Opini
Ketika 12 Petabyte Seharusnya Menggoyahkan Legenda Barat di Benak Elit Senayan
Catatan Ramadan: Legenda Siber Barat
Oleh: Muhlisin Turkan
Ahlulbait Indonesia | 16 Maret 2026 — Sore Ramadan di pinggir kota seperti Jepara, selalu memiliki ritmenya sendiri. Jalanan belum sepenuhnya padat, angin bergerak pelan di antara rumah-rumah, dan orang-orang menunggu waktu berbuka dengan kesabaran yang tenang. Dalam suasana seperti itu saya membuka sebuah laporan dari Press TV lewat layar smartphone. Judulnya cukup mencolok: “Handala group hacks medical tech giant Stryker, erases 12-petabyte data.” Berita tersebut terbit pada 16 Maret 2026.
Pandangan saya berhenti pada satu angka: 12 petabyte.
Dalam ukuran dunia digital, angka tersebut nyaris kolosal. Bayangkan sebuah perpustakaan data raksasa yang dikumpulkan selama bertahun-tahun, dilindungi teknologi mahal dan lapisan keamanan berlapis. Lalu dalam beberapa jam seluruh lampunya dipadamkan.
Laporan itu menyebut targetnya Stryker Corporation. Kelompok peretas Handala Group mengklaim berhasil menembus jaringan perusahaan, mencapai lapisan terdalam sistem, menyentuh lebih dari 200.000 perangkat penting, lalu menghapus data yang dikumpulkan selama bertahun-tahun.
Semua selesai dalam hitungan jam.
Di layar smartphone, angka tersebut tampak seperti baris teks biasa. Namun di baliknya tersimpan ironi yang cukup besar.
Selama bertahun-tahun dunia internasional terbiasa mendengar kisah tentang kecanggihan keamanan siber Barat. Narasinya hampir epik: sistem berlapis yang konon tak tertembus, algoritma yang mampu membaca ancaman sebelum ancaman muncul, dan jaringan intelijen yang digambarkan hampir mahatahu.
Legenda semacam itu tidak berhenti di ruang konferensi keamanan atau laporan think tank. Cerita tersebut merambat jauh hingga ke ruang-ruang kekuasaan di berbagai negara yang berjarak ribuan kilometer dari pusat teknologi itu sendiri.
Termasuk di Jakarta!
Di koridor kekuasaan Senayan, mitologi tentang kecanggihan teknologi Barat sering diterima hampir tanpa jeda skeptisisme. Reputasi yang dibangun oleh film spionase, laporan intelijen, dan narasi media global terdengar begitu meyakinkan sehingga sebagian elit politik lebih mudah mempercayainya daripada mempercayai kemampuan yang tumbuh di negeri sendiri.
Kekaguman seperti itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dari rasa hormat. Campuran antara kagum, percaya, dan sedikit rasa inferior sering dibungkus dengan istilah realisme geopolitik.
Akibatnya terlihat cukup jelas. Ketika berbicara tentang keamanan, teknologi, atau strategi global, sebagian elit politik di negeri ini cenderung memandang ke luar lebih dulu, seolah jawaban selalu datang dari pusat-pusat kekuatan Barat dan sekutunya.
Namun legenda tentang kecanggihan intelijen modern memiliki satu kelemahan yang jarang dibicarakan: legenda sering tumbuh jauh lebih cepat daripada kenyataan.
Reputasi dibangun oleh operasi spektakuler, buku memoar, dan film spionase yang membuat teknologi tampak hampir supranatural. Dalam narasi seperti itu, lembaga intelijen modern digambarkan mampu melihat segalanya, mendengar segalanya, dan menembus sistem apa pun tanpa meninggalkan jejak.
Cerita semacam itu terdengar sangat meyakinkan, terutama bagi politisi yang menyukai jawaban sederhana untuk persoalan kompleks.
Masalahnya, dunia siber tidak membaca reputasi. Server tidak terkesan oleh legenda. Jaringan komputer tidak mengenal istilah intelijen paling ditakuti di dunia.
Dunia siber hanya mengenal satu hal: celah.
