Opini
Trump, Iran, dan Ancaman “Zaman Batu” yang Terdengar Kecil
Ancaman Donald Trump untuk membawa Iran kembali ke “zaman batu” justru memantulkan kegelisahan Washington sendiri, ketika perang tak kunjung menghasilkan kemenangan yang dijanjikan
Jakarta, 6 April 2026 — “Kita akan membawa mereka kembali ke zaman batu, tempat mereka seharusnya berada,” kata Donald Trump pada 1 April 2026. Kalimat itu dimaksudkan untuk terdengar seperti kuasa mutlak. Setelah lebih dari lima pekan perang, yang tersisa justru kesan yang lebih memalukan. Semakin sedikit hasil yang bisa diperlihatkan, semakin besar kata-kata yang harus dikeluarkan.
Iran memang dihantam. Infrastruktur rusak, tekanan meningkat, dan biaya perang jelas tidak kecil. Namun perang tidak pernah ditentukan hanya oleh jumlah puing. Dalam urusan itu, Washington dan Tel Aviv sudah cukup berpengalaman. Yang lebih sulit adalah memaksa lawan tunduk tepat waktu, lalu menjualnya sebagai kemenangan.
Sampai hari ini, Iran belum memberi kemewahan itu. Teheran belum runtuh, belum lumpuh, dan belum bergerak ke arah yang diinginkan lawan-lawannya. Bagi kekuatan yang terlalu lama menyamakan superioritas militer dengan hak otomatis untuk menang cepat, keadaan seperti ini bukan gangguan teknis. Ini penghinaan.
Di situlah ancaman “zaman batu” mulai kehilangan bentuknya sebagai ancaman. Bahasa sebesar itu menuntut hasil yang sama besarnya. Ketika hasil itu tidak muncul, ancaman berubah fungsi. Bukan lagi alat tekanan, melainkan pengganti kemenangan yang tak kunjung datang.
Begitulah biasanya imperium berbicara ketika bukti mulai menipis. Saat realitas tak lagi bisa dipamerkan, volume dinaikkan.
Balasan dari Iran justru terdengar lebih hidup. Pada Kamis, 2 April 2026, Komandan Korps Garda Revolusi Islam, Brigjen Sayyid Majid Moosavi, menulis di X bahwa justru Amerika yang sedang menyeret tentaranya ke kuburan, bukan Iran yang hendak ditarik kembali ke “zaman batu”. Menurutnya, ilusi Hollywood telah begitu meracuni cara pandang Washington hingga negara dengan sejarah sekitar 250 tahun merasa cukup percaya diri untuk mengancam peradaban yang telah hidup ribuan tahun.
Sehari kemudian, Jumat, 3 April 2026, Menteri Luar Negeri Iran, Sayyid Abbas Araghchi, memilih cara yang lebih halus dan justru lebih menghina. “Ada satu perbedaan mencolok antara masa kini dan zaman batu. Tidak ada minyak atau gas yang dipompa di Timur Tengah saat itu,” tulisnya di X, sebelum melempar pertanyaan yang lebih tajam daripada bunyinya, apakah Presiden AS dan rakyat Amerika yang memilihnya benar-benar ingin memutar kembali waktu.
Sulit menyebut dua respons itu berlebihan. Ada sesuatu yang nyaris lucu ketika negara yang selama puluhan tahun mengekspor invasi, menjual perang sebagai stabilitas, dan mengubah kehancuran menjadi kebijakan luar negeri, tetap merasa berhak menentukan siapa yang modern dan siapa yang primitif.
Jika istilah “zaman batu” ingin dipakai dengan sedikit kejujuran, maka pola yang paling mendekatinya justru tampak pada pendekatan yang menjadikan penghancuran sebagai bahasa utama, lalu membungkusnya dengan istilah-istilah sopan seperti stabilitas, keamanan, dan tatanan berbasis aturan.
Persoalan Amerika Serikat di sini bukan hanya kemunafikan. Itu terlalu tua untuk terasa mengejutkan. Yang lebih memalukan adalah hasil. Tidak ada keruntuhan cepat, tidak ada penyerahan yang menentukan, dan tidak ada kemenangan yang bisa dipamerkan tanpa bantuan pencahayaan yang tepat.
Yang mulai terlihat justru sebaliknya. Perang ini berubah menjadi beban. Bahkan di ruang yang seharusnya paling menunjukkan keunggulan, situasinya belum sepenuhnya bersih. Sebagian sistem pertahanan udara Iran masih aktif. Dominasi memang ada, tetapi belum cukup untuk menutup semua risiko. Dalam perang, itu berarti satu hal. Kendali belum utuh.
Teheran tampaknya memahami batasan itu lebih baik daripada Washington. Kemenangan tidak harus tampil spektakuler untuk menjadi efektif. Cukup bertahan sampai keunggulan lawan kehilangan nilai politiknya. Dalam perang seperti ini, waktu bukan tekanan. Waktu adalah alat.
Dan di situlah logika Trump mulai runtuh. Trump tampaknya masih berbicara seolah sejarah bisa diancam seperti lawan debat televisi, seolah sebuah peradaban dapat dipaksa mundur hanya karena seorang presiden Amerika memutuskan untuk terdengar lebih kasar dari biasanya. Masalahnya, perang ini tidak bergerak mengikuti ego semacam itu.
Yang muncul justru sesuatu yang lebih memalukan. Ancaman sebesar itu tidak menghasilkan apa yang dijanjikannya. Iran tidak runtuh. Waktu tidak berhenti. Dan kenyataan tetap berjalan tanpa menunggu izin dari Washington.
Pada akhirnya, ucapan tentang “zaman batu” berhenti terdengar seperti ancaman. Kalimat itu berubah menjadi pengakuan yang tak disengaja, bahwa Amerika Serikat masih sangat fasih berbicara tentang kehancuran, tetapi semakin sulit membuktikan bahwa kehancuran itu masih bisa dipaksakan menjadi kemenangan.
Dan mungkin di situlah letak penghinaan paling telak bagi Trump. Bukan karena Iran telah menang. Melainkan karena setelah semua ancaman, semua ledakan, dan semua pose kekuasaan itu, Teheran tetap menolak memainkan peran pecundang yang sudah ditulis Washington untuknya.
Trump rupanya masih percaya bahwa suara keras dapat menggantikan sejarah, dan arogansi dapat menggantikan hasil. Padahal perang, tidak seperti panggung kampanye, tidak pernah memberi kemenangan hanya kepada orang yang paling berisik. []
