Opini
Secara Logis, Lebaran Tahun Ini Sangat Kuat Mengarah Jatuh pada 21 Maret 2026
Jakarta, 19 Maret 2026 — Arah penentuan awal Syawal 1447 H kian mengerucut. Data astronomi dari Observatorium Bosscha serta analisis hisab Falak Ahlulbait Indonesia (Falak ABI) menunjukkan bahwa parameter hilal di Indonesia pada 19 Maret 2026 berada pada tingkat visibilitas yang sangat rendah.
Ijtimak diperkirakan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.23 WIB, sebelum Matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia. Rukyat tetap dilaksanakan pada sore hari yang sama, namun secara ilmiah konfigurasi geometris Bulan–Matahari belum mendukung keterlihatan hilal.
Elongasi geosentrik berada pada kisaran 4,6 hingga 6,2 derajat, sementara elongasi toposentris berkisar antara 4,0 hingga 5,5 derajat. Ketinggian Bulan saat Matahari terbenam hanya sekitar 0 hingga 3 derajat di atas ufuk. Dalam kondisi ini, hilal sangat dekat dengan horizon dan berada dalam dominasi cahaya senja, sehingga secara praktik hampir tidak memungkinkan untuk diamati.
Data dari Observatorium Bosscha menunjukkan bahwa posisi hilal berada pada batas visibilitas yang sangat rendah dan menantang, dengan peluang keterlihatan yang sangat bergantung pada kondisi atmosfer yang sangat ideal.
Analisis Falak ABI memperinci kondisi tersebut. Ketinggian hilal berkisar dari sekitar 0,4 derajat di Merauke hingga 2,9 derajat di Sabang. Elongasi toposentris berada pada rentang 4,0 hingga 5,4 derajat, dengan umur hilal antara 7 jam 24 menit hingga 10 jam 24 menit. Selisih waktu terbenam Bulan setelah Matahari berkisar 5,6 hingga 15,66 menit, sementara fraksi iluminasi hanya sekitar 0,13 hingga 0,26 persen.
Dalam pernyataan resminya, Falak ABI menegaskan bahwa secara hisab global kondisi hilal tersebut belum memenuhi syarat visibilitas untuk wilayah Indonesia. Evaluasi terhadap berbagai kriteria visibilitas internasional menunjukkan hasil yang konsisten. Dalam parameter Odeh dan Shaukat, elongasi berada mendekati atau di bawah batas minimum teoritis (limit Danjon). Sementara itu, kriteria Yallop dan SAAO dengan ambang serupa juga menunjukkan bahwa hilal belum memenuhi syarat keterlihatan, termasuk di wilayah Aceh yang memiliki parameter paling tinggi.
Dengan parameter tersebut, peluang hilal terlihat di seluruh Indonesia menjadi sangat kecil. Artinya, skenario paling logis adalah rukyat tidak berhasil.
Dalam kondisi demikian, Ramadan sangat kuat mengarah untuk digenapkan menjadi 30 hari (istikmal). Dengan demikian, 1 Syawal 1447 H berpotensi besar jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Dalam kerangka ini, rukyat yang dilakukan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia bersama jaringan pengamat, termasuk Observatorium Bosscha, berfungsi sebagai verifikasi empiris atas batas-batas teoretis tersebut. Pengamatan di berbagai titik, seperti Lembang dan Observatorium Lhok Nga, diarahkan untuk menguji konsistensi antara perhitungan astronomi dan kondisi atmosferik di lapangan.
Penetapan resmi tetap menunggu sidang itsbat, termasuk keputusan Dewan Syura Ahlulbait Indonesia yang akan mempertimbangkan data hisab dan laporan rukyat secara komprehensif. Namun, konsistensi lintas parameter dan metode menunjukkan bahwa kondisi hilal pada 19 Maret 2026 berada di bawah ambang visibilitas astronomis di Indonesia.[]
Referensi:
