Ikuti Kami Di Medsos

Perspektif ABI

Ketua Umum ABI Dorong Ghirah Ekonomi Perlawanan lewat Model Koperasi

Published

on

Ketua Umum ABI, Ustadz Zahir Yahya, dalam sambutan forum Iqtishaduna Talk 1 yang digelar pada Sabtu, 4 April 2026, (Dok. ABI)

Ketua Umum ABI, Ustadz Zahir Yahya, menegaskan pentingnya koperasi sebagai sarana kerja kolektif, keadilan sosial, dan manifestasi Ekonomi Perlawanan dalam forum Iqtishaduna Talk 1 yang digelar secara hybrid.

Jakarta, 4 April 2026 — Ahlulbait Indonesia (DPP ABI) mendorong penguatan ghirah Ekonomi Perlawanan melalui model koperasi dalam forum Iqtishaduna Talk 1 yang digelar pada Sabtu, 4 April 2026, pukul 13.00–17.00 WIB, dan diselenggarakan oleh Departemen Pemberdayaan Ekonomi Dewan Pimpinan Pusat ABI.

Forum ini dimaksudkan untuk memaksimalkan diskusi mengenai koperasi, ekonomi rakyat, dan Ekonomi Perlawanan dengan menghadirkan pembicara dari unsur organisasi, akademisi, pemerintah, dan praktisi. Kegiatan ini berlangsung secara hybrid, dengan partisipasi peserta yang hadir langsung maupun mengikuti jalannya acara melalui platform Zoom.

Ketua Umum ABI, Ustadz Zahir Yahya, tampil sebagai pembicara utama dengan keynote speech bertajuk “Pemikiran Sayyid Ali Khamenei tentang Koperasi sebagai Manifestasi Ekonomi Perlawanan.”

Forum ini turut menghadirkan Dr. Vita Sarasi (Dosen FEB Unpad) dengan topik “Koperasi sebagai Manifestasi Ekonomi Pancasila”, Ibu Destry A. S. (Deputi Kementerian Koperasi RI) dengan materi “Pedoman dan Standar Pelaksanaan Koperasi yang Berdaya Saing”, Sayyid Mahdi Jufry (Praktisi Koperasi) dengan bahasan “Tantangan dan Peluang Pengembangan Koperasi”, serta Ustadz Segaf Assegaf dari Koperasi Bazara Kota Malang yang memaparkan “Pengalaman Praktis Membangun Koperasi Komunitas.”

Landasan Kolektif dalam Ajaran Islam

Ustadz Zahir Yahya menegaskan bahwa kerja kolektif memiliki landasan yang kuat dalam ajaran Islam. Beliau merujuk pada perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyeru manusia melaksanakan ibadah haji, yang menunjukkan bahwa dalam ajaran agama terdapat penekanan yang jelas pada dimensi kebersamaan dan pelaksanaan secara kolektif.

Menurut beliau, salat, puasa, terlebih lagi haji, merupakan perintah-perintah agama yang pada level implementasi mengandung penekanan untuk dijalankan secara bersama-sama. Beliau mencontohkan salat Jumat sebagai kongres mingguan umat Islam, serta berbagai ibadah lain seperti salat istisqa, salat Idulfitri, Iduladha, dan salat gerhana, yang meskipun sah dilakukan secara individu, tetap mendapatkan penekanan untuk dilaksanakan secara berjamaah.

Bagi Ustadz Zahir, hal itu menunjukkan betapa pentingnya kerja kolektif, bahkan dalam urusan-urusan yang secara teknis masih mungkin dilakukan secara individual. Jika dalam ibadah yang dapat dilakukan sendiri saja tetap ada dorongan kuat untuk melaksanakannya secara berjamaah, maka penekanan terhadap kerja kolektif tentu menjadi jauh lebih besar dalam urusan-urusan yang memang sejak awal membutuhkan keterlibatan bersama.

Dalam konteks itu, Ustadz Zahir Yahya menyinggung jihad melawan musuh, dan juga jihad melawan kemiskinan atau jihad ekonomi, sebagai bentuk perjuangan yang memerlukan upaya dan kerja yang bersifat kolektif. Beliau mengutip ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang kokoh.

