Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Pesan Pemimpin Tertinggi Iran dalam Peringatan 40 Hari Syahadah Imam Ali Khamenei

Published

on

China Ingatkan Trump: Jangan Campuri Urusan Internal Iran
Ayatullah Mojtaba Khamenei menyampaikan pesan dalam peringatan 40 hari syahadah Ali Khamenei, menegaskan arah perjuangan, persatuan nasional, dan keteguhan Iran di tengah tekanan global. (Foto: Press TV)

Ahlulbait Indonesia | 10 April 2026 — Dalam pesan yang dirilis terkait peringatan 40 hari gugurnya Syahid Imam Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Mojtaba Khamenei kembali menekankan pentingnya kehadiran rakyat Iran di berbagai medan.

Dilansir al-Alam pada Jumat, (10/4/2026), berikut ini adalah teks lengkap pidato dan pesan Ayatullah Mojtaba Khamenei.

“Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang.

“Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepadamu kemenangan yang nyata, agar Allah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu, menuntunmu ke jalan yang lurus, dan agar Allah menolongmu dengan kemenangan yang menentukan (al-Fath 1).

“Empat puluh hari telah berlalu sejak salah satu kejahatan terbesar musuh-musuh Islam dan Iran, serta salah satu duka mendalam dalam sejarah bangsa ini, syahidnya Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, ayah bangsa Iran, Pemimpin Umat Islam, dan penuntun para pencari kebenaran di zaman ini, Sang Pemuka Syuhada Iran dan Front Perlawanan, Khamenei yang Agung, semoga Allah mensucikan jiwa sucinya.

“Selama empat puluh hari, jiwa mulia Pemimpin syahid kita telah menjadi tamu di perjamuan para wali, orang-orang saleh, dan syuhada di hadirat Ilahi. Bersamaan dengan itu, atau setelahnya, banyak sekali para kawan, komandan, dan pejuang Islam, serta sesama warga Tanah Air terzalimi kita, mulai dari bayi yang baru lahir hingga orang tua, juga telah memperoleh anugerah agung ini.

“Selama empat puluh hari dan malam, Yang Mahakuasa telah memanggil Pemimpin bangsa ini ke tempat pertemuan yang telah ditentukan-Nya. Namun kali ini, tidak seperti yang terjadi pada zaman Nabi Musa, para sahabat pemimpin syahid dan umatnya diutus untuk menegakkan kebenaran dan menghadapi kebatilan. Mereka berdiri teguh bagaikan gunung-gunung yang kokoh melawan Samiri dan patung anak lembunya, serta melibas para agresor dan para pengikut Firaun layaknya lahar yang membara.

“Selama empat puluh hari dan malam, orang-orang arogan di dunia telah melepaskan topeng-topeng penipu dan palsu mereka, memperlihatkan wajah mengerikan bak setan dari pembunuhan dan penindasan, agresi dan kebohongan, kezaliman dan pembunuhan anak-anak, serta tirani dan kerusakan.

“Namun sebaliknya, selama empat puluh hari dan malam, putra-putra pemberani Khomeini Agung dan para pengikut Syahid Khamenei yang terkasih, serta para penganut Islam murni Muhammad telah hadir di berbagai bundaran, jalanan, dan garis depan pertempuran dengan dedikasi dan keberanian yang patut dicontoh. Meskipun mengalami lerugian jiwa dan kerusakan akibat serangan brutal musuh, mereka telah mengubah Perang Yang Dipaksakan Ketiga ini menjadi panggung epik Pertahanan Suci Ketiga.

“Bangsa Iran yang sadar dan waspada, meskipun menunjukkan duka mendalam atas kepergian Pemimpin syahidnya, telah mengikuti jejak para pewaris langsung Asyura Husain, menciptakan heroisme epik dari kesedihan ini dan seruan perang dari ratapannya. Semua ini telah membuat musuh yang bersenjata lengkap terkejut dan putus asa, serta menggerakkan orang-orang merdeka di dunia untuk memberikan sanjungan. Kali ini, kebodohan dan ketidaktahuan para orang arogan telah menjadikan tahun Februari 2006 sebagai awal babak baru dalam penguatan dan kebangkitan nama Iran dan Revolusi Islam. Bendera Iran Islami dikibarkan tidak hanya di wilayah geografis negara kita, tetapi juga di kedalaman hati para pencari kebenaran di seluruh dunia.

