Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Trump: Macron “Masih Sembuh” setelah “Pukulan ke Rahang” dari Istri

Published

on

Emmanuel Macron, saat bertemu dengan Donald Trump pada tahun 2019. (Foto: AP)

Jakarta, 2 April 2026 — Komentar Donald Trump terhadap Emmanuel Macron dan NATO bukan hanya soal mulut kasar yang lepas kendali. Di balik kalimat-kalimatnya, ada rasa kesal Washington terhadap sekutu-sekutu Barat yang sangat fasih bicara soal solidaritas, tetapi mendadak penuh pertimbangan ketika perang mulai meminta ongkos sungguhan.

Donald Trump memang punya bakat langka. Mengatakan hal paling vulgar dengan cara yang justru membuat inti masalahnya terlihat lebih jelas.

Ketika menyerang Emmanuel Macron dan meremehkan NATO, Trump tidak sedang menyusun argumen yang canggih. Trump sedang marah. Dan seperti biasa, kemarahan itu keluar bukan dalam bentuk diplomasi, melainkan penghinaan.

Macron disindir dengan kalimat “whose wife treats him extremely badly”, lalu disusul komentar bahwa Presiden Prancis itu masih “still recovering from the right to the jaw.” Terjemahan kasarnya kurang lebih begini: “masih belum pulih setelah pukulan ke rahang.” Sulit mencari istilah yang lebih sopan untuk itu. Itu bukan analisis kebijakan. Itu ejekan yang dilemparkan dengan niat penuh.

Macron jelas bukan sasaran yang dipilih secara acak.

Di mata Trump, Prancis mewakili tipe sekutu yang paling menyebalkan: selalu ingin terdengar penting, selalu siap bicara soal stabilitas global, tetapi mendadak piawai menjaga jarak ketika perang mulai menuntut kapal, pasukan, dan sedikit keberanian yang tidak bisa dipresentasikan lewat panel diskusi.

Ketika perang yang didorong Washington bersama Israel terhadap Iran mulai menekan jalur energi, mengganggu Selat Hormuz, dan menuntut lebih dari konferensi pers, sekutu-sekutu Eropa di NATO tampaknya tidak merasa perlu menunjukkan antusiasme yang sama. Mereka tetap ingin bicara soal keamanan maritim, kebebasan navigasi, dan stabilitas kawasan, tentu saja. Semua itu terdengar sangat mulia, terutama jika diucapkan dari jarak yang aman.

Begitu perang berhenti menjadi slogan, semua orang mendadak menemukan kebijaksanaan.

Presiden AS itu jelas tidak pernah terlalu menghormati jenis kebijaksanaan yang datang belakangan, apalagi setelah Washington lebih dulu menyalakan korek api.

Karena itu, Macron bukan satu-satunya sasaran. NATO pun ikut diberi hadiah kecil dari Trump: “a paper tiger.” Harimau kertas. Kedengarannya kasar, tetapi juga agak sulit dibantah tanpa terlalu banyak bantuan PowerPoint.

Besar dalam lambang, nyaring dalam pidato, tetapi tidak selalu sigap ketika diminta bergerak tanpa menunggu rapat lanjutan.

Untuk ukuran Trump, itu nyaris terdengar seperti penilaian yang jujur.

Masalahnya memang sederhana. Trump menginginkan sekutu yang tidak hanya pandai bicara soal solidaritas, tetapi juga bersedia ikut turun ke lumpur ketika Washington ingin perang tetap terkendali menurut versinya sendiri. Eropa, seperti biasa, tampaknya lebih nyaman mengambil peran lama yang sudah sangat dikuasainya. Hadir secukupnya, menjaga jalur pelayaran tetap aman, lalu kembali terdengar strategis setelah asapnya cukup tipis untuk dibahas dalam forum keamanan.

Karena itu, penghinaan Trump terdengar lebih personal dari biasanya.

Bagi Trump, penolakan semacam itu bukan kehati-hatian. Itu pembangkangan yang datang dengan jas rapi dan pilihan kata yang sopan.

Macron hanya menjadi wajah paling mudah dari masalah yang lebih besar. Eropa masih ingin dianggap penting, strategis, dan relevan, tetapi terlalu sering menolak membayar penuh harga dari posisi itu. Mereka ingin tetap duduk di meja utama, tetap disebut mitra kunci, tetap terdengar seperti pemain besar, tetapi tidak selalu siap hadir ketika meja mulai terbakar.

Trump membaca semuanya dengan logika yang sangat sederhana. Kalau Anda tidak datang saat dibutuhkan, Anda tidak berguna.

Itu cara berpikir yang kasar. Masalahnya, dalam politik kekuasaan, cara berpikir kasar sering kali lebih jujur daripada pidato yang terlalu lama dipoles.

Di balik semua bahasa tentang kemitraan dan pertahanan kolektif, hubungan antar sekutu tidak pernah benar-benar bersih. Selalu ada hierarki, selalu ada beban yang dibagi tidak seimbang, dan selalu ada pihak yang ingin tetap terlihat penting tanpa harus ikut tenggelam bersama kapal.

Trump hanya mengatakan bagian itu lebih cepat dari yang lain. Dan mungkin di situlah seluruh komedi gelap ini terasa paling telanjang.

Barat selalu tampak paling kompak sebelum perang dimulai. Paling berprinsip sebelum risikonya dibagi. Dan paling diplomatis sebelum seseorang benar-benar diminta datang dengan kapal.

Trump, seperti biasa, hanya terlalu vulgar untuk membiarkan kemunafikan itu tetap terdengar terhormat. [mt]

Continue Reading