Kegiatan ABI
RKAT 2026 DPD ABI Kukar Prioritaskan Penguatan Organisasi dan Kemandirian Ekonomi
Tenggarong, 17 Februari 2026 — Dewan Pimpinan Daerah Ahlulbait Indonesia Kutai Kartanegara menetapkan arah kerja 2026 pada penguatan kapasitas pengurus, konsolidasi internal, penguatan ukhuwah islamiyah, serta kemandirian ekonomi organisasi. Agenda tersebut dirumuskan dalam Rapat Kerja Anggaran Tahun (RKAT) 2026 di Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar, Senin (16/2), pukul 13.00–17.30 Wita.
Kegiatan diikuti Ketua DPD ABI Kukar Mas’ud bersama jajaran pengurus periode 2025–2029. Ketua DPW ABI Kalimantan Timur Sayyid Thoriq Assegaff hadir melalui perwakilan Sekretaris DPW, Ahmad Fauzi.

Mas’ud mendorong seluruh pengurus menjalankan program secara konsisten dan terukur. “Mudah-mudahan kita semua bisa mengerjakannya dengan tulus ikhlas,” ucapnya dalam sambutan pembukaan.
Fauzi menyoroti pentingnya menjaga semangat perjuangan Ahlul Bait dalam setiap aktivitas organisasi. Kehadiran kader dinilai sebagai amanah yang harus dijaga. “Waktu yang luang dan kehendak untuk bergabung bersama merupakan limpahan rahmat. Maka pujian kepada Allah patut terus dipanjatkan agar kita tetap mendapat hidayah untuk menghidupkan gerakan Ahlul Bait,” ujarnya.
Dia juga menekankan kesiapan umat dalam menyambut kehadiran Imam Mahdi serta peran organisasi sebagai sarana pembinaan. “Salah satunya organisasi Ahlulbait Indonesia, didedikasikan sebagai sarana progresif untuk menyambut kehadiran Sang Imam,” katanya.
Pada sisi tata kelola, Fauzi mengingatkan pentingnya pemahaman sistem kepemimpinan organisasi. Perubahan nomenklatur dari Dewan Pengurus Daerah menjadi Dewan Pimpinan Daerah menegaskan karakter organisasi tertimpin.
“Sistem kita menegaskan organisasi tertimpin. Teman-teman adalah pemimpin sekaligus pelayan anggota. Karena itu disebut Dewan Pimpinan Daerah,” terangnya.
Keputusan strategis berada pada otoritas ketua DPD melalui koordinasi berjenjang. “Ketua DPD menyatakan tidak, maka tidak dilaksanakan. Ketua DPD menyatakan dilaksanakan, maka harus dijalankan. Jika muncul perbedaan pandangan, akan dikonsultasikan ke ketua DPW. Semua sudah dirancang dalam sistem koordinasi,” jelasnya.
Distribusi peran juga menjadi sorotan agar organisasi tidak bertumpu pada satu figur. “Organisasi harus membagi dan mendistribusikan peran. Semua tidak boleh bergantung pada satu orang,” tegasnya.
Fauzi menilai ABI memiliki posisi tawar kuat di tengah masyarakat dan perlu tampil lebih percaya diri. “Kita mempunyai bargaining position, posisi kuat di tengah masyarakat,” katanya.
Kader ABI Kukar didorong rutin berkumpul, berdiskusi, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Upaya tersebut diarahkan untuk melahirkan generasi tangguh dan berdaya saing. “Jangan meninggalkan generasi yang lemah. Generasi di bawah kita harus menjadi generasi yang kuat,” pesannya.
Keterbatasan, menurut Fauzi, tidak boleh menghentikan perjuangan organisasi. “Perjuangan berhenti saat kita mati. Bahkan setelah itu, nilai perjuangan harus tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi orang di sekitar,” ujarnya. [HMP/Tenggarong]