“Kesempatan ini merupakan saat yang tepat untuk memberikan pengenalan singkat mengenai Pemimpin terhormat kita. Kita sedang membicarakan seorang pria yang tidak dikenal sebagaimana seharusnya. Semua orang tahu Pemimpin syahid kita adalah seorang ahli fikih yang memiliki visi dan mengenal zaman, seorang mujahid yang tak kenal lelah, teguh dan kokoh seperti gunung, seorang ulama ilahi yang mempraktikkan apa yang dia ajarkan, seseorang yang mengabdikan dirinya untuk dzikir, tahajud, dan doa di hadapan Arasy Ilahi, serta tawasul dengan para Imam suci a.s. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, seorang yang percaya pada janji-janji Ilahi.

“Karakteristik lainnya adalah cintanya pada Iran dan upayanya yang tak henti-hentinya demi kemandirian yang lebih besar bagi negara tercinta kita. Di samping itu, menekankan persatuan dan kohesi nasional. Menghabiskan hidupnya berjuang untuk menegakkan dan mengukuhkan Pemerintahan Islam. Namun menurut pandangannya, Republik Islam tanpa rakyat tidaklah berarti. Di samping otoritas dan ketegasannya, memiliki ketajaman besar dalam pemikiran dan pendekatannya terhadap berbagai hal. Memberikan perhatian khusus pada potensi negara, terutama kaum mudanya. Menghargai ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan yang menyertainya. Memandang keluarga syuhada, para invalid perang, dan para pengorban mulia dengan penghormatan khusus. Dalam berbagai hal, memiliki pengalaman yang tak ternilai dan luas, sebagian di antaranya mencakup puluhan tahun, serta berbagai kualitas lain yang akan mengisi daftar yang panjang.

“Saat ini, beberapa media sering membicarakan keahlian seninya, pemahamannya tentang seni, dan dukungannya terhadap seni. Unsur ini, meskipun secara sendiri-sendiri mampu memberikan nilai besar pada karakter seseorang dan yang tentu saja ada pada Pemimpin tercinta kita dalam arti yang paling sejati dan mulia, tampak tidak berarti jika dibandingkan dengan atribut dan kelebihan eksistensial lainnya. Secara pribadi, saya menyadari berbagai seni dan keahlian dalam dirinya.

“Salah satu keahliannya yang luar biasa, namun jarang disadari, adalah seni mendidik dan membina masyarakat melalui pembentukan pemikiran, mentalitas, serta emosi rakyat dan kelompok-kelompok sosial.

“Keahlian lainnya adalah pendirian lembaga-lembaga yang terarah, yang dilakukannya terutama pada tahun-tahun awal kepemimpinannya dengan visi yang jauh ke depan.

“Keahlian lainnya adalah penguatan struktur militer negara, yang dampak positifnya dirasakan dan dimanfaatkan oleh bangsa Iran dalam dua perang yang dipaksakan baru-baru ini. Selain itu, daya inovasi dan inisiatifnya dalam berbagai dimensi, termasuk ilmiah, strategis, dan pembuatan kebijakan, merupakan keahlian lainnya, yang sebagian darinya tercermin dalam perumusan kebijakan umum Pemerintahan. Juga kemampuan untuk menciptakan makna melalui penyusunan kata-kata dan frasa-frasa baru yang tepat waktu, yang masing-masing menciptakan dan membawa banyak makna, yang darinya terbentuklah wacana publik. Termasuk di antaranya adalah keahlian yang diasah oleh cobaan, penderitaan, dan kesengsaraan jiwa mulianya, serta melalui kesabaran dan ketekunannya di jalan kebenaran, yaitu dalam hal memprediksi peristiwa-peristiwa yang jauh. Orang beriman melihat dengan cahaya Allah. Dan berbagai keahlian lainnya, yang tidak mungkin disebutkan satu per satu dalam uraian singkat ini.

