Khasanah Islam
Ketua Umum ABI Ustadz Zahir Yahya: Kesiapan Sambut Imam Mahdi Bersifat Kolektif
Jakarta, 4 Februari 2026 — Ketua Umum Ahlulbait Indonesia (ABI) Ustadz Zahir Yahya menekankan kesiapan umat menyambut kemunculan Imam Mahdi a.f.s perlu dibangun melalui penguatan organisasi, tatanan sosial, dan ketahanan ekonomi komunitas. Ustadz Zahir menilai kesiapan tidak cukup berhenti pada kesalehan individu, melainkan harus hadir sebagai kesiapan kolektif.
Penekanan itu disampaikan dalam rapat reguler pengurus Dewan Pimpinan Pusat ABI (DPP ABI) di kantor pusat ABI, 3 Februari 2026, yang menjadi bagian dari refleksi peringatan Milad Imam Mahdi.
“Imam tidak hadir lalu menyelesaikan semua persoalan umat secara otomatis. Kesiapan umat harus dibangun,” kata Ustadz Zahir di hadapan jajaran pengurus.
Nisfu Sya’ban jadi momentum pembenahan
Dalam sambutannya, Ustadz Zahir mengingatkan keutamaan malam Nisfu Sya’ban sebagai momentum pembenahan spiritual. dan menyebut sebagai kesempatan besar bagi umat untuk memperkuat komitmen dan memperbaiki arah hidup.
Ustadz Zahir turut menyinggung pertanyaan yang kerap muncul ketika dunia Islam menghadapi tekanan dan konflik: kapan Imam Mahdi hadir di tengah umat? Dalam penjelasan beliau, situasi berat sering melahirkan harapan baru dan mendorong umat membaca peristiwa-peristiwa besar dengan perhatian lebih intens.
Sejumlah perkembangan disebut sebagai dinamika yang menjadi perhatian publik, antara lain kondisi Suriah, syahidnya Sayyid Hasan Nasrullah, serta situasi terkini yang berkaitan dengan Iran.
Beliau menyampaikan, sebagian ulama mengaitkan fenomena tersebut dengan kemungkinan tanda-tanda kemunculan Imam Mahdi. Namun, Ustadz Zahir mengingatkan agar pembacaan atas peristiwa politik tetap disikapi secara hati-hati dan tidak ditarik pada kesimpulan spekulatif.
“Yang jelas, kemunculan Imam terjadi ketika umat menghendaki dan siap,” ujar beliau.
Kemunculan Imam tidak dipaksakan
Ustadz Zahir merujuk doa faraj yang memuat frasa “hatta tuskinahu ardhaka thaw’an”. Beliau menafsirkan frasa itu sebagai penegasan bahwa kemunculan Imam Mahdi berlangsung dalam kondisi penerimaan umat secara sukarela.
Menurut Ustadz Zahir, pola tersebut sejalan dengan sikap para Imam Ahlul Bait yang tidak memaksakan kepemimpinan kepada umat. Kepemimpinan hadir ketika umat menyiapkan diri dan memiliki kesiapan untuk dipimpin.
Beliau juga menepis anggapan masa ghaibah sebagai periode pasif. Menurutnya, fase ghaibah justru menjadi ruang penyiapan umat. Pembimbingan dilakukan melalui mekanisme yang telah digariskan, termasuk rujukan kepada ulama yang memenuhi kriteria tertentu.
“Imam menyiapkan umat, dan umat menyiapkan dirinya,” tutur beliau.
Dalam bagian lain, Ustadz Zahir menegaskan kesalehan individu merupakan unsur penting, namun belum cukup untuk menyambut kepemimpinan Imam Mahdi. Beliau menilai kemunculan Imam menuntut kesiapan masyarakat yang berwilayah, termasuk sistem sosial yang tertata, solidaritas yang kuat, serta kekuatan komunitas.
Ditambahkannya, kepemimpinan Ilahiah memerlukan basis sosial yang siap dan matang. Karena itu, pembinaan personal perlu diperluas menjadi pembentukan sistem yang lebih kokoh.
Imam Mahdi tidak datang dengan pola “mukjizat dan instan”
Ustadz Zahir menekankan Imam Mahdi tidak hadir untuk menyelesaikan persoalan umat secara instan tanpa proses. Menurut beliau, jika seluruh persoalan dituntaskan tanpa kesiapan umat, maka tidak ada alasan kemunculan Imam menunggu berabad-abad.
Beliau mengingatkan pelajaran sejarah para Imam Ahlul Bait yang menghadapi tragedi ketika umat tidak memiliki kesiapan dukungan dan perlindungan. Peristiwa Karbala dan pengalaman Imam Musa al-Kazhim disebut sebagai contoh pentingnya kekuatan sosial umat.
“Sejarah para Imam menunjukkan, kebenaran memerlukan pembela, kesiapan, dan kekuatan,” ujar Ustadz Zahir.
Stabilitas kawasan disorot sebagai faktor keamanan
Di bagian akhir, Ustadz Zahir menyinggung stabilitas kawasan sebagai faktor strategis. Beliau menyampaikan, dalam sejumlah riwayat, kemunculan Imam Mahdi dikaitkan dengan wilayah Baitullah dan kawasan sekitarnya, sehingga keamanan dan stabilitas kawasan dinilai penting.
Dalam konteks itu, Ustadz Zahir menyinggung Iran sebagai pihak yang berperan dalam ketahanan kawasan dan menghadapi instabilitas yang, menurut beliau, dipengaruhi proyek zionisme. Isu Palestina, dalam pembacaan beliau, terkait agenda yang lebih luas dalam menjaga stabilitas kawasan.
Penekanan untuk Komunitas
Menutup sambutannya, Ustadz Zahir menegaskan pentingnya kesiapan komunitas untuk bergerak lebih solid melalui penguatan organisasi, tatanan ekonomi komunitas, serta infrastruktur sosial.
“Kita tidak bisa menyerahkan semuanya kepada Imam tanpa kesiapan yang baik sebelumnya,” kata Ustadz Zahir.
Rapat reguler DPP ABI tersebut menjadi bagian dari rangkaian konsolidasi organisasi, sekaligus forum penguatan orientasi gerakan komunitas di tengah dinamika dunia Islam yang terus berkembang. [HMP/ABI]
