Opini
Trump dan Ilusi Pergantian Kepemimpinan Iran
Ahlulbait Indonesia, 22 Januari 2026 — Sejarah modern tampaknya memiliki rumus baku untuk mengganti pemerintahan sebuah negara. Tekan ekonominya, tunggu rakyat marah, lalu siapkan kamera. Jika tahap terakhir berjalan mulus, sisanya dianggap hanya urusan narasi. Dalam kasus Iran, rumus itu kembali dicoba dan kembali gagal, dengan cara yang nyaris ironis.
Demonstrasi memang terjadi. Harga naik, mata uang tertekan, dan kehidupan tidak sedang ramah. Semua itu fakta. Namun di balik fakta tersebut, tumbuh keyakinan lama bahwa penderitaan ekonomi otomatis berarti kesiapan revolusi. Keyakinan ini dipercaya begitu dalam, hingga tidak lagi merasa perlu memastikan apakah rakyat benar-benar ingin memainkan peran yang telah disiapkan.
Agen-agen asing pun turun ke lapangan dengan slogan yang terdengar lebih cocok untuk poster kampanye ketimbang jalanan. Setiap teriakan anti-pemerintah direkam, dipotong rapi, lalu diserahkan kepada influencer dengan jutaan pengikut agar dunia diyakinkan bahwa yang sedang terjadi bukan protes biasa, melainkan revolusi. Ditambahkan pula detail dramatis bahwa Ayatullah Sayyid Ali Khamenei konon sedang menyiapkan rencana pelarian. Narasi ini sangat sinematik, meski tidak pernah terlihat dalam kenyataan.
Media internasional menyambut cerita tersebut dengan antusiasme yang nyaris seragam. Semua tampak spontan, organik, dan penuh harapan. Inflasi, sanksi, dan tekanan struktural jangka panjang cukup disebut sekilas. Dalam cerita besar semacam ini, sebab dianggap tidak sepenting sensasi.
Masalahnya, rakyat Iran ternyata tidak membaca naskah yang sama.
Alih-alih membesar, demonstrasi justru menyusut. Jalan-jalan kembali dipenuhi rutinitas, toko-toko buka seperti biasa, dan perjalanan antarkota berlangsung lancar. Negara yang diberitakan lumpuh ternyata masih sempat menjalani hari-harinya. Realitas lapangan kembali menunjukkan kebiasaan lamanya yang menjengkelkan bagi para perancang skenario, yakni tidak patuh pada narasi.
Ketika massa tidak kunjung datang, strategi pun disesuaikan. Aksi dipindahkan ke lokasi yang lebih sepi, dengan jumlah peserta yang lebih realistis. Produksi konten ditingkatkan. Wajah-wajah rupawan ditampilkan sebagai korban kebrutalan aparat, meski sebagian masih hidup dan sebagian lainnya berasal dari dunia hiburan negara lain. Saat dokumentasi asli tidak mencukupi, kecerdasan buatan (AI) dan arsip lama hadir sebagai solusi kreatif.
Pada titik ini, demonstrasi perlahan kehilangan makna protes dan berubah menjadi intimidasi. Aparat diserang, warga ditekan, dan fasilitas publik dirusak. Seruan Reza Pahlavi untuk aksi besar serentak pada Kamis malam (8/1/25) menjadi puncak dramatik yang sunyi. Yang hadir tetap kelompok yang sama, tanpa rakyat yang dijanjikan.
Kemudian internet diputus. Di luar negeri, langkah ini dibaca sebagai represi. Di lapangan, keputusan tersebut justru membuka bab baru. Tanpa koordinasi digital, kelompok perusuh kehilangan arah. Aksi menjadi brutal dan tidak terkontrol. Pada saat yang sama, aparat keamanan memilih disiplin ekstrem. Tidak ada tembakan, tidak ada senjata api yang digunakan, meski provokasi berlangsung tanpa henti.
