Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Idul Fitri dan Tuntutan Sejarah untuk Berpihak dalam Pesan Ketua Umum ABI

Published

on

Ketua Umum ABI Ustadz Zahir Yahya: Kesiapan Sambut Imam Mahdi Bersifat Kolektif
Ketua Umum ABI Ustadz Zahir Yahya: Kesiapan Sambut Imam Mahdi Bersifat Kolektif. (Dok. Media ABI)

Oleh: Muhlisin Turkan

Jakarta, 22 Maret 2026 — Idul Fitri 1447 Hijriah, bertepatan pada Sabtu, 21 Maret 2026, tidak hadir dalam ruang hampa. Momentum ini datang di tengah dunia yang bergolak, diwarnai konflik global yang kian terbuka memperlihatkan garis pemisah antara kekuatan yang saling berhadapan. Dalam konteks tersebut, pesan Ketua Umum DPP Ahlulbait Indonesia, Ustadz Zahir Yahya, menegaskan satu hal mendasar bahwa umat Islam tidak boleh membaca realitas tersebut secara parsial, apalagi terlepas dari kerangka besar ketetapan Ilahi.

Pesan itu secara eksplisit mengajak umat memahami bahwa peristiwa-peristiwa global bukanlah kejadian acak. Semua merupakan bagian dari skenario besar Tuhan dalam perjalanan sejarah umat manusia, sebuah rencana menuju tegaknya Islam sebagai kekuatan global yang memimpin peradaban dunia.

Dalam kerangka tersebut, konflik yang tampak di permukaan tidak dapat direduksi hanya sebagai pertikaian antarnegara. Apa yang berlangsung, sebagaimana ditegaskan dalam pidato itu, merupakan konfrontasi antara dua poros utama, yakni Poros Islam dan Poros Zionis yang didukung kekuatan imperialisme global. Situasi ini bukan konflik geopolitik biasa, melainkan benturan ideologis dan peradaban dengan akar panjang dalam sejarah dan wahyu.

Lebih jauh, pesan tersebut menempatkan perjalanan ini dalam kesinambungan kepemimpinan Ilahi yang dimulai dari Rasulullah, dilanjutkan oleh para pejuang umat sepanjang zaman, hingga mencapai puncaknya pada era Imam Mahdi, pemimpin yang akan menghadirkan keadilan universal serta menegakkan kedaulatan Islam secara nyata.

Dalam perspektif ini, kemenangan Islam bukan hanya bersifat intelektual atau simbolik, melainkan konkret. Dunia yang diproyeksikan merupakan tatanan yang dipenuhi keadilan, kemakmuran, serta terbebas dari penindasan. Visi ini tidak berhenti sebagai gagasan normatif, melainkan diyakini sebagai keniscayaan sejarah.

Realisasi rencana besar tersebut tidak berlangsung tanpa peran manusia. Sebagaimana ditegaskan dalam rujukan Al-Qur’an, kemenangan itu melibatkan keterlibatan aktif kaum mukminin dalam berbagai bentuk dan kapasitas. Mulai dari keberpihakan hati hingga kontribusi nyata dalam penguatan umat, seluruh lapisan masyarakat memiliki ruang untuk berperan.

Di titik ini, pesan tersebut menjadi konkret dan operasional. Umat tidak diberi ruang untuk bersikap netral. Setiap individu, baik guru, mahasiswa, profesional, pengusaha, maupun ibu rumah tangga, dituntut mengambil posisi dengan berpihak kepada barisan yang haq, menunjukkan kepedulian, serta memberikan dukungan melalui tenaga, pikiran, waktu, dan harta.

Di sisi lain, pesan ini juga menegaskan keberadaan poros musuh yang secara aktif berupaya menggagalkan rencana Ilahi. Dengan merujuk pada Al-Qur’an, disebutkan bahwa permusuhan paling keras terhadap kaum beriman datang dari kelompok tertentu yang memiliki karakter dominasi, rasisme, serta kecenderungan penindasan. Hal ini menegaskan bahwa konflik yang berlangsung memiliki dimensi moral yang tegas.

Pada akhirnya, pesan Idul Fitri Ketua Umum ABI ini menempatkan umat pada persimpangan kesadaran, menjadi bagian dari arus besar sejarah Ilahi atau menjadi penonton dari peristiwa yang pasti terjadi. Sebagaimana ditegaskan, skenario akhir zaman tetap akan berlangsung dengan atau tanpa keterlibatan kita.

Pesan Idul Fitri dalam perspektif ini bukan hanya perayaan kemenangan spiritual. Momentum ini menjadi penegasan posisi, sebuah panggilan untuk kembali kepada fitrah sekaligus kepada tanggung jawab sejarah.

Karena pada akhirnya, kemenangan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang benar, tetapi oleh siapa yang mengambil posisi dan tetap berdiri di pihak kebenaran. []