Baginya, ayat itu menunjukkan bahwa perjuangan yang efektif menuntut keteraturan, kekompakan, dan kemampuan untuk bergerak sebagai sebuah tim atau kelompok yang solid. Ustadz Zahir Yahya juga menyinggung banyak ayat Al-Qur’an yang mendorong semangat kebersamaan, kerja sama dalam seluruh urusan, persaudaraan, persatuan, serta penolakan terhadap ketercerai-beraian.

Beliau turut mengingatkan firman Allah dalam Surah Al-Ma’idah ayat 2 tentang perintah untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, serta larangan bekerja sama dalam dosa dan pelanggaran. Dalam konteks riwayat dan sunah Nabi, beliau menegaskan bahwa terdapat banyak referensi yang menegaskan ajakan serupa, baik dari Rasulullah maupun para Imam Ahlul Bait.

Ustadz Zahir Yahya juga mengutip hadis yang memperingatkan umat Islam dari ketercerai-beraian dalam usaha dan ikhtiar mereka. Beliau menyampaikan bahwa Rasulullah menekankan pentingnya unsur kebersamaan, dan menjelaskan bahwa setan lebih dekat kepada orang yang sendirian, serta semakin jauh ketika manusia bersatu dalam kebaikan.

Koperasi sebagai Manifestasi Ekonomi Perlawanan

Dari uraian tersebut, Ustadz Zahir Yahya kemudian mengaitkannya dengan koperasi. Menurut beliau, lembaga koperasi atau aktivitas ekonomi berupa koperasi pada hakikatnya merupakan sarana untuk membangun kerja sama dalam bingkai kebaikan dan kebajikan.

Dijelaskannya, bahwa koperasi yang mendorong tegaknya keadilan sosial, kesetaraan, serta penggabungan modal-modal kecil milik kelompok masyarakat yang kurang mampu ke dalam kegiatan ekonomi, merupakan bentuk upaya untuk mencegah konsentrasi kekayaan hanya di tangan segelintir orang. Koperasi, katanya, diharapkan dapat menjadi sarana jihad melawan kemiskinan, meningkatkan mata pencaharian kelompok yang kurang mampu, serta membangun solidaritas di antara sesama anggota masyarakat dengan turut melibatkan mereka yang lebih mampu untuk membantu yang kurang mampu.

Karena itu, koperasi yang berupaya memperkuat kebersamaan, persatuan, dan empati di tengah komunitas bukan hanya sekadar sesuatu yang baik, tetapi merupakan salah satu kewajiban sosial yang tidak main-main, selaras dengan roh tuntunan agama, demi terciptanya kehidupan masyarakat yang mandiri dan bermartabat.

Selanjutnya, mengaitkan pembahasan koperasi dengan apa yang disebut sebagai Ekonomi Perlawanan. Ustadz Zahir Yahya menyampaikan bahwa Sayyid Ali Khamenei pada tahun 2013 pernah mengumumkan sebuah kebijakan tentang Ekonomi Perlawanan dan menjadikannya sebagai pijakan bagi agenda kerja dan program pemerintahan di Republik Islam Iran.

Menurutnya, Ekonomi Perlawanan adalah ekonomi yang secara dinamis dan berkelanjutan mampu menyediakan sumber daya ketika masyarakat atau negara menghadapi berbagai kesulitan dan krisis. Beliau juga menyebut Ekonomi Perlawanan sebagai pola ekonomi nasional yang dirancang untuk mengurangi ketergantungan serta meningkatkan ketahanan dan keberlanjutan dalam menghadapi tekanan eksternal.

Beliau kemudian menyinggung kondisi Republik Islam Iran di tengah situasi perang dan tekanan eksternal. Dalam situasi tersebut, ujar beliau, masyarakat Iran tidak menunjukkan gejala panic buying yang lazim muncul dalam kondisi ketidakpastian, melainkan tetap bergerak dengan tenang.

