Opini
Kekuatan Kaum Mustadh‘afin dan Senjakala Imperium
Oleh: Sayyid Uli Alkaf (Pengurus DPW ABI DKI)
Pada tahun 1978, Václav Havel menulis sebuah esai berjudul The Power of the Powerless, di tengah kehidupan Cekoslowakia yang secara politik tampak stabil, namun secara moral telah keropos. Bagi saya, tulisan ini adalah salah satu penjelasan paling jernih tentang bagaimana kekuasaan otoriter tidak selalu membutuhkan kekerasan dan kekejaman untuk menopang dirinya.
Cekoslowakia saat itu tidak sedang berperang. Ekonomi berjalan. Slogan-slogan ideologis terpampang rapi di ruang publik. Namun Havel melihat sesuatu yang lebih dalam: kekuasaan yang berdiri bukan di atas keyakinan, melainkan di atas kepatuhan jutaan orang biasa.
Pesan Havel tajam dan mengusik kenyamanan. Sistem yang menindas tidak bertahan semata karena aparat dan represi, melainkan karena orang-orang kecil ikut menjaga kebohongan itu tetap hidup, bukan karena mereka jahat, tetapi karena mereka ingin selamat. Dari sinilah Havel merumuskan gagasan kuncinya: hidup dalam kebohongan (living within the lie) versus hidup dalam kebenaran (living within the truth).
Havel memulai dengan kisah seorang pemilik toko kecil yang menggantung plakat bertuliskan: “Pekerja sedunia, bersatulah!” di etalase tokonya. Sang pemilik toko tidak percaya pada kalimat itu. Ia bahkan tidak peduli pada “pekerja sedunia”. Ia menggantungnya karena ia tahu konsekuensinya jika tidak.
Plakat itu bukan propaganda, ia adalah baiat modern, bukan baiat kepada ideologi, melainkan kepada sistem: “Saya tahu aturan main. Jangan ganggu saya.”
Sekarang bayangkan apa yang terjadi jika penjaga toko ini menurunkan plakat tersebut.
Ia tidak berpidato. Ia tidak berdemo. Ia hanya berhenti berpura-pura.
Namun konsekuensinya bisa berat: izin usaha dipersulit, ia diasingkan secara sosial, anak-anaknya kelak kesulitan dalam studi atau pekerjaan. Mengapa? Karena ia membongkar kebohongan. Ia menunjukkan bahwa kepatuhan itu tidak normal, tidak perlu, dan tidak sepenuhnya diyakini, bahwa orang-orang lain pun sebenarnya sedang berpura-pura.
Selama plakat itu terpampang, sistem tampak normal, stabil, dan sah.
Namun Havel menunjukkan bahwa kekuasaan semacam ini rapuh. Ia hidup dari kepura-puraan massal. Ketika satu orang saja berhenti, tanpa teriak dan tanpa perlawanan, ia membuka retakan. Karena ia menunjukkan bahwa kebohongan itu tidak wajib, melainkan hanya disepakati bersama.
Dalam Islam, pola ini bukan hal baru. Nabi Ibrahim tidak menghancurkan Namrud dengan pasukan. Ia menghancurkan narasi ketuhanan palsu. Ia menolak logika yang telah dianggap “normal”: bahwa raja dapat memberi hidup dan mati. Dengan pertanyaan sederhana, namun fatal bagi sistem, ia berkata:
“Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat.”
Itu bukan sekadar debat teologis, itu adalah penelanjangan kebohongan kekuasaan.
Puncak dari tradisi ini terdapat pada Imam Husain. Ia tidak diminta mengangkat senjata. Ia diminta membaiat Yazid.
Baiat itu bukan soal teknis kekuasaan. Ia adalah spanduk besar yang harus digantung di etalase sejarah Islam: “Ini sah. Ini normal. Ini Islam.”
Imam Husain tahu, jika spanduk itu tergantung, kebohongan akan menjadi norma. Maka ia menolak, dengan kalimat yang melampaui zamannya:
“Hayhāt minnā dzillah.”