Sejarah teknologi berulang kali menunjukkan hal yang sama. Celah kecil sering cukup untuk meruntuhkan reputasi yang dibangun selama puluhan tahun.
Dalam banyak cerita spionase modern, nama Mossad muncul seperti tokoh utama. Sebuah lembaga yang disebut mampu menjangkau siapa pun, di mana pun, kapan pun dengan presisi teknologi yang nyaris tanpa cela.
Masalahnya, dunia siber jarang mengikuti naskah film.
Tidak ada musik latar dramatis. Tidak ada agen rahasia yang melompat dari helikopter. Yang ada hanya server, baris kode, dan kadang sebuah pintu digital yang ternyata tidak dikunci sekuat yang dibayangkan.
Reputasi besar selalu terdengar meyakinkan, sampai seseorang benar-benar mencoba menekan tombol masuk.
Nama Handala sebelumnya juga muncul dalam pemberitaan. Surat kabar Israel Haaretz menyinggung kebocoran informasi dari sejumlah pejabat tinggi Israel. Telepon milik mantan Perdana Menteri Naftali Bennett disebut memuat sekitar 4.500 kontak yang kemudian bocor. Perangkat kepala staf kantor perdana menteri Tzachi Braverman menyimpan sekitar 2.400 kontak.
Sementara telepon mantan menteri kehakiman Ayelet Shaked memuat lebih dari 4.600 kontak lengkap dengan foto dan video pribadi.
Jika cerita ini dibawa ke layar lebar, kemungkinan besar produser akan menolaknya. Terlalu sulit dipercaya. Penonton biasanya lebih nyaman dengan cerita tentang sistem keamanan yang sempurna.
Namun dunia nyata memiliki selera humor yang berbeda.
Handala bahkan meninggalkan pesan singkat di media sosial: rahasia tidak selalu tersembunyi selamanya, dan beberapa pejabat yang berkaitan dengan Desk Iran Mossad mungkin perlu memperhatikan perkembangan beberapa jam ke depan.
Nada kalimat tersebut tidak terdengar seperti ancaman besar. Lebih mirip seseorang yang berdiri santai di ruang tamu rumah orang lain lalu berkata dengan tenang, “Kami sudah berada di dalam.”
Sementara itu sore Ramadan di pinggir kota tetap berjalan biasa. Angin bergerak pelan, langit mulai berubah warna, dan orang-orang sabar menunggu waktu berbuka.
Namun di suatu tempat di jaringan internet global, sebuah cerita lain sedang berlangsung. Selama bertahun-tahun publik menerima narasi tentang benteng keamanan digital yang hampir sempurna. Lalu muncul kabar tentang 12 petabyte data yang menghilang dalam beberapa jam.
Situasi tersebut mengingatkan pada seseorang yang dengan bangga memamerkan brankas paling aman di dunia. Suatu pagi brankas itu dibuka kembali, dan bagian dalamnya kosong, menyisakan sebuah pesan kecil. Handala menutup pernyataan dengan kalimat besar:
“Kami datang untuk mengubah persamaan. Tidak ada kekuatan yang lebih tinggi daripada kehendak rakyat.”
Kalimat yang terdengar heroik. Namun pelajaran dari cerita ini jauh lebih sederhana.
Dalam dunia siber, reputasi sering dibangun oleh cerita panjang tentang kecanggihan. Presentasi teknologi, konferensi keamanan, dan laporan intelijen dipenuhi istilah yang terdengar sangat meyakinkan.
Tetapi sejarah teknologi modern menunjukkan kenyataan yang agak memalukan: benteng yang terlihat paling kokoh kadang runtuh bukan karena serangan spektakuler.
Hanya cukup satu celah kecil.
Satu konfigurasi yang salah.
Satu pintu yang lupa ditutup.
Satu keyakinan berlebihan yang membuat penjaga merasa tidak perlu memeriksa kunci.
Dan ketika celah itu akhirnya terlihat, mitologi yang dipupuk selama bertahun-tahun dapat runtuh dengan kecepatan yang hampir memalukan, kadang cukup dalam hitungan jam.
Kurang lebih selama waktu yang diperlukan untuk menghapus 12 petabyte data, dan pada saat yang sama mengikis sedikit legenda yang terlalu lama dipercaya. []
