Tokoh
Ayatullah Khamenei, Iftar dari Dapur, dan Para Tahanan
Ahlulbait Indonesia | 25 Februari 2026 – Azan Maghrib berkumandang. Hari pertama Ramadan. Pintu sel tetap tertutup.
Tidak ada hidangan. Tidak ada air. Tidak ada kurma. Hanya dinding dingin, tubuh lelah, dan perut kosong. Waktu berbuka lewat tanpa respons. Di kamp militer SAVAK, Ramadan tidak masuk hitungan.
Di ruang sempit itu, lapar berubah makna. Lapar bukan lagi hanya semata-mata rasa, melainkan ujian, batas, sekaligus cara menjaga martabat.
Kisah ini tercatat dalam kitab “Sharh-e-Ism“, karya Hedayatollah Behboudi, yang merekam perjalanan hidup Ayatullah Sayyid Ali Khamenei sejak masa kecil hingga fase perjuangan melawan rezim Pahlavi. Di antara catatan sejarah dan foto-foto, terselip satu fragmen kecil yang memperlihatkan daya tahan paling keras.
Penangkapan terjadi melalui penggerebekan mendadak di rumah keluarga di Mashhad. Buku-buku dirusak. Barang pribadi dihancurkan. Rumah diacak. Seorang ulama muda yang aktif dalam gerakan pencerahan Islam diborgol lalu dibawa menuju pusat penahanan. Seluruh aktivitas intelektualnya dipandang sebagai ancaman.
Di penjara militer, hidup disusun untuk melemahkan. Fasilitas minim. Pengawasan ketat. Atmosfer moral runtuh. Barang yang masuk diperiksa rinci, namun narkoba beredar bebas. Alkohol tidak sepenuhnya terlarang. Nilai dan disiplin spiritual terasa asing di ruang itu.
Ramadan datang dalam suasana demikian.
Sejak kecil, bulan suci telah membentuk batin. Kini Ramadan hadir di tempat yang dirancang untuk mematahkan kesadarannya. Lapar dan haus diterima sebagai disiplin jiwa. Ketika azan pertama berkumandang dan pintu sel tetap tertutup, ingatannya bergerak cepat.
Ingatan meja iftar keluarga muncul kembali. Halva maqout (manisan padat berbahan wijen yang kerap dicampur cokelat, pistachio, atau kacang-kacangan). Suara samovar (wadah logam tradisional untuk memanaskan dan merebus air teh). Teh hangat. Aroma masakan rumahan. Dan sosok yang paling kuat hadir dalam ingatan: Banu Khojasteh (Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh).
Setengah jam setelah azan, secangkir teh penjara tiba. Disusul makanan hambar. Ulama muda itu hanya makan sedikit. Sisanya disimpan untuk sahur. Yang dicari bukan kenikmatan, melainkan untuk daya tahan.
Baca juga : Imam Khomeini: Bapak Revolusi Islam
Keesokan hari, sipir penjara memanggilnya. Ada kiriman dari luar. Sebuah bungkusan.
Saat dibuka, barang di meja yang semalam hanya hidup dalam ingatan kini hadir nyata. Masakan rumahan. Teh. Kehangatan. Bukan semata-mata hidangan, melainkan pesan yang menembus tembok.
Banu Khojasteh tidak semata-mata mengirim makanan. Ia menjaga garis Perlawanan.
Di tengah sistem yang ingin mengisolasi, hubungan tetap dirawat. Di tengah mekanisme yang berusaha memutus relasi, kesinambungan dijaga. Iftar itu menjadi bentuk spiritual resistance. Politik sunyi yang tidak mencari sorotan, tetapi menolak tunduk.
Teh kiriman membuatnya tidak lagi bergantung pada teh sersan. Detail kecil, makna besar. Ketergantungan dipatahkan. Martabat dipulihkan.
Ulama muda itu makan secukupnya. Perut terasa sakit. Sisanya dibagikan kepada para tahanan lain. Iftar itu berubah menjadi solidaritas. Kiriman keluarga menjelma menjadi energi bersama.
Hari-hari berikutnya, kebiasaan itu berulang, dan terus berulang.
Beberapa hari sebelum Ramadan, diskusi tentang akhirat dan tanggung jawab hidup sempat berlangsung di antara para tahanan. Nasihat ulama muda itu membelah mereka menjadi dua: yang siap berpuasa dan yang ragu. Hari pertama banyak yang bertahan. Hari kedua sebagian menyerah sebelum tengah hari. Lingkungan penjara tidak mendukung ketakwaan. Disiplin spiritual menjadi perjuangan personal.
Ramadan kedua di penjara dijalani dengan kesadaran penuh. Al-Quran dibaca. Doa dan dzikir dihidupkan. Pada malam Idul Fitri, salat panjang ditegakkan. Surah Tauhid dibaca berulang dalam rakaat pertama setelah Al-Hamd. Penjara gagal menguasai batin mereka.
Revolusi tidak selalu lahir di jalan atau mimbar. Revolusi tumbuh di dapur, di ruang doa, di tangan yang bekerja tanpa sorotan.
Banu Khojasteh berdiri di titik itu. Bukan hanya pendamping hidup, melainkan aktor perjuangan. Penjaga kesinambungan. Penghubung antara dunia yang ingin memenjarakan dan dunia yang tetap hidup di luar tembok. Masakan rumahan berubah menjadi logistik moral.
Iftar di penjara tidak lagi hanya makanan berbuka. Iftar menjadi bahasa ketahanan, bahasa keyakinan, bahasa Perlawanan.
Sebuah rezim dapat merusak rumah, menyita buku, dan mengunci pintu sel. Namun ada hal yang tak bisa disentuh, keyakinan yang dipelihara, relasi yang dijaga, serta keberanian untuk tetap berbagi saat diri sendiri kekurangan.
Di ruang sempit itu, sepiring makanan berubah menjadi pernyataan dan sikap bersama.
Iman tidak tunduk. Kasih sayang tidak terputus. Perjuangan tidak berhenti. Keyakinan tidak bisa dipenjara. [HMP/MT]
Baca juga : Sosok Agung Imam Khomeini
