Jurnal
PERMABI: Khidmat Sosial sebagai Jalan Sunyi Merawat Persatuan
Dari Masjid ke Infrastruktur Desa, dari Klarifikasi Isu ke Rekonsiliasi Sosial
Jakarta, 19 Februari 2026 – Di tengah dinamika masyarakat Indonesia yang majemuk dan kerap diwarnai kesalahpahaman antar kelompok, kerja sosial tampil sebagai bahasa publik yang paling jernih dan mudah diterima. Pada ruang inilah PERMABI (Perduli Masjid Ahlulbait Indonesia) menempatkan kiprahnya, bukan sebagai pengusung wacana, melainkan pelaksana aksi nyata. Selama lebih dari satu dekade, organisasi ini mengembangkan model pelayanan berbasis masjid yang menjangkau kebutuhan riil masyarakat: kebersihan lingkungan, pembangunan infrastruktur, perbaikan hunian, penyediaan air bersih, hingga respons kebencanaan.
Tulisan ini disusun oleh Rustandi Diantoro, peserta Monitoring dan Evaluasi Pendidikan Tingkat Menengah, dengan bimbingan Ustadz Muhammad Jawad selaku Ketua Departemen Kaderisasi DPP ABI, serta pendampingan pemonev Muhammad Haidar Ali Asghar. Tema yang diangkat adalah “Layanan Khidmat Sosial PERMABI sebagai Sarana Klarifikasi terhadap Beragam Isu dan Memperkuat Persatuan Bangsa.”
Laporan ini merekam rangkaian kegiatan PERMABI sekaligus menegaskan bahwa kerja sosial dijadikan sebagai strategi untuk memperkuat persatuan masyarakat dan mereduksi stigma yang kerap dialamatkan kepada komunitas Syiah di Indonesia. Alih-alih merespons melalui perdebatan ideologis, pendekatan yang dipilih bersifat praktis dan konstruktif: hadir di tengah masyarakat, bekerja bersama warga, dan memberikan manfaat nyata yang dirasakan secara langsung.
Masjid sebagai Episentrum Pelayanan Sosial
Sejak berdiri pada 2010, PERMABI menempatkan masjid sebagai pusat aktivitas sosial masyarakat, bukan semata ruang ibadah ritual. Orientasi ini diwujudkan melalui berbagai kegiatan, mulai dari bersih-bersih masjid, perawatan fasilitas, hingga pemberdayaan komunitas di sekitarnya. Dalam rentang 2010–2024, sedikitnya 652 kegiatan kebersihan dilaksanakan di sekitar 134 masjid di wilayah Bogor dan Garut.
Sepanjang tahun 2024, tercatat 28 kegiatan khidmat sosial yang tersebar di 25 kampung pada lima desa dan tiga kecamatan di Kabupaten Garut. Kegiatan tersebut mencakup perawatan rutin masjid hingga renovasi fasilitas yang mendukung aktivitas sosial dan keagamaan masyarakat.
Pendekatan ini menegaskan posisi masjid bukan hanya sebagai ruang ibadah, tetapi sebagai pusat solidaritas sosial, titik koordinasi kegiatan kemasyarakatan, serta ruang pertemuan warga lintas latar belakang.
Baca juga : Usai Wawancarai Dubes AS, Jurnalis Tucker Carlson Ditahan Otoritas Israel
Ekspansi Khidmat: Infrastruktur, Hunian, dan Akses Air Bersih
Gerakan PERMABI kemudian berkembang melampaui lingkungan masjid. Sejak 2015, organisasi ini terlibat dalam pembangunan dan perawatan infrastruktur desa, mulai dari jalan produksi perkebunan hingga fasilitas umum yang menunjang mobilitas dan kesejahteraan masyarakat.
Beberapa capaian penting meliputi pembangunan jalan produksi sepanjang sekitar tiga kilometer, pengecoran jalan poros desa, serta pembangunan jalan penghubung antar kampung. Pada 2024, kegiatan perawatan fasilitas umum dilaksanakan sebanyak 33 kali, mencakup pembersihan Tempat Pemakaman Umum (TPU), jalan desa, hingga saluran irigasi yang berdampak pada sekitar 20 hektar lahan pertanian.
Program-program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi dengan warga, aparat desa, serta unsur TNI dan kepolisian. Sinergi ini memperkuat kerja kolektif di tingkat lokal sekaligus menegaskan bahwa khidmat sosial merupakan ruang perjumpaan berbagai elemen masyarakat dalam semangat gotong royong.
Pada sektor pemenuhan kebutuhan dasar, PERMABI menginisiasi program pengadaan sarana air bersih sejak 2020. Hingga 2024, sembilan proyek pembangunan sumur, instalasi pipanisasi, dan penyediaan tandon air telah direalisasikan di enam desa, memberikan manfaat langsung kepada sekitar 400 kepala keluarga. Program ini dirancang tidak sekadar sebagai bantuan sesaat, melainkan sebagai solusi berkelanjutan yang menopang kesehatan dan produktivitas warga.
Selain itu, sejak 2019 PERMABI menjalankan program pembangunan dan renovasi rumah bagi masyarakat prasejahtera. Sebanyak 25 unit rumah telah dibangun atau diperbaiki melalui berbagai skema, mulai dari pembangunan penuh, renovasi struktural, hingga dukungan dana dan tenaga kerja. Sasaran utama program ini adalah lansia, keluarga kurang mampu, serta warga yang tinggal di hunian tidak layak.
