Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Ilusi Menang Cepat, Bagaimana Israel dan Amerika Gagal Membaca Iran

Published

on

Israel dan Amerika Gagal Membaca Iran (Foto: Ilustrasi)

Oleh: Muhlisin Turkan

Jakarta, 26 Maret 2026 — Perang AS-Israel terhadap Iran ini tidak kehilangan arah pertama-tama di medan tempur, melainkan sejak awal di dalam asumsi strategis yang melahirkannya. Ketika tekanan militer gagal mengubah guncangan eksternal menjadi keruntuhan internal, maka yang tersisa bukanlah kemenangan cepat, melainkan konflik yang lebih panjang, lebih mahal, dan jauh lebih sulit dikendalikan.

Ada perang yang dimulai dengan senjata. Ada pula perang yang sejak awal sudah dibebani oleh ilusi.

Perang hampir selalu dimulai jauh sebelum rudal pertama diluncurkan. Perang lahir di ruang briefing, di meja intelijen, di dalam asumsi-asumsi yang terdengar meyakinkan justru karena terlalu sering diulang. Di sanalah negara-negara besar kerap membuat kesalahan paling mahal, bukan ketika mereka gagal menembak, melainkan ketika mereka gagal membaca.

Jika ada satu kekeliruan yang kini mulai terlihat dalam perang Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran, kekeliruan itu terletak pada satu asumsi yang sejak awal tampak terlalu menggoda untuk dipercaya, yakni keyakinan bahwa Republik Islam dapat diguncang dari luar dan, pada saat yang sama, melemah dari dalam.

Tiga pekan setelah konflik meledak, asumsi itu bukan hanya belum terbukti. Asumsi itu mulai terlihat sebagai fondasi rapuh dari sebuah perang yang sejak awal tampaknya dibangun di atas pembacaan politik yang terlalu optimistis.

Sejumlah laporan media Barat, termasuk The New York Times, Reuters, dan The Washington Post, menggambarkan adanya ekspektasi di kalangan tertentu di Washington dan Tel Aviv bahwa tekanan militer, eliminasi figur kunci, dan operasi intelijen dapat membuka jalan bagi guncangan internal di Iran.

Reuters, misalnya, melaporkan adanya pembahasan di lingkar pemerintahan Trump mengenai kemungkinan figur politik alternatif di Iran untuk fase pascakonflik. Sementara itu, The Washington Post mengungkap adanya penilaian intelijen Amerika Serikat yang justru meragukan perang berskala besar akan cukup untuk menjatuhkan struktur kekuasaan Iran.

Dengan kata lain, sejak awal tampak ada ketegangan antara ambisi politik perang dan realitas strategis di lapangan.

Dalam kerangka itulah, skenario pembunuhan terhadap pucuk kepemimpinan Iran pada fase pembuka konflik, disusul operasi intelijen yang diarahkan untuk mendorong perubahan rezim, tampaknya dibaca oleh sebagian pihak sebagai jalan pintas menuju percepatan akhir perang.

Itu adalah skenario yang rapi di atas kertas. Masalahnya, negara tidak runtuh hanya karena para perancang perang merasa negara itu seharusnya runtuh.

Kesalahan Paling Tua dalam Perang Modern

Kekuatan besar hampir selalu jatuh ke lubang yang sama. Mereka cenderung melebih-lebihkan daya rusak senjata, lalu meremehkan daya tahan politik lawan. Mereka melihat elite bisa dibunuh, infrastruktur bisa disabotase, komunikasi bisa diputus, lalu diam-diam menganggap masyarakat pada akhirnya akan menyelesaikan sisanya.

Padahal, kemampuan menembus sistem bukan hal yang sama dengan kemampuan meruntuhkan negara.

