Opini
Kemajuan Iran dan Pendidikan Perempuan
Oleh: Dr. Muhammad Alwi, S.Psi., MM.
(Dosen dan Dewan Pakar Bidang Pendidikan Ahlulbait Indonesia)
Ahlulbait Indonesia, 30 Maret 2026 — Banyak kelompok “sekuler dan liberal” memandang sebelah mata Islam dan pemerintahan berbasis Islam. Seolah-olah ketika agama masuk dalam ranah politik, maka yang terjadi adalah kekacauan seperti diktator, otoritarian, despotik, pembatasan, peminggiran perempuan, dan berbagai citra negatif lainnya. Rata-rata mereka telah menginternalisasi gagasan Barat bahwa agama adalah urusan privat, sementara politik harus netral dari nilai-nilai agama. Contoh-contoh yang sering diajukan tampak pada Arab Saudi, negara-negara Teluk lainnya, serta Afghanistan. Namun, Iran menunjukkan realitas yang berbeda.
Iran adalah negara teo-demokrasi. Istilah ini saya gunakan karena sistem politiknya bersifat hibrid. Ada wali faqih (supreme leader), seorang ulama yang dipilih oleh dewan ulama (perwakilan ulama-ulama di negara tersebut), dan ada presiden yang dipilih langsung oleh rakyat sebagaimana dalam sistem demokrasi modern seperti di Indonesia dan negara sekuler lainnya. Namun demikian, kekuasaan tertinggi tetap berada pada supreme leader (wali faqih).
Sejarah Singkat Iran vs Amerika–Israel
Permusuhan rakyat Iran terhadap Barat berakar dari penggulingan pemerintahan Mohammad Mosaddeq melalui operasi “Operasi Boot” oleh Inggris dan “TPAJAX” oleh Amerika Serikat pada tahun 1953. Setelah itu, Mohammad Reza Pahlavi dikembalikan sebagai raja dengan kekuasaan absolut, meskipun sebelumnya terdapat parlemen dan mekanisme politik lainnya.
Mosaddeq digulingkan karena berupaya mandiri dari Barat melalui nasionalisasi perusahaan minyak. Setelah Pahlevi berkuasa, CIA dan Mossad memberikan dukungan penuh kepada Iran, termasuk kepada badan intelijen SAVAK. Berbagai tindakan represif seperti pembunuhan dan penculikan dilakukan terhadap tokoh-tokoh yang dianggap menentang kerajaan.
Meskipun Pahlevi menjalankan “revolusi putih”, hasilnya tidak merata sehingga memicu kemarahan rakyat. Di sinilah para ulama mulai bangkit melawan kekuasaan Syah, dan Ayatullah Ruhollah Khomeini menjadi tokoh sentral. Setelah diasingkan ke Prancis selama 14 tahun, beliau kembali dan memimpin kemenangan revolusi pada tahun 1978–1979.
Pasca revolusi, Iran mengambil posisi berseberangan dengan Amerika Serikat, Israel, dan Inggris, termasuk melalui peristiwa penyanderaan diplomat AS. Sejak saat itu hingga kini, Iran tetap konsisten sebagai negara Islam yang mendukung Palestina dan menentang dominasi Barat. Embargo, pengucilan, dan berbagai sanksi internasional pun diberlakukan selama hampir 47 tahun.
Mengapa Iran Bisa Bangkit?
Sejak awal, propaganda negatif Barat terhadap Iran begitu masif, termasuk membenturkan mazhab Syiah dengan Sunni. Arab Saudi sebagai sekutu utama AS turut berperan melalui pendanaan berbagai lembaga dakwah di dunia, termasuk di Indonesia.
Iran kerap dicitrakan sebagai negara despotik, totaliter, dan anti-kebebasan—stigma yang sering juga dilekatkan pada Islam secara umum. Namun pertanyaannya adalah bagaimana mungkin negara yang mengalami embargo maksimal justru tidak runtuh, bahkan mampu berdiri tegak, mandiri, dan tetap berkembang?
Jawabannya terletak pada kemampuan Iran mengubah tekanan menjadi tantangan. Embargo tidak membuat mereka stagnan, tetapi justru melahirkan kreativitas, kemandirian, dan inovasi. Hal ini tentu bukan hasil “sim salabim”, melainkan buah dari program yang jelas, keuletan, kecerdasan masyarakat, serta kepemimpinan yang visioner dan memberi teladan.
Pendidikan dan Perempuan
Banyak penelitian menunjukkan bahwa fondasi pendidikan anak terletak pada ibu. Oleh karena itu, ketika perempuan terdidik dengan baik, maka akan lahir generasi yang unggul secara karakter dan intelektual.
Iran menunjukkan lonjakan literasi yang luar biasa. Pada tahun 1976 (era Syah Pahlevi), tingkat melek huruf hanya sekitar 37–50%. Namun pada tahun 2022 meningkat menjadi sekitar 88–93%, bahkan pada kelompok usia 15–24 tahun mencapai hampir 99%. Dalam waktu sekitar empat dekade, Iran mengalami transformasi pendidikan yang sangat signifikan.
Fakta ini membantah stereotip bahwa negara berbasis agama identik dengan keterbelakangan. Realitas Iran menunjukkan bahwa agama, negara, dan pendidikan dapat berjalan secara sinergis.
Iran menjalankan berbagai program strategis seperti; wajib belajar usia 6–11 tahun, ekspansi sekolah hingga pelosok desa, kampanye literasi nasional, serta pembangunan budaya menghargai ilmu. Dalam tradisi Persia dan Islam, ilmu memiliki kedudukan tinggi. Banyak ilmuwan besar berasal dari Persia seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Sina, Al-Khwarizmi, Al-Biruni, dan Al-Ghazali, dan lain-lain.
