Muslim Indonesia untuk Quds (SMIQ) dan Aliansi Nasional Anti Zionis (ANAZ). Kegiatan tersebut juga dihadiri Lembaga Studi Sosial dan Agama (ELSA), perwakilan mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Jepara (UNISNU), serta mahasiswa dari berbagai kampus di Semarang.
Massa mulai berdatangan sejak pukul 14.00 WIB dari berbagai kota di Jawa Tengah. Aksi digelar pada Jumat terakhir bulan Ramadan, hari yang secara global diperingati sebagai Hari Al-Quds, sejak pertama kali digagas oleh Imam Khomeini setelah Revolusi Islam Iran.
Rangkaian aksi berlangsung hingga menjelang waktu magrib sekitar pukul 16.30 WIB.
Dari Jalanan Lokal ke Isu Global
Di berbagai kota di Indonesia dan dunia, Hari Al-Quds selalu menjadi titik temu antara solidaritas kemanusiaan dan kritik geopolitik. Semarang menjadi salah satu panggungnya.
Bagi para peserta aksi, konflik Palestina tidak dapat dipisahkan dari dinamika kekuatan global yang mereka nilai membentuk medan politik Timur Tengah. Dalam berbagai orasi yang disampaikan sepanjang aksi, agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran disebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara, hukum internasional serta ancaman bagi stabilitas kawasan.
Dari jalanan Semarang, isu tersebut kemudian meluas ke pertanyaan yang lebih dekat dengan politik domestik, bagaimana posisi Indonesia dalam konflik tersebut?
Pertanyaan itu muncul dalam kritik terhadap keterlibatan Indonesia dalam forum internasional Board of Peace (BOP).
Peserta aksi menolak keikutsertaan Indonesia dalam forum tersebut yang mereka nilai sebagai inisiatif politik Amerika Serikat. Dalam pandangan mereka, forum tersebut bukan semata-mata ruang diplomasi internasional, melainkan instrumen geopolitik Barat yang berpotensi melegitimasi operasi militer di Timur Tengah.
Bagi para orator, isu tersebut menyentuh prinsip yang lebih mendasar: politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi fondasi diplomasi Indonesia. Dalam perspektif mereka, keterlibatan Indonesia dalam forum yang dianggap berpihak pada kepentingan geopolitik Barat berpotensi menggerus independensi posisi Indonesia di panggung internasional.
Isu geopolitik global dan solidaritas Palestina kemudian bertemu dalam satu narasi yang sama: tuntutan keberpihakan terhadap bangsa yang tertindas.
Suara dari Kerumunan
Di tengah kerumunan massa, simbol-simbol solidaritas terlihat di berbagai sudut aksi. Bendera Palestina mendominasi pemandangan, namun di antara kerumunan juga berkibar bendera Republik Islam Iran dan bendera Hizbullah, mencerminkan solidaritas yang oleh para peserta dipahami sebagai bagian dari narasi perlawanan yang lebih luas terhadap Israel di kawasan Timur Tengah.
Di tengah kerumunan massa tersebut, orasi disampaikan secara bergantian oleh tokoh agama, aktivis pemuda, dan perwakilan mahasiswa.
Atmosfer aksi tetap tertib, namun penuh emosi. Takbir dan yel-yel kecaman terhadap Amerika Serikat dan Israel menggema berkali-kali di sekitar lokasi.

Dr. Tedi Kholiluddin dari Yayasan Pemberdayaan Komunitas (YPK) ELSA, yang merupakan transformasi dari Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA), menyebut kehadiran massa dalam aksi tersebut sebagai bagian dari sejarah solidaritas kemanusiaan.
“Kita semua berdiri di sini karena sedang menggariskan sejarah, bahwa kita bersama dalam kemanusiaan membela Palestina,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan belasungkawa atas kesyahidan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. “Amerika dan Israel mengira kesyahidan beliau merupakan akhir dari sejarah perlawanan. Namun kita sampaikan, perlawanan itu akan terus berlanjut. Siapkah kita?”
