Ikuti Kami Di Medsos

Jurnal

Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Irfani Samarinda Perluas Gerakan Literasi, dari Anak-anak hingga Disabilitas

Published

on

TBM Irfani Samarinda mengembangkan budaya literasi lewat program membaca, literasi digital, pelatihan, pameran buku, dan kegiatan inklusif berbasis komunitas. (Dok. ABI)

Laporan Monev Menengah 2025 mencatat TBM Irfani Samarinda mengembangkan budaya baca melalui program inklusif, literasi digital, pelatihan keterampilan, pameran buku, dan kolaborasi budaya di ruang publik

Jakarta, 01 April 2026 — Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Irfani Samarinda terus memperluas gerakan literasi di tengah masyarakat melalui program membaca, pelatihan, literasi digital, hingga kegiatan inklusif bagi penyandang disabilitas. Di tengah rendahnya minat baca dan terbatasnya akses literasi di tingkat komunitas, TBM ini berkembang bukan hanya sebagai ruang baca, tetapi juga sebagai ruang belajar warga yang aktif, adaptif, dan berbasis kebutuhan masyarakat.

Gambaran itu tercantum dalam laporan “Meningkatkan Budaya Literasi melalui Taman Bacaan Masyarakat Irfani Samarinda” yang disusun oleh Sri Rahayuningtiyas dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Menengah Departemen Pendidikan Kader Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia 2025, dengan pembimbing Vita Wardhana, S.S., M.Pd. Dokumen tersebut memotret bagaimana TBM Irfani membangun literasi melalui pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari warga.

Dalam laporan itu, TBM Irfani menegaskan perannya tidak berhenti pada aktivitas membaca semata, tetapi juga menjadi jembatan antara masyarakat dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, dan pendidikan sosial. Visi yang diusung adalah membangun generasi yang cerdas, mampu membaca realitas, dan bijak dalam merespons kehidupan.

“Taman Bacaan Masyarakat sebagai rumah belajar yang dekat dan berperan aktif dengan masyarakat,” tulis laporan tersebut.

Membumikan Budaya Baca di Ruang Sehari-hari

Salah satu kekuatan TBM Irfani terletak pada cara mereka membangun kebiasaan membaca secara kontekstual. Aktivitas membaca tidak dibatasi di ruang tertutup atau rak buku, melainkan dibawa ke ruang yang akrab dengan kehidupan anak-anak dan warga, termasuk area terbuka dan lapangan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa literasi bisa tumbuh lebih efektif ketika hadir di lingkungan yang dekat, santai, dan tidak berjarak.

Dokumentasi dalam laporan menunjukkan anak-anak membaca buku di dalam ruangan, di luar ruangan, hingga di lapangan bola. Ada pula kegiatan membaca buku pembiasaan karakter untuk anak sekolah dasar. Pola ini memperlihatkan bahwa TBM Irfani tidak sekadar menyediakan koleksi bacaan, tetapi juga membentuk kebiasaan membaca sebagai bagian dari kehidupan sosial sehari-hari.

Sepanjang 2025, TBM Irfani menyusun sejumlah program kerja yang mencakup berbagi buku, berbagi informasi melalui WhatsApp, pameran buku, praktik menulis resensi, kunjungan ke TBM dan perpustakaan, serta pentas seni angklung. Program-program tersebut menyasar anggota TBM dan masyarakat umum dengan tujuan memperluas akses pengetahuan dan memperkuat budaya baca di lingkungan komunitas.

Dalam dokumen itu, salah satu tujuan utama yang dirumuskan adalah menambah wawasan, kreativitas, dan minat baca masyarakat. Rumusan ini kemudian diterjemahkan ke dalam aktivitas yang bersifat langsung, partisipatif, dan tidak berhenti pada pendekatan seremonial.

Dukungan terhadap tujuan tersebut juga tampak dari ragam koleksi yang dimiliki TBM Irfani, mulai dari buku anak, buku pendidikan, buku budaya, buku agama, hingga bahan bacaan untuk guru dan orang tua. Variasi ini menunjukkan upaya TBM Irfani menjangkau pembaca lintas usia dan latar belakang kebutuhan.

Literasi Inklusif dan Digital sebagai Arah Pengembangan

Ciri menonjol lain dari TBM Irfani adalah upaya mereka membangun literasi yang inklusif. Dalam laporan tersebut, TBM Irfani mendokumentasikan pendampingan bagi anak berkebutuhan khusus, termasuk pemanfaatan perangkat digital untuk mendukung proses belajar dan komunikasi. Salah satu bagian laporan mencatat bagaimana seorang anak dengan cerebral palsy difasilitasi agar dapat berinteraksi melalui media digital seperti WhatsApp, Facebook, dan Instagram.

TBM Irfani juga menggelar pelatihan huruf Braille yang melibatkan guru dan murid tunanetra untuk mahasiswa KKN Universitas Mulawarman. Kegiatan ini menegaskan bahwa akses terhadap literasi tidak diposisikan secara eksklusif, tetapi diarahkan agar menjangkau kelompok yang selama ini kerap berada di pinggir akses pendidikan dan informasi.

