Perspektif ABI
Ketua Umum ABI: Agresi AS–Israel terhadap Iran, Ujian Iman dalam Pertarungan Haq–Batil
Jakarta, 12 April 2026 — Ketua Umum DPP Ahlulbait Indonesia, Ustadz Zahir Yahya, menegaskan serangan AS–Israel terhadap Iran telah memasuki fase konfrontasi terbuka antara kebenaran dan kebatilan yang menguji ketahanan iman umat manusia. Tanpa kesiapan, iman mudah goyah di tengah tekanan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Halal Bihalal Dewan Syura Ahlulbait Indonesia di Islamic Cultural Center Jakarta, Sabtu (11/4/2026).
Kegiatan berlangsung secara hybrid dan diikuti seluruh unsur organisasi, meliputi Dewan Syura, Dewan Penasihat, Dewan Pakar, DPP, Pimnas Muslimah ABI, Pandu ABI, ABI Responsif dan DPW DKI Jakarta. Dalam forum ini, dinamika Iran disorot sebagai rujukan pembelajaran strategis.
Dalam sambutannya, Ustadz Zahir Yahya menyinggung suasana duka umat selama Ramadan akibat syahidnya Imam Ali Khamenei. Di tengah situasi tersebut, arah kepemimpinan berlanjut melalui terpilihnya Ayatulah Sayyid Mujtaba Khamenei yang menjaga kesinambungan perjuangan.
Lebih lanjut, Ustadz Zahir menegaskan konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak lagi dapat dipahami sebatas konflik antarnegara. Konflik tersebut telah berkembang menjadi konfrontasi terbuka antara haq dan batil yang mempertemukan Islam dengan kekuatan yang berhadap-hadapan secara langsung.
“Ini bukan lagi konflik biasa. Ini konfrontasi terbuka,” tegasnya.
Pandangan tersebut oleh Ustadz Zahir ditempatkan dalam kerangka eskatologis. Rangkaian peristiwa global saat ini dinilai menunjukkan pola yang selaras dengan riwayat tentang tanda-tanda akhir zaman menjelang kemunculan Imam Mahdi. Mengacu pada riwayat Imam Ja’far Shadiq, umat akan diuji, dipilah, dan disaring hingga tersisa mereka yang paling kokoh imannya.
Tekanan yang muncul, menurutnya, tidak datang dari satu arah, melainkan berlapis dan berlangsung serentak, mencakup aspek sosial, politik, hingga psikologis. Dalam situasi demikian, sebagian kehilangan keteguhan, sementara hanya mereka yang memiliki kesiapan yang mampu bertahan melewati guncangan itu.
“Kondisi ini menuntut kesiapan. Tanpa itu, iman mudah goyah di tengah tekanan,” tegasnya.
Untuk memperkuat gambaran tersebut, Ustadz Zahir mengaitkannya dengan pengalaman historis umat Islam pasca wafatnya Rasulullah SAW, termasuk ujian berat dalam Perang Ahzab. Sejarah menunjukkan tekanan besar selalu memisahkan antara yang teguh dan yang rapuh.
“Akhir zaman jangan sampai melepaskan iman dari dalam hati,” katanya.
Dalam konteks pertarungan antara kebenaran dan kebatilan, Ustadz Zahir menegaskan kemungkinan kekalahan secara fisik tetap terbuka dalam situasi genting. Namun, kekalahan mental dan spiritual tidak akan menimpa umat yang menjaga keimanan.
“Kita bisa kalah secara fisik, tetapi tidak akan kalah secara mental,” tegasnya.
Ustadz Zahir Yahya menegaskan arah sejarah tidak ditentukan oleh kekuatan material semata, melainkan oleh keteguhan iman dan ketergantungan penuh kepada Allah SWT. Dalam situasi yang kian terbuka dan sarat tekanan, umat dituntut tidak hanya bertahan, tetapi juga menjaga kejernihan sikap dan kekuatan spiritual.
Menurutnya, kemenangan bukan hasil kalkulasi kekuatan lahiriah, melainkan buah dari keteguhan, kesabaran, dan tawakal yang tidak tergoyahkan. Jalan menuju kemenangan kerap melewati fase sulit yang menjadi medan penyaringan keimanan.
Dengan demikian, ujian yang dihadapi tidak untuk dihindari, melainkan dilalui dengan kesadaran, kesiapan, dan keyakinan yang utuh hingga hanya mereka yang benar-benar kokoh yang tetap bertahan. []