Itulah kesalahan yang berulang dari Baghdad hingga Tripoli, dari Kabul hingga Damaskus. Negara-negara tertentu terlalu sering dibaca sebagai bangunan rapuh yang tinggal menunggu satu pukulan terakhir. Padahal dalam banyak kasus, yang lahir justru kebalikannya. Tekanan dari luar tidak menghasilkan keruntuhan, melainkan konsolidasi yang lebih keras.

Dan Iran sedang bergerak ke arah itu.

Iran Tidak Dibangun untuk Kenyamanan

Salah satu sebab paling mendasar mengapa banyak pembacaan Barat terhadap Iran terus meleset adalah karena Iran terlalu sering dipahami sebagai negara biasa yang sedang hidup dalam menghadapi situasi luar biasa. Padahal realitas justru sebaliknya, bahwa Iran adalah negara luar biasa yang telah terlalu lama hidup dalam kondisi yang oleh dirinya sendiri dianggap sudah biasa, berupa pengepungan, sabotase, infiltrasi, ancaman perang, tekanan ekonomi, dan berbagai isolasi.

Negara seperti ini tidak dibangun untuk menikmati stabilitas dalam pengertian umum yang nyaman, tetapi untuk bertahan, beradaptasi, dan menata langkah yang mereka sebut sebagai kesabaran strategis.

Di titik ini, banyak pembacaan strategis mulai kehilangan akurasi. Tekanan yang di atas kertas dirancang untuk melumpuhkan justru sering menghasilkan efek sebaliknya, yakni pengetatan internal, penyusunan ulang prioritas, penguatan jaringan keamanan, dan mobilisasi legitimasi dalam kerangka ancaman eksistensial.

Iran mungkin bisa ditembus. Bisa disakiti. Bisa dipaksa membayar harga yang sangat tinggi. Tetapi itu sama sekali tidak berarti negara tersebut akan segera runtuh.

Dan justru di situlah skenario perubahan rezim mulai rapuh di hadapan realitas.

Mengapa Jalanan Teheran Tidak Meledak

Setiap operasi yang diam-diam berharap pada pemberontakan massal hampir selalu bertumpu pada fantasi yang sama, yakni keyakinan bahwa publik yang tidak puas dengan negaranya akan membaca serangan asing sebagai kesempatan sejarah. Dalam kenyataan, asumsi semacam itu jauh lebih sering kandas daripada berhasil, terutama dalam konteks Iran.

Masyarakat yang kecewa pada negaranya sendiri belum tentu bersedia menyerahkannya kepada perang pihak luar. Mereka bisa marah, lelah, frustrasi, bahkan membenci banyak hal dari sistem yang mereka tinggali. Tetapi itu tidak otomatis berarti mereka ingin melihat sistem tersebut runtuh di tengah bom dan rudal.

Di sinilah strategi perubahan rezim dari luar hampir selalu tersandung. Strategi semacam itu gagal membedakan antara ketidakpuasan dan pembelotan.

Dalam kasus Iran, kesalahan itu tampaknya diperparah oleh pembacaan yang terlalu mekanis terhadap oposisi sosial. Ketegangan domestik memang nyata. Friksi politik memang ada. Tetapi perang mengubah psikologi publik. Di bawah ancaman eksternal, pertanyaan warga sipil bukan lagi “apa yang saya inginkan dari negara ini?”, melainkan “apa yang terjadi jika negara ini pecah sekarang?”

Dan pertanyaan kedua hampir selalu menghasilkan jawaban yang jauh lebih konservatif daripada yang dibayangkan para perancang perang.

Sejumlah laporan media juga menunjukkan ketakutan yang meluas terhadap aparat keamanan dan militer menjadi salah satu penghambat utama prospek pemberontakan. Itu benar. Tetapi yang lebih besar dari rasa takut adalah naluri bertahan. Bahkan masyarakat yang lelah sekalipun tidak selalu mau berjudi dengan kehancuran negara mereka sendiri.