Komitmen itu juga tercermin dalam koleksi bahan bacaan mereka, yang mencakup Al-Qur’an huruf Braille, buku bahasa isyarat, serta buku bertema anak berkebutuhan khusus dan pendidikan inklusif. Kehadiran koleksi semacam ini menunjukkan upaya TBM Irfani untuk menjadikan ruang baca lebih terbuka dan ramah bagi berbagai kelompok pembaca.

Selain literasi inklusif, TBM Irfani juga mengembangkan literasi digital sebagai bagian dari adaptasi terhadap perubahan pola belajar masyarakat. Laporan mencatat adanya pelatihan membuat blog, pemanfaatan Zoom, YouTube, Instagram, dan grup WhatsApp untuk menyebarkan materi pembelajaran serta peningkatan kapasitas anggota Forum TBM. Kanal digital ini digunakan untuk memperluas jangkauan pengetahuan di luar ruang fisik TBM.

Dokumen tersebut juga menegaskan perlunya transformasi layanan literasi.

“Sudah seharusnya TBM mulai membenahi sistem pelayanan yang sebelumnya masih manual, menjadi sistem komputerisasi,” tulis laporan itu.

Penegasan ini menunjukkan kesadaran bahwa penguatan budaya literasi tidak cukup hanya dengan menambah koleksi, tetapi juga membutuhkan pembaruan cara mengelola dan mendistribusikan pengetahuan.

Pengembangan literasi di TBM Irfani juga diarahkan ke aspek keterampilan hidup. Salah satu program yang dijalankan adalah pelatihan pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO) bekerja sama dengan UPTD Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur bagi mahasiswa Universitas Mulawarman yang tengah menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN). Program ini memperluas makna literasi sebagai kemampuan memahami dan mempraktikkan pengetahuan dalam kehidupan nyata.

Menghubungkan Literasi dengan Budaya dan Jejaring Publik

TBM Irfani juga aktif membawa gerakan literasi ke ruang publik melalui pameran, kolaborasi budaya, dan penguatan jejaring kelembagaan. Langkah ini penting karena budaya baca tidak tumbuh hanya dari ruang internal komunitas, tetapi juga dari kehadirannya di ruang sosial yang lebih luas.

Dalam laporan disebutkan, TBM Irfani ikut ambil bagian dalam pameran buku yang diselenggarakan DKP3A Kalimantan Timur, dengan menampilkan buku bertema pendidikan, budaya, Braille, bahasa isyarat, dan disabilitas. TBM ini juga tercatat menerima penghargaan sebagai salah satu stand pameran terbaik.

Partisipasi lain juga terlihat dalam Samarinda Cultural Festival 2025, saat TBM Irfani menampilkan buku-buku bertema bahasa daerah, sejarah Indonesia, seni budaya, biografi, dan literatur umum lainnya. Kehadiran mereka di festival ini memperlihatkan bahwa literasi dapat berperan sebagai medium pelestarian budaya lokal sekaligus penguatan identitas sosial masyarakat.

Aspek budaya tersebut diperkuat melalui kolaborasi dengan Perhimpunan Penggiat Angklung Indonesia Kalimantan Timur. Bersama mitra tersebut, TBM Irfani menjalankan program pelestarian lagu-lagu perjuangan dan lagu daerah. Dalam laporan, program ini ditempatkan sebagai bagian dari upaya mencintai tanah air, yang menggabungkan literasi, seni, dan pendidikan karakter dalam satu rangkaian kegiatan.

Dalam aspek kelembagaan, TBM Irfani juga memperlihatkan penguatan jejaring yang cukup luas. Laporan mencatat adanya kerja sama dengan sesama TBM, perpustakaan sekolah dan kelurahan, perguruan tinggi, komunitas, hingga instansi pemerintah. Salah satu capaian penting yang terdokumentasi adalah keterlibatan TBM Irfani dalam program Praktik Baik Pemanfaatan 1000 Buku dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Selain itu, TBM Irfani juga mencatat penandatanganan MoU dengan Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda.

Dukungan terhadap penguatan koleksi juga datang dari sektor swasta. TBM Irfani tercatat menjadi salah satu penerima donasi buku dari Gramedia Lembuswana Samarinda serta mengikuti program Gerakan Berbagi Buku Kompas 2025. Tambahan koleksi ini memperkuat kapasitas layanan TBM yang selama ini berkembang dari basis komunitas dan pengelolaan swadaya.

Secara keseluruhan, laporan Monev 2025 menunjukkan TBM Irfani Samarinda berkembang sebagai ruang literasi yang aktif, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Di tengah tantangan rendahnya minat baca dan perubahan pola belajar generasi muda, model gerakan seperti ini memperlihatkan bahwa literasi dapat dibangun secara dekat, adaptif, dan berkelanjutan dari tingkat komunitas. []

Continue Reading