“Semua keahlian dan keistimewaan ini tidak lain berasal dari karunia ilahi yang istimewa serta perhatian khusus dari junjungan kita dan para leluhur sucinya. Mungkin seluruh karunia dan perhatian ilahi tersebut kepada sosok mulia ini bisa dirangkum dalam perjuangan tanpa lelah, ketulusan, dan pengorbanan dirinya demi mengagungkan kebenaran. Namun secara khusus, terlepas dari kesulitan dalam menghadapi Rezim Pengkhianat Pahlavi, memanfaatkan secara luas kesempatan khusus lainnya dalam memenuhi tugasnya, yang biasanya tidak disadari oleh masyarakat umum. Telah ditakdirkan Sayyid muda ini, yang sangat haus akan ilmu dan tentu saja amal, pada saat ayahanda mulianya mengalami kebutaan, meninggalkan semua prospek lahiriah untuk kemajuan ilmiah dan berguna untuk masa depannya di Qom, dan dengan mempercayai rahmat ilahi, mendedikasikan dirinya untuk berbakti kepada ayahnya, meski telah bertahun-tahun berlutut menimba ilmu di hadapan para ulama terkemuka.

“Karunia Ilahi sebagai balasan atas pengorbanan diri ini termanifestasi dalam bentuk berikut. Tiba-tiba, pada saat belum genap berusia tiga puluh tahun, Sayyid Ali Khamenei muncul dari Khorasan bagaikan matahari, dan segera dianggap sebagai salah satu pilar intelektualitas dan perjuangan. Pada saat yang sama, juga mencapai kemajuan signifikan dalam ilmu-ilmu konvensional, hingga pada dekade 1970, SAVAK menjulukinya sebagai Khomeini dari Khorasan. Saya harus menekankan proses kemajuan batiniah dan lahiriah orang mulia ini terus berlanjut pada periode-periode berikutnya. Kini, sebagai pelajaran yang dapat dipetik dari perilaku para tokoh besar, dan khususnya sosok semacam itu, sangatlah tepat jika kita menjadikan sifat niat baik yang tulus satu sama lain dan saling mendukung sebagai praktik kita sendiri. Karakteristik ini, dipadukan dengan curahan rahmat ilahi yang luas, merupakan perbedaan signifikan antara seseorang yang berdiri di bawah panji kebenaran dan mereka yang berkumpul di bawah panji kebohongan.

“Tak diragukan lagi, menempuh jalan seperti itu akan membuka pintu-pintu langit dan mendatangkan segala bentuk pertolongan ilahi dan gaib, mulai dari turunnya hujan rahmat hingga kemenangan atas musuh, bahkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Saat ini, sering terdengar berbagai kelompok dari rakyat kita yang tercinta, dengan tepat dan penuh kerinduan, mengenang Sang Sosok Unik pada zaman ini. Secara bertahap, semakin banyak sisi dari permata cemerlang karakter mulianya yang terungkap. Selain itu, praktik dalam meneladani tindakan-tindakan khas beliau secara bertahap menjadi meluas. Misalnya, masyarakat kita mengambil pelajaran dari kepalan tangan beliau pada saat syahid, dan kini kepalan tangan itu sendiri telah menjadi, bagi sebagian orang, simbol keyakinan bersama. Dengan demikian, terbukti sekali lagi pengaruh seorang syahid melampaui individu yang masih hidup, dan seruannya yang menggema kepada tauhid, pencarian kebenaran, serta perjuangan melawan penindasan dan korupsi telah menjadi lebih kuat dan pesannya lebih mendalam daripada semasa hidupnya. Selain itu, harapan tulus Sang Syahid Agung ini untuk kebahagiaan bangsa ini dan umat Muslim lainnya semakin mendekati kenyataan.

“Saudara-saudari sebangsa, hari ini, dan hingga titik ini dalam semangat perjuangan Pertahanan Suci Ketiga, dapat dikatakan dengan tegas kalian, bangsa Iran yang gagah berani, telah menjadi pemenang tak terbantahkan di arena ini.