Baca juga : Dari Aktivis LSM ke Otoritas Negara: Konsensus Media Global dalam Membingkai Kerusuhan Iran
Keputusan ini berujung tragis. Sejumlah aparat tewas akibat serangan brutal. Di sinilah sarkasme sejarah bekerja dengan tenang. Kamera pengawas tidak mengenal propaganda. Rekaman CCTV menampilkan apa adanya: pembakaran masjid, perusakan mobil warga, dan penyerangan fasilitas umum. Televisi nasional menayangkan rekaman tersebut berulang kali.
Simpati publik pun berbelok. Klaim media luar tentang ribuan korban akibat kebrutalan aparat terdengar janggal bagi masyarakat yang setiap malam menyaksikan tayangan berbeda. Tidak ada satu pun video aparat menembak demonstran. Yang terlihat justru dokumentasi rapi kebrutalan para perusuh.
Babak akhir datang dari arah yang tidak terduga. Perangkat Starlink yang semula dianggap jalur bebas pengawasan justru berubah menjadi penunjuk lokasi. Ketika internet nasional lumpuh dan hanya Starlink yang aktif, koordinat para agen terbaca jelas. Penangkapan berlangsung cepat dan disiarkan ke publik, lengkap dengan barang bukti berupa senjata, alat spionase, dan perangkat komunikasi canggih.
Setelah itu, jutaan rakyat Iran turun ke jalan. Bukan untuk menggulingkan pemerintah, melainkan untuk mengecam kerusuhan dan menyatakan dukungan kepada negara. Aparat yang sebelumnya digambarkan sebagai algojo kini dipandang sebagai penjaga keamanan. Narasi besar runtuh tanpa perlu dibantah, cukup dengan diperlihatkan.
Di luar negeri, Donald Trump yang tergopoh-gopoh kembali melontarkan ancaman tentang pergantian kepemimpinan dan penghapusan Revolusi Iran dari peta. Pernyataan tersebut terdengar keras, namun dalam konteks ini lebih menyerupai gema dari rencana yang keliru sejak awal.
Pelajaran dari peristiwa ini sebenarnya sangat sederhana, bahkan nyaris memalukan untuk terus diulang. Revolusi tidak dapat diproduksi seperti konten media sosial yang dipesan, dikemas, lalu dilepas ke publik atas nama perubahan. Rakyat Iran bukan properti narasi yang bisa diperlakukan sebagai komoditas digital oleh Trump dan para pendukungnya. Sejarah tidak bekerja mengikuti jadwal kampanye, tidak tunduk pada algoritma, dan tidak mengenal loyalitas pada kesombongan politik. Sejarah hanya sabar, lalu kejam ketika saatnya tiba.
Kesalahan para agen-agen asing didikan CIA dan Mossad bukan terletak pada kurangnya tekanan, melainkan pada ilusi bahwa tekanan itu sendiri sudah cukup. Trump dan lingkaran pendukungnya tampak begitu yakin bahwa penderitaan ekonomi akan otomatis berubah menjadi kebencian politik, dan kebencian politik akan patuh diarahkan ke tujuan yang diinginkan. Yang luput dipahami adalah satu hal mendasar, bahwa rakyat Iran mungkin sedang tertekan, tetapi tidak sedang kehilangan akal sehatnya.
Realitas pun menolak patuh. Alih-alih runtuh, negara Mullah itu justru mengeras. Alih-alih tercerai, masyarakatnya mengerutkan barisan. Dan alih-alih memproduksi revolusi, skenario besar tersebut hanya menghasilkan satu hal yang konsisten, yakni kegagalan yang berulang, dibungkus keyakinan diri yang tidak pernah belajar.
Pada akhirnya, bukan Revolusi Islam Iran yang terhapus dari peta, melainkan asumsi-asumsi Trump dan kroni-kroninya sendiri. Yang tersisa hanyalah gema ancaman yang kian memudar, narasi yang kehilangan penonton, dan catatan panjang tentang bagaimana kesombongan geopolitik kembali dikalahkan oleh satu kekuatan yang selalu diremehkan, yaitu tekad rakyat Iran yang menolak untuk diarahkan layaknya komoditas dagangan. [HMP]
Baca juga : #Podcast | Apa yang Sebenarnya Terjadi di Iran: Ayatulah Ali Khamenei Akan Kabur ke Rusia?