Menurutnya, perjuangan yang telah dilakukan para syuhada harus diteruskan oleh generasi berikutnya. “Kita berdiri mendukung apa yang telah dilakukan para syuhada dalam perjuangan membela kemanusiaan. Siapkah kita melanjutkan darah para syuhada?”
Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) ini juga menegaskan dukungan terhadap perjuangan Iran dan bangsa-bangsa yang dianggap tertindas. “Kita mendukung kemandirian dan perlawanan Iran serta bangsa-bangsa tertindas di dunia. Iran, Palestina, dan negara mana pun yang tertindas. Karena itu kita menolak pemerintah yang duduk bersama penjajah yang tergabung dalam BOP.”
Menurutnya, semangat perlawanan tersebut tidak akan padam. “Api perlawanan ini akan terus ada. Kita akan tetap turun ke jalan dan meneriakkan Free Palestine.”
Narasi Perlawanan Para Orator
Orator lain, Ustadz Lutfi Alidrus, menyatakan bahwa kesyahidan Sayyid Ali Khamenei justru memperkuat semangat perlawanan. “Syahadah Sayyid Ali Khamenei membuka mata dunia bahwa perlawanan tidak akan mati. Justru akan semakin bersinar dan semakin besar.”
Ia juga menyinggung kepemimpinan baru setelah wafatnya Khamenei. “Terpilihnya Sayyid Mujtaba sebagai penerus Sayyid Ali merupakan pukulan keras bagi musuh. Sholeh bada sholeh, orang saleh yang syahid akan digantikan oleh orang saleh lainnya.”
Salah satu orator lainnya, Zainab, menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh bersikap netral dalam menghadapi penjajahan. “Bangsa Indonesia tidak boleh netral ketika menghadapi penjajahan. Kita harus berpihak kepada bangsa yang tertindas.”
Ia juga menekankan pentingnya perlawanan di ruang digital. “Perlawanan saat ini bukan sekadar perlawanan senjata. Perlawanan narasi perlu dilakukan dengan berbagai cara, termasuk menggunakan media sosial.”
Sementara Haidar Aljufri menilai keikutsertaan Indonesia dalam BoP dapat menyeret Indonesia ke dalam blok kekuatan penjajahan. “Bergabungnya Indonesia dalam BoP akan menarik Indonesia ke dalam barisan penjajahan. Karena itu kami menolak keterlibatan pemerintah dalam forum yang digagas Donald Trump.”
Mohammad bin Syueb juga menyerukan kelanjutan perjuangan pembelaan terhadap Al-Quds. “Saya berharap perjuangan yang telah dilakukan Sayyid Ali Khamenei dan dilanjutkan Sayyid Mujtaba terus menjaga pembelaan terhadap Al-Quds. Teriakan ‘Mampus Amerika dan Zionis’ menggema di seluruh dunia.”
Sementara itu, Anisa menilai keikutsertaan Indonesia dalam BoP bertentangan dengan prinsip konstitusi. “Indonesia harus keluar dari BoP karena bertentangan dengan undang-undang. Dalam kasus Palestina tidak ada kata netral. Keberpihakan kepada Palestina merupakan nurani kemanusiaan.”
Mohammad Alhabsyi menambahkan bahwa kehadiran massa mencerminkan solidaritas kolektif. “Berkumpulnya kita adalah tanda kebersamaan dalam mendukung Palestina, menolak BoP, dan mendukung Iran melawan agresi Amerika dan Zionis.”
Selain orasi, peserta aksi juga menampilkan pembacaan puisi solidaritas untuk Palestina. Sebagai bentuk protes simbolik, massa membakar bendera Israel.
Pawai dan Pernyataan Sikap
Menjelang sore, massa bergerak dalam pawai menuju Kantor DPR di Semarang. Dalam rangkaian aksi tersebut, peserta menampilkan teatrikal politik yang menggambarkan kekejaman AS–Israel yang dinilai rakus dan terus menuntut korban sipil di Palestina serta kawasan Timur Tengah, terutama Iran.