“Hari ini, fajar kemunculan Republik Islam sebagai kekuatan besar, serta keberadaan Kubu Arogansi di jalur kelemahan, telah menjadi nyata bagi semua orang. Tiada keraguan ini merupakan berkah ilahi, yang dicurahkan kepada bangsa Iran berkat darah Pemimpin Syahid kita dan para syuhada lainnya, sesama warga yang tertindas, serta bunga-bunga yang gugur dari Sekolah Shajarah Tayyiba di Minab, serta berkat doa dan permohonan rakyat bangsa ini kepada kehadirat ilahi, serta kehadiran konsisten mereka di bundaran, lingkungan, dan masjid-masjid, dan pengabdian yang tanpa pamrih, tulus, dan murni dari para pejuang garis depan Islamis di Korps Garda Revolusi, Angkatan Bersenjata, Kepolisian, para serdadu tak dikenal dan para penjaga perbatasan. Nikmat ini, seperti nikmat-nikmat lainnya, harus disyukuri agar dapat bertahan dan berkembang, karena jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambahkannya bagi kalian. Rasa syukur yang nyata atas nikmat ini adalah upaya tanpa henti untuk mewujudkan Iran yang kuat.

“Hal esensial pada titik kritis ini, untuk mewujudkan slogan dan tujuan strategis Pemimpin Syahid kita, adalah kelanjutan kehadiran rakyat tercinta kita, sebagaimana empat puluh hari yang baru saja mereka lalui. Kehadiran ini merupakan tiang penyangga vital bagi posisi yang saat ini ditempati Iran yang kuat.

“Oleh karena itu, janganlah kita berasumsi, hanya karena diumumkannya rencana untuk bernegosiasi dengan musuh, kehadiran di jalanan menjadi tidak perlu. Sebaliknya, jika waktunya memang telah tiba untuk masa jeda di medan perang militer, maka kewajiban warga yang mampu turun ke bundaran, lingkungan sekitar, dan masjid justru terasa semakin berat. Tidak diragukan lagi, teriakan kalian di bundaran akan efektif untuk membuahkan hasil dari negosiasi. Demikian pula, kampanye Korbankan Nyawa Demi Iran yang menakjubkan dan terus berkembang dengan jutaan peserta, juga merupakan faktor penting di arena ini. Dengan izin Allah Yang Mahakuasa, berkat peran-peran ini dan keberlanjutannya, cakrawala di hadapan bangsa Iran menandakan kedatangan era yang mulia, cemerlang, dan berlimpah, penuh kehormatan, martabat, dan kemakmuran.

“Ketika Pemimpin Syahid kita mengambil alih kepemimpinan, Republik Islam bagaikan sebuah tunas muda yang telah ditimpa banyak luka dari musuh-musuh Islam dan Iran, dan tentu saja telah menanggung semuanya dengan baik. Namun, ketika setelah hampir 37 tahun, beliau meninggalkan kursi kepemimpinan, beliau meninggalkan sebuah pohon mulia yang akarnya tertanam kokoh dan dahan-dahannya menaungi sebagian besar Kawasan dan dunia. Pendekatan untuk mewujudkan Iran yang lebih kuat terwujud melalui persatuan di antara berbagai lapisan masyarakat, yang berulang kali ditekankan olehnya. Sebuah gambaran yang signifikan dari persatuan ini terwujud dalam empat puluh hari ini, hati-hati orang-orang semakin dekat, es di antara lapisan-lapisan masyarakat dengan kecenderungan yang beragam mulai mencair, dan semua berkumpul di bawah bendera Tanah Air. Hari demi hari, baik kuantitas maupun kualitas perkumpulan ini semakin meningkat. Banyak dari mereka yang belum berhasil ikut serta dalam cara ini, pada dasarnya setuju dan bersolidaritas dengan masyarakat yang berkumpul di berbagai bundaran.

“Saat ini, banyak orang yang memandang masa depan peradaban dengan menatap cakrawala yang jauh dan membentuk gambaran bagi diri mereka sendiri, bukan gambaran yang semu, melainkan yang berakar pada realitas masa kini dan masa depan. Inilah sifat yang, hingga baru-baru ini, hanya terlihat pada segelintir orang yang dipimpin oleh Pemimpin Syahid kita. Inilah cara setiap pengamat memahami pertumbuhan yang cepat dan ajaib dari bangsa ini. Bukanlah suatu kebetulan pada hari-hari ini, orang bijak terkenal di zaman ini dan ahli hukum terkemuka Ayatulah Javadi Amoli, ketika berbicara kepada kalian tentang hal ini, berulang kali terharu hingga tenggorokannya serak dan kata-katanya tertahan.

