Ikuti Kami Di Medsos

Perspektif ABI

Ustadz Zahir Yahya: Panji Perjuangan Imam Ali Khamenei Tak Boleh Jatuh

Published

on

Jakarta, 13 April 2026 — Peringatan 40 hari syahidnya Imam Sayyid Ali Khamenei yang bertepatan dengan syahadah Imam Ja‘far Shadiq diselenggarakan di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta, Minggu (12/4/2026). Dalam ceramahnya, Ustadz Zahir Yahya menyoroti keteladanan para Imam, khususnya terkait keteguhan dan perlawanan.

Ustadz Zahir Yahya menjelaskan bahwa Imam Ja‘far Shadiq merupakan salah satu Imam dengan usia paling panjang dibandingkan dengan para Imam lainnya, yakni sekitar 65 tahun, serta hidup pada masa transisi antara Dinasti Umawiyah dan Abbasiyah. Selama lebih dari tiga dekade, sekitar 4.000 orang tercatat menimba ilmu dari Imam Ja‘far Shadiq.

Namun, jumlah pengikut yang benar-benar setia sangat sedikit. “Bahkan disebut tidak mencapai 17 orang,” terang Ustadz Zahir. Kondisi tersebut mencerminkan kesenjangan antara ajaran para Imam dan kecenderungan umat. Ustadz Zahir juga menyinggung peristiwa Karbala, ketika Imam Husain hanya didukung sekitar 70 orang dalam menghadapi pasukan yang jauh lebih besar. Fenomena serupa, terjadi pada masa Imam lainnya.

Menurut Ustadz Zahir, perbedaan orientasi menjadi faktor utama. Para Imam menempatkan kedekatan kepada Allah sebagai tujuan utama, sementara sebagian besar umat lebih berorientasi pada kehidupan duniawi. Para Imam tidak menjadikan kemakmuran material sebagai tujuan hidup dan kehidupan, dan itu terwujud dalam masa kepemimpinan Imam Ali, yang menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat dapat berjalan seiring dengan penekanan pada nilai spiritual, dengan dunia diposisikan sebagai sesuatu hal yang sementara.

Ustadz Zahir mengutip hadist Imam Ali tentang nilai jiwa manusia yang hanya sepadan dengan surga. Namun, tidak banyak yang mampu mengamalkan prinsip tersebut secara konsisten. Lebih lanjut, beliau mengaitkan nilai tersebut dengan sosok Imam Sayyid Ali Khamenei. Imam Ali Khamenei merupakan contoh individu yang mengabdikan hidupnya untuk perjuangan, termasuk dalam menjaga Revolusi Islam Iran sejak sebelum 1979 hingga kesyahidannya.

Syahidnya Imam Ali Khamenei sebagai kehilangan besar, tidak hanya bagi Iran, tetapi juga bagi umat Islam secara luas. Di sisi lain, hal tersebut dinilai sebagai bagian dari puncak perjuangan hidup, jelasnya.

Ustadz Zahir juga menjelaskan pentingnya Perlawanan terhadap ketidakadilan, termasuk korupsi, tirani, dan dominasi kekuatan global yang dijalani oleh Imam Ali Khamenei. Nilai tersebut, tercermin dalam berbagai gerakan yang berkembang di sejumlah wilayah, termasuk pasca peristiwa Badai Al-Aqsa.

Perlawanan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mencakup aspek spiritual, ekonomi, dan budaya. Beliau kemudian merujuk pada ajaran Al-Qur’an tentang pentingnya mempersiapkan kekuatan sebagai upaya menjaga martabat.

Selain itu, beliau menngingatkan pentingnya pembangunan sistem kelembagaan. Keberhasilan kepemimpinan, tidak hanya bergantung pada individu, tetapi juga pada sistem yang dibangun, termasuk struktur negara dan institusi pendukung. Lebih lanjut, Ustadz Zahir menekankan bahwa tanggung jawab kini berada di tangan umat untuk melanjutkan perjuangan dengan membangun sistem yang kuat, institusi yang kokoh, serta komitmen terhadap nilai-nilai yang telah diwariskan.

“Jalan ini tidak boleh berhenti. Panji itu tidak boleh jatuh,” ujarnya.

Perjuangan harus terus dilanjutkan hingga janji kepada Allah, Rasulullah, Ahlul Bait, dan Sohibul ‘Ashr wa Zaman benar-benar ditunaikan, tandasnya. []

Continue Reading