Ikuti Kami Di Medsos

Perspektif ABI

Orasi Hari Al-Quds di Surabaya, Ustadz Zahir Yahya: “Trump Ingin Ganti Rezim Iran, Bahkan Slogan Rakyat Tak Berhasil Diubah

Published

on

Salah satu orator utama, Ustadz Zahir Yahya, dalam pidatonya menilai eskalasi konflik tersebut menunjukkan wajah politik imperialisme global yang menurutnya semakin terbuka di hadapan masyarakat dunia. (dok. ABI)

Surabaya, 15 Maret 2026 — Ribuan warga memadati kawasan depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (13/3/2026), dalam aksi memperingati Hari Al-Quds Sedunia. Aksi solidaritas untuk Palestina itu diwarnai orasi politik yang menyoroti konflik Timur Tengah, termasuk kritik keras terhadap agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dinilai menelan korban sipil serta merusak fasilitas publik.

Salah satu orator utama, Ustadz Zahir Yahya, dalam pidatonya menilai eskalasi konflik tersebut menunjukkan wajah politik imperialisme global yang menurutnya semakin terbuka di hadapan masyarakat dunia.

Berikut teks lengkap pernyataan Ustadz Zahir Yahya yang disampaikan dalam orasi tersebut.

“Mampus Amerika!
Mampus Israel!
Hidup Indonesia!
Hidup Iran!

Saudara-saudara sekalian!

Yaumul Quds kali ini sangat spesial bagi umat Islam di seluruh dunia. Secara waktu, YQ tahun ini bertepatan dengan agresi kekuatan imperialis dan zionis dunia terhadap negara merdeka dan berdaulat bernama Iran hingga menyebabkan jatuhnya korban-korban tidak berdosa, mulai dari ratusan siswa di sekolah hingga warga sipil yang tengah menjalani keseharian mereka dalam keadaan beribadah di bulan suci Ramadan.

Agresi ini juga menimbulkan kerusakan pada berbagai fasilitas sipil dan publik seperti rumah sakit, dinas pemadam kebakaran, gedung-gedung pemerintah, serta kilang-kilang penyimpanan bahan bakar untuk keperluan warga.

Meski menyebabkan banyak korban dan kerusakan, agresi yang tak berperi keadilan dan kemanusiaan tersebut membuka mata dunia dan membuat banyak orang, khususnya bangsa-bangsa merdeka di seluruh dunia, termasuk di negeri tercinta Indonesia, menyadari betapa keji dan kotornya politik imperialisme dunia, terutama ketika bersanding dengan zionisme internasional.

Benar, mata dunia kini melek. Namun sayangnya, masih ada beberapa penguasa naif—ya, ungkapan yang paling sopan adalah naif—di suatu negeri yang tetap percaya dan bersedia duduk satu meja dengan para agresor, duduk bersama pelaku genosida dan para pendukungnya. Konyol, bukan? Yang lebih konyol lagi, konon mereka berkumpul dalam lembaga BoP yang dipimpin oleh seseorang bernama Trump dengan tujuan memperjuangkan perdamaian.

Eh bung… Anda baru bangun tidur kali ya? Anda tidak tahu bahwa sampai hari ini sudah ada puluhan penguasa di kawasan yang bahkan telah menjual kedaulatan negaranya dengan mengakui eksistensi penjajah dan menjalin hubungan politik dengan zionis Israel.

Konon awalnya mereka juga bertujuan memperjuangkan perdamaian dan membela Palestina. Namun faktanya apa yang terjadi? Alih-alih memperjuangkan perdamaian, mereka justru menjadi penjaga kepentingan zionis di kawasan. Alih-alih menjadi negara yang stabil secara keamanan dan sejahtera secara ekonomi, negara mereka justru menjadi zona bebas bagi aktivitas intelijen Mossad dan lainnya.

Jargon membela Palestina pun tidak mampu mereka wujudkan, bahkan sekadar dengan mengirimkan air minum kepada rakyat Gaza yang terkepung dan kelaparan selama perang Badai al-Aqsha.

Ringkas kata, para pemimpin negara yang telah melakukan normalisasi dengan zionis pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk perdamaian Palestina, apalagi Anda yang bahkan hanya duduk di pinggiran dan masih malu-malu menyatakan keinginan melakukan normalisasi dengan Israel.

Saudara-saudara sekalian!

Kembali kepada agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap negara pencetus Hari Al-Quds Sedunia, yaitu Republik Islam Iran.

