Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Kesalahan Strategis Trump dan Netanyahu: Menantang Kekuatan Tak Terlihat di Iran

Published

on

The Brookings Institution: Kebijakan Trump Dorong Pecahnya Tatanan Global

Oleh: Husni Mubarak Raharusun
Magister Prodi Perang Asimetris Universitas Pertahanan

Ahlulbait Indonesia | 3 Maret 2026 — Kesalahan terbesar Trump dan Netanyahu adalah menargetkan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Mereka lupa bahwa ketika menargetkan Syahid Qasim Soleimani, balasannya adalah serangan Iran terhadap salah satu pangkalan terbesar US di Timur Tengah (Ain al-Asad, Irak), yang bahkan salah seorang buzer mereka di Indonesia mati-matian sumpah kalau tidak terjadi apa-apa di pangkalan tersebut, namun setelah informasi bocor, ternyata serangan tersebut banyak menelan korban militer maupun materi di pangkalan tersebut.

Begitu juga mereka lupa bahwa ketika menargetkan salah seorang Jenderal Iran di Kedutaan Iran di Suriah, balasannya adalah True Promise-3 yg dikenal dengan perang 12 hari, yang meruntuhkan mitos pertahanan terbaik di timur tengah serta membuat Israel layaknya rumah kaca, yg ketika dilempar dengan sebutir batu, pecahlah kaca tersebut.

Dan sekarang, kesalahannya adalah melanggar batas kedaulatan Iran + membunuh pimpinan tertinggi ditengah persiapan negosiasi tahap berikutnya yg dimediasi oleh Oman.

Untuk memahami pola dan berapa lama perang ini berlangsung, tidak cukup hanya sebatas menggunakan berbagai teori perang, ekonomi, politik, dan teori-teori lainnya, tetapi perlu juga memakai kaca mata Wilayatul Faqih sebagai basis analisis.

Karena jika hanya memakai pendekatan teori-teori tersebut, analisis akan terlihat prematur. Yang pada akhirnya mengambil kesimpulan bahwa Iran akan menyerah, atau menyudahi perang karena tidak bertahan dengan kondisi ekonomi serta tekanan eksternal maupun internal.

Iran adalah negara yg selalu belajar dari pengalaman. Jika dikatakan bahwa perang ini akan segera berakhir, maka jangan lupa dengan pengalaman Iran pada perang 8 tahun, dimana umur Revolusi masih seumur jagung dan saat itu pola perangnya masih konvensional (prajurit saling berhadap-hadapan). Namun, Iran tetap bertahan dengan kondisi seadanya.

Jika dikatakan bahwa kondisi ekonomi Iran tidak mampu menanggung perang berkepanjangan, maka jangan lupa bahwa sejak 1979, Iran telah diembargo dari berbagai aspek. Namun, hingga saat ini masih tetap berdiri tegak menentang hegemoni.

Oleh karena itu, sangat naif jika mengatakan perang akan berhenti dalam beberapa pekan, sebab sebagaimana diawali telah disampaikan bahwa kesalahan terbesarnya Trump dan Netanyahu adalah menargetkan Pemimpin tertinggi suatu negara di negaranya sendiri dalam situasi proses negosiasi sedang berlangsung.

Terkait dengan tujuan perang Iran saat ini belum dapat diketahui muaranya. Yang pasti, Iranlah yang akan menentukan kapan berakhirnya perang ini. []