Ustadz Zahir Yahya juga menyinggung adanya dokumentasi visual yang menunjukkan bahwa toko-toko, pusat perbelanjaan, dan supermarket di Iran tetap dipenuhi barang-barang kebutuhan pokok seperti minyak, beras, gula, dan komoditas lainnya, bahkan dengan harga yang relatif terjangkau. Menurut beliau, kondisi tersebut menunjukkan adanya peran ketahanan ekonomi yang dibangun melalui fondasi ekonomi rakyat, termasuk koperasi.

Ekonomi Rakyat, Ketahanan, dan Arah Pembangunan Komunitas

Dalam penjelasannya, Ustadz Zahir Yahya menyebut bahwa Iran termasuk di antara negara dengan jumlah koperasi yang besar. Beliau merujuk pada data dari Republik Islam Iran sendiri yang menyebut jumlah koperasi di negara tersebut mencapai sekitar 100.000 unit. Banyak di antara koperasi tersebut, menurut beliau, secara aktif berperan dalam memastikan ketahanan ekonomi, terutama dalam situasi sulit dan kritis.

Ditegaskannya, salah satu ciri utama Ekonomi Perlawanan adalah karakteristiknya sebagai ekonomi rakyat, yakni kegiatan ekonomi yang didelegasikan kepada rakyat, baik melalui sektor swasta maupun koperasi, dalam rangka mengurangi ketergantungan kepada pemerintah.

Dalam konteks ini, beliau menjelaskan bahwa koperasi memiliki hubungan yang sangat erat dengan ekonomi rakyat, karena merupakan salah satu bentuk lembaga ekonomi yang digagas, dikelola, oleh dan untuk rakyat. Bagi beliau, koperasi yang benar-benar genuin adalah koperasi yang lahir dari gagasan rakyat, atau bersifat bottom-up.

Beliau juga menyinggung pentingnya menilai apakah model-model koperasi yang sedang dikembangkan benar-benar lahir dari gagasan rakyat, atau masih memerlukan penjelasan lebih lanjut dari pihak yang berkompeten. Hal itu, menurut Ustadz Zahir Yahya, dapat menjadi salah satu titik diskusi dalam kaitannya dengan berbagai upaya pengembangan koperasi yang sedang berlangsung.

Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa Sayyid Ali Khamenei yang mendeklarasikan Ekonomi Perlawanan juga aktif memperjuangkan penyebaran dan keberhasilan lembaga koperasi di Republik Islam Iran. Salah satu pandangan yang kerap ditegaskan oleh Sayyid Ali Khamenei, kata beliau, adalah bahwa koperasi merupakan salah satu upaya yang paling logis dan paling fundamental untuk mencegah ketidakadilan sosial.

Selain itu, Ustadz Zahir Yahya juga mengutip pandangan Sayyid Ali Khamenei yang menyatakan bahwa koperasi layak dipercaya bukan semata karena dunia mempercayainya, melainkan karena koperasi benar-benar dapat menjadi kunci untuk menyelesaikan berbagai persoalan.

Beliau juga menyinggung pengalaman Iran sebelum Revolusi 1979. Pada masa itu, menurut beliau, Iran sangat bergantung kepada asing, bertumpu pada impor, dan terlalu bergantung pada sumber daya minyak, sehingga ruang untuk mengembangkan sektor-sektor ekonomi lainnya menjadi sangat terbatas.

Perubahan pascarevolusi, ujarnya, menghadirkan orientasi baru yang berbasiskan agama dan berporos pada kehendak rakyat. Dalam kerangka itulah, keterlibatan rakyat dalam membangun ekonomi negara, termasuk melalui lembaga koperasi, dipandang sebagai salah satu indikator penting dari arah pembangunan tersebut.

Di bagian akhir, Ustadz Zahir Yahya menegaskan bahwa komunitas yang memandang penting kesesuaian langkah-langkah pembangunan ekonomi dengan tuntunan agama, arahan ulama, dan petunjuk para pemimpin, tentu berkewajiban untuk terus menggali potensi dan meningkatkan kapasitas dirinya.

Beliau berharap kegiatan diskusi tematik yang diselenggarakan oleh Departemen Pemberdayaan Ekonomi ini dapat benar-benar membuahkan hasil terbaik bagi komunitas, bangsa, dan negara. []

Continue Reading