Selain itu yang cukup menarik Iran sangat fokus pada pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) untuk menyelesaikan masalah nyata. Dampaknya terlihat pada kemajuan di bidang kedokteran, nanoteknologi, stem cell, teknologi rudal, satelit, dan rekayasa nuklir. Dalam nanoteknologi, Iran bahkan menempati peringkat ke-4 dunia dalam publikasi ilmiah dan sekitar peringkat ke-20 dalam paten.
Akses pendidikan tinggi juga sangat luas, termasuk di University of Tehran. Menariknya, partisipasi perempuan sangat tinggi—bahkan lebih dari 50% mahasiswa sejak tahun 2000. Perempuan sebagai ibu menjadi fondasi pendidikan keluarga, yang berdampak langsung pada kualitas SDM.
Sebuah Paradoks
Iran adalah negara religius dengan aturan yang cukup ketat, termasuk kewajiban hijab dan segregasi gender. Namun mengapa partisipasi pendidikan perempuan sangat tinggi? Sementara di Afghanistan, Yaman, dan sebagian negara Teluk, termasuk Saudi Arabia pendidikan perempuan justru rendah atau dibatasi? Jawabannya tidak sederhana. Bukan semata soal agama, tetapi kombinasi antara sejarah, kebijakan negara, dan tafsir sosial terhadap agama.
Data menunjukkan bahwa perempuan Iran sangat dominan dalam pendidikan. Sejak 1980-an mereka mendominasi ujian masuk universitas, dan lebih dari 60% lulusan perguruan tinggi adalah perempuan. Salah satu tokoh dunia perempuan Iran adalah Maryam Mirzakhani, perempuan pertama peraih Fields Medal (2014) dalam matematika, penghargaan tertinggi matematika setara Nobel, atas kontribusinya pada geometri kompleks dan sistem dinamika. Dia Profesor di Universitas Stanford, alumni Sharif University of Technology (BS) dan Harvard University (PhD).
Iran memang menerapkan aturan hijab dan segregasi, tetapi tetap membuka ruang pendidikan luas. Pendidikan dipandang sebagai kebutuhan untuk mobilitas sosial, pembangunan bangsa, dan penguatan religiusitas yang rasional. Tokoh-tokoh seperti Ayatullah Murtadha Muttahari (Mertua Ali Rijani, yang syahid di bom oleh Zionist Israel dan AS, tahun 2026) mendorong integrasi antara agama dan intelektualitas. Banyak buku-bukunya diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dan dibaca oleh Mahasiswa tahun 90-an (diantanya adalah “Hak-Hak Wanita”, terbitan Salman ITB, Bandung dan “Manusia dan Agama”, Mizan, Bandung).
Strategi: Islamisasi dan Edukasi
Iran tidak sekadar berbicara Islamisasi Ilmu tetapi Iran “mengislamkan sistem pendidikan” dimana ini dilakukan dengan membuat lingkungan “aman secara moral”. Dengan itu maka tidak ada kekhawatiran anak-anak kaum konservatif takut sekolah, kuliah – karena moralitas lingkungan pendidikan termasuk pemikiran-pemikiran yang anti agama. Lingkungan sekolah dan kampus Islami, Ulama-ulama serius di Iran, ahli logika, filsafat dan lainnya mengajar di Universitas Teheran dan lainnya.
Sehingga keterbukaan pemikiran Islam dan diskusi pemikiran mendapatkan arahan yang jelas. Dampak langsung dari ini adalah kekhawatiran kaum konservatif hilang; Orang tua justru lebih mengizinkan anak perempuan sekolah dan kuliah. Islamisasi lingkungan pendidikan meningkatkan tidak saja partisipasi tetapi juga keseriusan.
Perempuan (Ibu) itu kunci keluarga, perempuan (ibu) adalah pendidik generasi. Maka pendidikan perempuan adalah investasi bangsa. Jadi ini bukan sekadar hak individu, tapi strategi peradaban. Inilah konon katanya bom yang mengenai sekolah putri di Minab Iran oleh Israel dan AS (28/2/26) disengaja sebab disana adalah salah satu sekolah elit perempuan Iran. Israel sering melakukan pemenggalan sumber daya, seperti pembunuhan pakar nuklir, ahli-ahli strategi Iran dll.
Perbandingan dengan Negara Lain
Di Afghanistan, pendidikan perempuan dibatasi secara langsung. Di Yaman, konflik dan kemiskinan menjadi faktor utama rendahnya pendidikan. Sementara di negara Teluk, meskipun kaya, partisipasi pendidikan perempuan belum merata dan dorongan terhadap STEM belum terlihat (meski kini mulai berubah). Dengan demikian, persoalan utama bukanlah agama, melainkan struktur sosial, ekonomi, dan visi kepemimpinan.
Penutup
Iran tentu juga memiliki berbagai kekurangan. Namun dalam kondisi embargo selama 47 tahun, tekanan ekonomi, propaganda negatif, dan pengucilan internasional, capaian Iran—terutama dalam pendidikan, peran perempuan, juga kemajuan informasi dan tehnologi sangat luar biasa.
Negara kita dapat mengambil pelajaran dari Iran bagaimana kemandirian dibangun, bagaimana kesulitan, problem menjadi tantangan serta menghasilkan kreativitas dan inovasi. Bagaimana agama diintegrasikan sebagai nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara yang produktif serta bagaimana visi dan tauladan pemimpin menjadikan rakyat yakin bahwa apa yang diucapkan bukan sekadar wacana tetapi direalisasikan dalam kebijakan dan kehidupan bersama serta praktek nyata. []
