Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Untuk Helma, Nama yang Ditulis di Badan Drone

Published

on

Sebuah drone Arash 2 dilaporkan membawa tulisan: “Untuk Helma, putri Tabriz, putri Iran.” (Foto: Press TV)

Helma baru berusia 18 bulan ketika bom merenggut seluruh keluarganya di Tabriz. Kini namanya ditulis di badan drone, menjadi simbol duka, kemarahan, dan dunia yang terlalu sering membiarkan anak-anak menanggung akibat perang

Jakarta, 3 April 2026 — Perang selalu punya cara sendiri untuk merusak makna. Bukan hanya menghancurkan rumah atau merenggut nyawa, tetapi juga mengacak hal-hal yang paling sederhana. Keluarga, masa kecil, bahkan nama, pelan-pelan ikut diseret menjadi bagian dari mesin kehancuran.

Karena itu, ada sesuatu yang terasa sangat ganjil ketika sebuah drone tempur membawa nama seorang anak kecil.

Namanya Helma. Usianya baru 18 bulan. Bukan tentara, bukan bagian dari komando, bukan pula sosok yang akan tercatat dalam dokumen strategis. Helma hanya seorang balita dari Tabriz yang selamat ketika rumah keluarganya dihantam bom, sementara ayah, ibu, kakak laki-laki, dan kakak perempuannya gugur dalam serangan itu.

Di tengah gelombang serangan balasan Iran terhadap target-target Amerika Serikat dan Israel, sebuah drone Arash 2 dilaporkan membawa tulisan: “Untuk Helma, putri Tabriz, putri Iran.”

Kalimat itu pendek. Hampir biasa saja. Tetapi justru karena itu, terasa lebih menancap daripada banyak pidato perang.

Mudah memahami mengapa nama itu ditulis di sana. Dalam logika sebuah bangsa yang baru saja menyaksikan darah anak-anaknya tertumpah, selalu ada dorongan untuk berkata: kami tidak akan lupa. Ada luka yang tidak ingin dibiarkan hilang di bawah reruntuhan, tenggelam dalam laporan resmi, atau lenyap di antara berita yang datang silih berganti. Nama Helma, dalam pengertian itu, adalah bentuk penolakan terhadap lupa.

Tetapi di saat yang sama, ada ironi yang sulit diabaikan. Dunia sudah begitu rusak sampai-sampai nama seorang balita hanya bisa “dihormati” dengan ditempelkan di badan senjata.

Kisah Helma sendiri sebenarnya tidak membutuhkan banyak penjelasan. Pada 26 Maret 2026, rumah keluarga Mirzadeh di Tabriz dihantam serangan udara AS-Israel. Dalam hitungan detik, satu keluarga nyaris habis. Yang tertinggal hanyalah seorang anak kecil yang bahkan belum cukup umur untuk memahami mengapa orang-orang yang seharusnya mengisi dunianya dengan kehangatan dan kasih sayang tiba-tiba tidak ada lagi.

Di situlah serangan AS-Israel memperlihatkan bentuknya yang paling jujur. Bukan di peta operasi, bukan di citra satelit, bukan pula di konferensi pers yang penuh istilah teknis. Pada akhirnya, perang selalu berujung pada hal yang sama. Rumah yang hancur, keluarga yang hilang, dan kehidupan yang harus diteruskan dengan luka yang tidak pernah dipilih.

Masalahnya, dunia modern terlalu pandai membungkus semua itu dengan bahasa yang steril. Kita disuguhi istilah seperti “serangan presisi”, “target strategis”, “operasi terbatas”, atau “eskalasi regional”, seolah-olah tragedi bisa dibuat lebih bisa diterima hanya dengan mengganti kosakatanya. Bahasa semacam itu mungkin efisien untuk briefing militer dan laporan diplomatik, tetapi hampir selalu gagal menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi di bawahnya.

Karena di balik semua istilah itu, kenyataannya sering kali jauh lebih sederhana dan jauh lebih kejam. Sebuah rumah hancur, dan seorang anak mendadak menjadi yatim piatu.