Saudara-saudara sekalian!

Kali ini Amerika benar-benar salah perhitungan dan salah memilih musuh. Mereka gegabah menentukan tujuan agresinya dengan menargetkan pergantian rezim di Iran.

Awalnya Amerika mengerahkan seluruh kekuatan militernya, termasuk kapal-kapal induk ke kawasan untuk menakut-nakuti para pemimpin Iran. Namun Iran bergeming. Bahkan Pemimpin Tertingginya tidak meninggalkan tempat kerjanya ketika Trump mengancam akan menghabisinya.

Saya yakin, ketika mengancam dan menekan Iran, Trump mengalami kebingungan. Ia mengira Iran sama seperti negara lain di dunia yang para pemimpinnya siap bertekuk lutut hanya karena diancam dengan kenaikan tarif impor.

Ini Iran, bung!

Ditakut-takuti dengan armada tempur laut dan pesawat tempur, mereka justru mempersiapkan diri untuk melawan. Ketika benar-benar diserang, kurang dari dua jam mereka langsung membalas dengan menghujani 17 pangkalan militer Amerika di kawasan serta Israel dengan ratusan rudal dan drone.

Pemimpinnya dibunuh, tetapi amarah rakyatnya justru semakin menyala untuk menuntut balas atas darah pemimpin mereka yang gugur syahid.

Saudara-saudara sekalian!

Trump menghendaki peperangan singkat yang selesai dalam hitungan jam. Kini dua minggu telah berlalu, sementara pidato kemenangan Trump bahkan belum dapat dikarang oleh para staf ahlinya.

Dengan membunuh Pemimpin Tertinggi dan beberapa pejabat Republik Islam Iran, Trump berharap dapat mengganti rezim. Faktanya, jangankan mengganti rezim, Trump bahkan tidak berhasil mengganti slogan rakyat Iran yang paling populer.

Saudara-saudara sekalian!

Sebelum gugurnya Pemimpin Tertinggi, Ayatullah Ali Khamenei, rakyat Iran selalu meneriakkan:

دست خدا بر سر ما، خامنه‌ای رهبر ما

‘Allah Pelindung Kami, Khamenei Pemimpin Kami.’

Sesudah syahidnya Ali Khamenei, slogan itu tidak berubah dan tetap sama:

‘Allah Pelindung Kami, Khamenei Pemimpin Kami.’

Karena alih-alih mengganti rezim Iran, Trump justru mengganti Khamenei dengan Khamenei yang jauh lebih muda.

Takbir!

Saudara-saudara sekalian!

Pelajaran penting dari para pahlawan dan pejuang kemerdekaan bagi para penguasa republik ini adalah bahwa kunci kemerdekaan dan martabat suatu bangsa adalah sikap perlawanan.

Jika Anda ingin hidup beberapa tahun lebih lama, makan lebih lezat, dan tidur lebih nyenyak, silakan cari tuan Anda dan jadilah budak siapa pun. Namun jika sebagai bangsa Anda ingin hidup merdeka dan bermartabat, maka Anda harus berani melawan segala bentuk penjajahan dan tekanan asing.

Jika beruntung, Anda akan gugur sebagai pahlawan dan syahid. Jika tidak, Anda bisa tetap berjuang dan mempersiapkan diri untuk tahun 2029.

Hidup Indonesia!
Merdeka Indonesia!
Bermartabat Indonesia!

Kepada para penguasa kriminal zionis di tanah pendudukan, ketahuilah bahwa perhitungan mundur bagi kehancuran kalian kini telah dimulai. Kutukan dekade ke-8 adalah nyata, dan Yaumul Quds tahun ini atau tahun depan akan menjadi yang terakhir bagi kalian.

Mampus Amerika!
Mampus Israel!”

Aksi Hari Al-Quds di Surabaya berlangsung dengan pengawalan aparat kepolisian dan diikuti berbagai elemen masyarakat. Sepanjang kegiatan, massa membawa bendera Palestina dan spanduk solidaritas sebagai simbol dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina.

Hari Al-Quds Sedunia diperingati setiap tahun pada Jumat terakhir bulan Ramadan sebagai momentum solidaritas global bagi Palestina. Di Surabaya, peringatan tahun ini tidak hanya menjadi ajang dukungan kemanusiaan, tetapi juga ruang penyampaian kritik politik terhadap dinamika konflik di Timur Tengah yang terus memicu perhatian publik internasional. []

Continue Reading