Perang Ini Mulai Gagal di Dalam Asumsinya Sendiri

Ketika sebuah perang dimulai dengan asumsi keruntuhan cepat, lalu lawan justru bertahan, seluruh arsitektur konflik akan berubah.

Itulah yang kini mulai terlihat.

Alih-alih larut dalam kekacauan internal, Iran justru memperluas logika responsnya ke tingkat regional. Serangan terhadap pangkalan, kota-kota strategis, kapal, dan instalasi energi bukan hanya balasan militer. Serangan itu merupakan cara sebuah negara yang tidak runtuh untuk memaksa lawannya mengakui satu hal, perang ini tidak akan berakhir di tempat dan waktu yang mereka pilih sendiri.

Dan negara yang masih mampu memilih medan konflik adalah negara yang belum kalah.

Di titik inilah kalkulasi awal Washington dan Tel Aviv mulai terlihat lumpuh. Mereka tidak hanya gagal menjatuhkan Iran dari dalam, tetapi juga mulai terseret ke dalam perang yang semakin sulit dibatasi. Perang yang semula dibayangkan bisa dipercepat melalui destabilisasi internal kini justru berubah menjadi perang atrisi kawasan, lebih panjang, lebih mahal, dan jauh lebih sulit dikendalikan.

Perang ini mungkin tidak gagal di langit Iran. Tetapi perang ini mulai gagal di dalam asumsi yang melahirkannya.

Kegagalan yang Lebih Besar dari Mossad

Sangat mungkin untuk membaca semua ini sebagai kegagalan intelijen Mossad. Dan tentu ada bagian dari cerita ini yang mengarah ke sana. Tetapi membatasi masalah pada satu badan intelijen akan terlalu mudah, bahkan terlalu nyaman.

Yang tampaknya gagal di sini bukan hanya satu institusi, melainkan satu cara berpikir strategis yang lebih luas, yakni keyakinan bahwa negara yang tidak disukai sebagian rakyatnya pasti akan runtuh lebih cepat ketika dihantam dari luar.

Masalah dari keyakinan semacam itu bukan hanya karena asumsi tersebut sering salah. Masalah utamanya adalah karena cara berpikir seperti itu membuat perang dirancang di atas asumsi politik yang belum tentu pernah nyata.

Begitu asumsi itu patah, semua yang tersisa hanyalah perang dalam bentuk paling telanjang, lebih panjang, lebih mahal, lebih liar, dan jauh lebih sulit diakhiri daripada yang dibayangkan ketika pertama kali dinyalakan.

Sejarah Selalu Menghukum Mereka yang Terlalu Cepat Merasa Paham

Pada akhirnya, perang ini mungkin akan dikenang bukan semata karena kecanggihan mesin tempurnya, melainkan karena ilusi yang melahirkannya.

Ada sesuatu yang hampir klasik dalam cara perang semacam ini dimulai, yakni kepercayaan yang terlalu besar pada kekuatan, keyakinan yang terlalu cepat pada keruntuhan lawan, dan anggapan bahwa masyarakat yang hidup di bawah tekanan akan dengan sendirinya bergerak mengikuti kebutuhan strategi eksternal.

Tetapi sejarah jarang tunduk pada desain yang terlalu percaya diri.

Jika benar Israel dan Amerika Serikat memulai perang ini dengan keyakinan bahwa Iran dapat dipukul dari luar lalu runtuh dari dalam, maka sejauh ini yang tampak justru kebalikannya. Negara itu tidak roboh. Jalan-jalannya tidak meledak menjadi revolusi. Sebaliknya, perang yang semula dibayangkan dapat diselesaikan dengan cepat kini berubah menjadi ujian panjang atas stamina, legitimasi, dan ketahanan strategis semua pihak yang terlibat, terutama Washington dan Tel Aviv.

Pada akhirnya, senjata memang bisa merusak banyak hal. Tetapi tidak semua negara runtuh hanya karena ada yang terlalu yakin mereka akan runtuh. []