“Dalam hal ini, saya katakan kepada para tetangga selatan Iran, kalian sedang menyaksikan sebuah keajaiban. Oleh karena itu, lihatlah dengan benar, pahamilah dengan benar, berdirilah di tempat yang tepat, dan waspadalah terhadap janji-janji palsu para setan. Kami masih menantikan tanggapan yang pantas dari kalian untuk menunjukkan persaudaraan dan niat baik kami. Hal ini hanya akan mungkin jika kalian menjauhi para arogan yang tak pernah melewatkan kesempatan untuk menghina dan mengeksploitasi kalian. Semua orang harus tahu dengan izin Allah Yang Mahakuasa, kami pasti tidak akan membiarkan para penyerang kriminal yang menyerang negara kami lolos tanpa hukuman. Kami pasti akan menuntut ganti rugi atas setiap luka yang ditimbulkan, harga darah bagi para syuhada, dan diyah bagi para korban luka perang, dan kami pasti akan membawa pengelolaan Selat Hormuz ke fase baru. Kami tidak pernah mencari perang, tetapi kami tidak akan pernah melepaskan tuntutan yang sah kami, dan dalam upaya ini, kami memandang seluruh Front Perlawanan sebagai satu kesatuan yang utuh.

“Pada tahap ini, hingga kita memperoleh apa yang memang menjadi hak kita, pertama, yang terpenting adalah seluruh anggota bangsa harus berupaya saling menjaga satu sama lain agar tekanan yang dirasakan berbagai lapisan masyarakat akibat berbagai kelangkaan yang merupakan konsekuensi alami dari setiap perang dapat dikurangi. Tentu saja, kelangkaan ini, yang jauh lebih parah dirasakan oleh para musuh kalian, telah berhasil diatasi hingga tingkat yang cukup besar berkat upaya saudara-saudari kalian di Pemerintahan dan lembaga-lembaga lainnya.

“Kedua, sangat penting untuk melindungi telinga kita, yang merupakan jendela menuju otak dan hati kita, dari media yang didukung oleh musuh atau bersekutu dengan mereka. Tak diragukan lagi, media-media tersebut bukanlah kubu yang berpihak pada Iran dan rakyatnya, dan hal ini telah terbukti berulang kali. Oleh karena itu, kita harus menghentikan interaksi dengan mereka sepenuhnya atau setidaknya menyikapi segala hal yang mereka sajikan dengan kecurigaan yang mendalam.

“Ketiga, meskipun bangsa tercinta ini telah melepaskan pakaian berkabungnya seiring berakhirnya masa berkabung resmi atas syahidnya Pemimpin terhomat kita, bangsa ini akan tetap menjaga tekad yang teguh di dalam jiwa dan hatinya untuk membalas darah suci beliau dan semua syuhada dari Perang Yang Dipaksakan Kedua dan Ketiga ini, serta akan terus waspada untuk mewujudkan hal tersebut.

“Sebagai penutup, saya menyampaikan kepada Junjungan kita, semoga Allah mempercepat kemunculan mulianya, kami dengan keyakinan kepada Yang Mahakuasa dan dengan berpegang teguh pada para Imam suci a.s., serta dengan meneladani Pemimpin Syahid kami, berdiri di bawah panji-panji Anda dalam menghadapi barisan kekafiran dan arogansi. Di jalan ini, kami telah mengorbankan para syuhada mulia dari berbagai lapisan masyarakat demi kehormatan dan kedaulatan negara, serta pengagungan Islam dan Revolusi Islam. Kami juga telah menderita kerugian lainnya. Kini, dengan segenap jiwa raga kami, kami menaruh harapan pada doa khusus Anda untuk kemenangan tegas atas musuh, baik di arena perundingan maupun di medan perang. Kami berharap, insya Allah, kami dan musuh-musuh kami sama-sama akan menyaksikan efek ajaib doa Anda secepat mungkin.”

Wassalamu alaikum wa rahmatullah wa barakatuh

Sayyid Mojtaba Husaini Khamenei
9 April 2026