Bagi para penerima manfaat, intervensi tersebut tidak hanya meningkatkan kualitas fisik tempat tinggal, tetapi juga memulihkan rasa aman, martabat, dan optimisme untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
Komitmen sosial PERMABI juga tercermin dalam respons terhadap situasi darurat. Sejak 2016, dimulai dari penanganan banjir bandang di Garut, organisasi ini aktif dalam kegiatan pascabencana. Hingga 2024, tercatat 12 kegiatan bantuan kebencanaan dengan fokus pada distribusi logistik, pembersihan wilayah terdampak, serta pemulihan fasilitas umum.
Pada masa pandemi COVID-19, PERMABI turut berkontribusi melalui penyemprotan disinfektan di masjid dan fasilitas umum, serta distribusi masker, alat pelindung diri (APD), dan bantuan pangan kepada warga terdampak. Seluruh kegiatan dilaksanakan dalam koordinasi dengan dinas kesehatan, aparat pemerintah, dan unsur keamanan setempat. Sinergi ini menegaskan orientasi kerja yang terintegrasi dan bertanggung jawab.
Baca juga : Ketua ABI Jatim Sambut Ramadhan: Dunia dan Akhirat Hanya Milik Orang Bertakwa
Pelayanan Inklusif dan Rekonsiliasi Sosial
Salah satu dimensi strategis gerakan PERMABI adalah perannya sebagai medium klarifikasi sosial terhadap stigma yang kerap diarahkan kepada komunitas Syiah. Dalam berbagai konteks lokal, isu sektarian sering berkembang tanpa landasan faktual yang memadai.
PERMABI memilih merespons melalui praktik pelayanan yang terbuka dan inklusif: membersihkan masjid umum, memperbaiki jalan desa, menyediakan air bersih, serta membantu korban bencana tanpa membedakan latar belakang agama maupun mazhab. Pendekatan ini melahirkan apa yang dapat disebut sebagai klarifikasi berbasis pengalaman, perubahan persepsi yang tumbuh dari interaksi langsung masyarakat, bukan dari retorika atau kampanye.
Dampaknya tercermin dalam berbagai testimoni aparat pemerintah dan warga yang menilai kegiatan PERMABI sebagai kontribusi nyata dan inspiratif bagi generasi muda serta komunitas lokal.
Kerja sosial PERMABI tidak berhenti pada penyelesaian persoalan teknis. Ia menghadirkan ruang perjumpaan sosial, gotong royong, musyawarah, dan kolaborasi lintas kelompok yang mempertemukan warga, tokoh agama, aparat desa, dan relawan dalam satu tujuan bersama.
Dalam konteks tersebut, masjid kembali berfungsi sebagai pusat komunitas: bukan semata ruang ibadah, melainkan ruang kolektif untuk membangun solidaritas dan merawat komitmen kebangsaan.
Pendekatan ini relevan dengan realitas Indonesia kontemporer, di mana polarisasi sosial kerap dipicu oleh perbedaan identitas. Pengalaman menunjukkan bahwa kerja nyata yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat lebih efektif membangun kepercayaan publik dibandingkan perdebatan ideologis yang berlarut-larut.
Dari Aksi ke Kepercayaan Publik: Tantangan dan Prospek
Meskipun menunjukkan capaian yang signifikan, gerakan sosial seperti PERMABI tetap menghadapi sejumlah tantangan struktural. Keterbatasan sumber daya, kebutuhan akan profesionalisasi tata kelola organisasi, serta meningkatnya tuntutan transparansi dan akuntabilitas publik menjadi agenda yang tidak dapat diabaikan. Konsistensi pelayanan harus diimbangi dengan penguatan manajemen, dokumentasi dampak, serta sistem evaluasi yang terukur.
Ke depan, replikasi model khidmat sosial berbasis masjid di berbagai daerah merupakan peluang strategis. Dengan memperluas kemitraan bersama pemerintah, organisasi keagamaan lintas mazhab, serta komunitas lokal, dampak program dapat diperbesar sekaligus memperkuat legitimasi sosialnya. Sinergi ini bukan hanya memperluas jangkauan pelayanan, tetapi juga mempertegas posisi gerakan sebagai bagian dari ekosistem pembangunan sosial.
Apabila dikelola secara profesional dan berkelanjutan, model ini berpotensi menjadi rujukan dakwah sosial kontemporer, sebuah pendekatan yang melampaui retorika mimbar dan mewujud dalam pelayanan publik yang konkret dan terukur.
Pengalaman PERMABI memperlihatkan satu pola yang konsisten: perubahan persepsi publik tidak dibentuk oleh slogan, melainkan oleh kehadiran yang berkelanjutan. Ketika relawan membersihkan masjid, membangun jalan, menyediakan akses air bersih, atau membantu korban bencana, sekat sosial yang semula terasa kaku perlahan mencair.
Di tingkat akar rumput, kerja semacam ini menumbuhkan modal sosial yang kerap terabaikan, kepercayaan. Kepercayaan inilah fondasi paling kokoh dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Pada akhirnya, persatuan tidak dibangun oleh retorika besar, melainkan oleh tindakan nyata yang dilakukan secara konsisten, hari demi hari, kampung demi kampung, dari satu insan kepada insan lainnya. [HMP/MT]
Baca juga : Reporter Khusus PBB: Penyitaan Tanah-tanah Palestina Bentuk Tindakan Agresi