Di depan gedung DPR, aksi kemudian ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap yang menegaskan bahwa Al-Quds bukan sekadar isu bagi kelompok tertentu, melainkan kompas moral bagi kemanusiaan dunia.
Peserta aksi menuntut penghentian segera pembersihan etnis di Gaza, pencabutan blokade bantuan kemanusiaan, serta penghentian pembatasan ibadah di Masjid Al-Aqsa.
Mereka juga menolak perluasan operasi militer di Jalur Gaza serta pembangunan permukiman ilegal di Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang dinilai bertujuan menghapus identitas Palestina secara permanen.
Selain itu, peserta aksi menolak segala bentuk normalisasi hubungan dengan otoritas pendudukan Israel, termasuk melalui forum internasional yang dinilai mengabaikan hak kemerdekaan Palestina seperti Board of Peace.
Aksi tersebut juga menyatakan solidaritas kepada Republik Islam Iran, yang dinilai konsisten menjaga semangat perjuangan Hari Al-Quds sejak digagas oleh Imam Khomeini.
Peserta turut mengecam agresi Amerika Serikat yang dinilai telah memperluas eskalasi konflik di kawasan serta mengutuk operasi militer Israel yang meluas ke berbagai wilayah Timur Tengah.
Delapan Poin Sikap
Dalam pembacaan pernyataan sikap yang dibacakan Sayyid Musthofa Al-Jufri, peserta menegaskan komitmen untuk terus menyuarakan perjuangan Palestina hingga bangsa tersebut meraih kemerdekaan penuh. “Kami tidak akan berhenti bersuara hingga Palestina berdaulat dari sungai hingga laut, dari Tepi Barat hingga Gaza.”
Melalui aksi tersebut, massa menyampaikan delapan poin sikap:
1. Menuntut penghentian segera pembersihan etnis di Gaza, pencabutan blokade bantuan kemanusiaan, serta penghentian pembatasan ibadah di Masjid Al-Aqsa.
2. Menolak perluasan operasi militer di Jalur Gaza serta pembangunan permukiman ilegal di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.
3. Menolak segala bentuk normalisasi hubungan dengan otoritas pendudukan Israel, termasuk melalui forum internasional seperti Board of Peace.
4. Mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat solidaritas terhadap Palestina melalui bantuan kemanusiaan, kampanye digital, dan gerakan boikot terhadap produk yang dinilai memiliki afiliasi dengan entitas pendudukan.
5. Menyatakan solidaritas dan apresiasi kepada Republik Islam Iran, yang dinilai konsisten menjaga semangat perjuangan Hari Al-Quds sejak digagas oleh Imam Khomeini.
6. Mengutuk agresi Amerika Serikat yang dinilai memicu eskalasi konflik di kawasan serta menewaskan Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.
7. Mengecam eskalasi militer Israel dan sekutunya yang meluas ke Lebanon dan Yaman serta menyatakan solidaritas kepada masyarakat di kedua negara tersebut.
8. Menilai Amerika Serikat sebagai aktor utama di balik konflik berkepanjangan di kawasan melalui dukungan militer dan perlindungan politik terhadap Israel.
Menjelang Magrib
Ketika langit Semarang mulai meredup dan azan magrib hampir berkumandang, massa perlahan membubarkan diri secara tertib. Suara takbir yang sejak siang bergema mulai mereda, digantikan suasana senja Ramadan yang kembali tenang.
Sebagai penutup acara, doa Wahdah dipimpin oleh Ustadz Ahmad Baraghbah. Bagi para peserta aksi, pertemuan di jalanan Semarang pada sore itu bukan semata-mata demonstrasi. Namun bagian dari gelombang solidaritas global yang setiap tahun kembali mengingatkan dunia pada satu isu yang belum selesai: masa depan Palestina.
Di berbagai kota dunia, Hari Al-Quds terus menjadi ruang bagi masyarakat sipil untuk menyuarakan kemerdekaan Palestina, serta mengkritik kebijakan militer Israel dan sekutunya di kawasan Timur Tengah. []
Laporan Muhlisin Turkan dan M Ali dari Semarang