Itulah sebabnya nama Helma terasa jauh lebih besar daripada drone yang membawanya. Nama itu memaksa perang turun dari level abstraksi ke level manusia. Tiba-tiba, konflik tidak lagi terdengar seperti pertarungan pengaruh, keseimbangan kawasan, atau kalkulasi keamanan. Semuanya kembali menjadi sesuatu yang sangat tua dan sangat brutal: yang kuat menjatuhkan api dari langit, dan yang kecil menanggung akibatnya.

Nama Helma yang ditulis di badan drone bukan hanya pesan kepada musuh. Secara tak langsung, itu juga menjadi dakwaan terhadap dunia yang terlalu lama membiarkan anak-anak menjadi catatan kaki dari setiap konflik. Dunia biasanya baru benar-benar terusik ketika tragedi sudah terlalu gamblang untuk disangkal, lalu perlahan kembali terbiasa ketika tragedi berikutnya datang menggantikannya.

Helma, tentu saja, bukan satu-satunya. Di banyak kota yang dibom, di banyak rumah yang runtuh, ada anak-anak lain yang menanggung luka serupa tanpa pernah benar-benar masuk ke dalam pemberitaan. Mereka tidak diberi ruang dalam headline. Nama mereka tidak ditulis di badan drone. Wajah mereka tidak bertahan lama di layar. Mereka hilang bersama debu, bersama reruntuhan, bersama siklus berita yang terlalu cepat bergerak untuk benar-benar berduka.

Dan di balik semua itu, ada keangkuhan politik yang terlalu lama dibiarkan berbicara atas nama keamanan. Ada para pemimpin yang menjadikan kematian sipil sebagai efek samping yang bisa dinegosiasikan, seolah anak-anak yang hancur bersama rumah mereka hanyalah angka yang bisa ditoleransi. Nama-nama seperti Donald Trump dan Benjamin Netanyahu tidak bisa dilepaskan dari jejak kehancuran itu. Bukan semata karena keputusan yang mereka ambil, tetapi karena cara mereka memandang dunia: bahwa kekuatan memberi hak untuk menghukum, dan bahwa nyawa orang lain bisa ditata ulang dari balik meja kekuasaan.

Dan yang tak kalah mengerikan, keangkuhan semacam itu selalu menemukan pendukungnya. Orang-orang yang tetap bisa membela kebrutalan selama korbannya cukup jauh dari rumah mereka sendiri.

Yang tidak bisa dijawab oleh simbol apa pun, tentu saja, adalah pertanyaan yang paling sunyi. Apa yang tersisa bagi seorang anak setelah semua orang yang seharusnya membentuk dunianya hilang?

Tidak ada slogan yang bisa menjawab itu. Tidak ada operasi balasan yang bisa menjawab itu. Tidak ada kemenangan strategis yang bisa menjawab itu. Negara mungkin bisa membalas, militer mungkin bisa menghitung sasaran, dan publik mungkin bisa mengabadikan nama. Tetapi tidak ada satu pun dari semua itu yang bisa mengembalikan keluarga.

Dan mungkin, memang di situlah seluruh rasa sakit itu berpusat.

Sebuah nama mungkin bisa diselamatkan dari lupa, tetapi hidup yang dulu mengelilinginya tetap tak bisa dikembalikan.

Pada akhirnya, Helma bukan hanya satu nama di badan drone. Helma mengingatkan kita pada sesuatu yang selalu ingin disembunyikan perang. Di balik semua jargon tentang kehormatan, keamanan, pembalasan, dan kemenangan, hampir selalu ada seorang anak kecil yang harus belajar hidup di tengah reruntuhan yang dibuat orang dewasa.

Dan selama nama-nama seperti itu masih terus lahir dari puing-puing, tidak ada pihak mana pun yang benar-benar bisa berbicara tentang kemenangan dengan wajah bersih. [MT]

Continue Reading