Ini bukan heroisme kosong, ini adalah penolakan untuk hidup dalam kebohongan. Imam Husain tidak menjatuhkan Bani Umayyah saat itu juga. Namun sejak Karbala, kekuasaan itu tidak pernah lagi memiliki legitimasi moral. Yang tersisa hanyalah kekuatan telanjang, yang terus membutuhkan kekerasan dan represi untuk menopang dirinya.
Imperium Modern dan Spanduk Global
Tatanan global modern bekerja dengan mekanisme yang serupa, hanya lebih halus. Spanduknya bukan lagi slogan ideologis kasar, melainkan asumsi yang tidak boleh dipertanyakan: bahwa stabilitas dunia harus ditopang oleh satu kekuatan hegemonik dan satu sistem finansial dominan.
Banyak negara dan elite global sudah lama mengetahui bahwa asumsi ini rapuh. Namun mereka tetap berperilaku seolah-olah ia abadi. Seperti shopkeeper Havel, mereka patuh bukan karena iman, melainkan karena risiko keluar terasa terlalu mahal.
Minggu lalu di dalam ajang tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF), Mark Carney (Perdana Menteri Canada, dan mantan pemimpin Bank of England, serta satu satunya seorang bukan warga negara Inggris yang jadi pemimpin bank sentralnya) memberikan Pidato yang cukup heboh. Ia tidak menyerang Amerika. Ia tidak mengumumkan runtuhnya imperium. Ia hanya mengucapkan sesuatu yang selama ini diketahui, tetapi jarang diucapkan secara terbuka: tatanan dunia yang sekarang berlaku di barat tidaklah adil dan hanya untuk keuntungan negara besar, dan tatanan itu sekarang koyak dan tidak akan pernah kembali.
Ini adalah berhentinya satu kebohongan simbolik. Seperti shopkeeper yang menurunkan spanduk, Carney tidak menjatuhkan sistem. Ia hanya berkata:
“Kita tidak perlu lagi berpura-pura bahwa ini abadi.”
Bagi kita di Indonesia, ini bukan teori.
Saya hidup di masa Orde Baru. Saya sekolah dan kuliah di dalam sistem itu. Saya tahu persis bagaimana setiap lima tahun, selalu hanya ada satu calon presiden, didukung oleh semua partai. Golkar selalu menang telak, nyaris seratus persen.
Apakah saya percaya? Tidak.
Namun hampir semua ikut serta, bukan karena cinta, bukan karena yakin, melainkan karena “memang begitu aturannya.”
Pegawai negeri, dosen, mahasiswa, pengusaha, ulama, kiai, semua tahu ritualnya. Pemilu bukan untuk memilih, melainkan untuk menggantung spanduk legitimasi.
Orde Baru tidak runtuh karena spanduk dicopot. Ia runtuh ketika krisis membuat kepura-puraan kolektif itu tak lagi bisa dipertahankan. Ketika terlalu banyak orang berhenti percaya—dan berhenti berpura-pura.
Penutup: Kekuatan Kaum Mustadh‘afin
Pelajaran dari Havel, Nabi Ibrahim, Imam Husain, dan Orde Baru adalah sama: kebenaran hampir selalu dimulai dari minoritas yang menolak ikut berbohong.
Kekuasaan yang tampak besar sering kali berdiri di atas fondasi yang rapuh: persetujuan simbolik orang-orang kecil. Spanduk-spanduk itu bukan tanda kekuatan, melainkan tanda ketergantungan.
Dan ketika cukup banyak orang memilih untuk hidup dalam kebenaran, tanpa teriak dan tanpa slogan, kekuasaan itu mungkin masih berdiri, tetapi ia telah kehilangan jiwanya. Sejak saat itu, ia hanya menunggu waktu menuju kehancuran.
Di sinilah letak kekuatan kaum mustadh‘afin.
Terakhir, almarhum kakek saya mungkin tidak pernah membaca Havel, tapi beliau pernah berpesan: Kejahatan menang bukan karena banyaknya orang jahat, tetapi karena diamnya orang-orang baik.
Asembaris, Januari 2026
