Opini
Bab el-Mandeb Bergabung dengan Hormuz sebagai Pilar Kekuatan Ekonomi Global
Ahlulbait Indonesia | 31 Maret 2026 — Ketegangan di Selat Hormuz di tengah perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran terus menekan arus energi global. Kini, masuknya Yaman ke dalam konflik membuka titik rawan kedua, yakni Selat Bab el-Mandeb, yang memiliki dampak langsung terhadap perdagangan internasional, biaya pengiriman, serta aliran minyak dan gas menuju pasar Eropa.
Perang di kawasan kini memasuki fase baru. Setelah mengalami kemunduran dalam konfrontasi langsung, Amerika Serikat dan Israel mulai mengalihkan tekanan ke serangan terhadap infrastruktur strategis dan membuka kemungkinan invasi darat.
Dalam perkembangan itu, Ansarullah Yaman secara resmi mengumumkan keterlibatannya dalam perang dan menyatakan keberpihakan kepada Iran. Operasi awal kelompok tersebut mencakup serangan rudal dan pesawat nirawak ke wilayah pendudukan Israel, namun bobot strategis Yaman tidak berhenti pada operasi militer semata.
Seorang pejabat senior Ansarullah menyatakan seluruh opsi masih dipertimbangkan, termasuk kemungkinan menutup Selat Bab el-Mandeb bagi kapal-kapal milik negara yang terlibat dalam agresi. Peringatan tersebut diarahkan pada salah satu koridor maritim terpenting yang menopang perdagangan global.
Pentingnya faktor geografi dalam perkembangan ini sangat menonjol. Seperti dikatakan Napoleon Bonaparte, “kebijakan suatu negara terletak pada geografinya.”
Letak Yaman di sepanjang Bab el-Mandeb menempatkannya dalam jangkauan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Selat ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Laut Arab, sekaligus menjadi penghubung utama antara Asia, Tanduk Afrika, dan Eropa melalui Terusan Suez.
Skala aktivitas ekonomi yang melintasi koridor ini sangat besar. Lebih dari 8 juta barel minyak melewati Bab el-Mandeb setiap hari. Selain itu, 58 kapal yang membawa gas alam cair (LNG) juga dilaporkan melintasi jalur ini.
Sekitar 40 persen perdagangan antara Asia dan Eropa bergerak melalui rute tersebut. Jalur ini juga menopang sekitar 20 persen perdagangan maritim global untuk beras, 20 persen untuk gandum, serta 40 persen perdagangan pupuk melalui jalur laut.
Nilai tahunan barang dan jasa yang diangkut melalui Bab el-Mandeb diperkirakan melampaui 800 miliar dolar AS, mendekati 1 triliun dolar AS. Besarnya volume tersebut bahkan melampaui total produk domestik bruto banyak negara di kawasan.
Sebagian besar perdagangan antara Eropa dan Tiongkok juga melintasi Laut Merah, menjadikan Bab el-Mandeb sebagai komponen sentral dalam perdagangan antarbenua.
Konsekuensi ekonomi dari gangguan di jalur ini semakin besar karena minimnya alternatif yang efisien. Ekspor minyak dan gas dari negara-negara Teluk Persia menuju Eropa melalui Terusan Suez tetap harus melewati Bab el-Mandeb.
Rute alternatif yang memutar melalui ujung selatan Afrika menuju Selat Gibraltar atau Eropa utara memperpanjang waktu pengiriman hingga delapan sampai sembilan hari. Kondisi itu meningkatkan biaya transportasi dan menurunkan efisiensi rantai pasok global.
Arab Saudi selama ini berupaya mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz dengan membangun jalur pipa yang mengangkut minyak dari wilayah timurnya ke pelabuhan-pelabuhan di Laut Merah. Skema ini memungkinkan sebagian ekspor Saudi melewati Hormuz.
Namun secara geografis, jalur pipa tersebut tetap berada dalam ruang jangkau Yaman. Jika terganggu, kapasitas ekspor minyak Saudi dapat menurun tajam dan menciptakan tekanan besar terhadap pasokan energi regional.
Kombinasi tekanan di Selat Hormuz dan potensi penutupan Bab el-Mandeb menciptakan kendala ganda pada arus energi dunia. Situasi ini pada akhirnya memperbesar tekanan terhadap Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan Teluk Persia.
Dampaknya tidak terbatas pada pasar energi. Gangguan di dua jalur tersebut juga menjalar ke perdagangan barang, termasuk komoditas pangan dan bahan baku industri.
Dalam situasi yang semakin sensitif itu, Angkatan Laut Eropa menetapkan tingkat ancaman bagi kapal-kapal yang tidak terkait dengan Amerika Serikat atau Israel pada level “sedang” dan mendesak seluruh kapal komersial serta tanker untuk menjauhi perairan Yaman.
Peringatan tersebut dikeluarkan oleh misi Angkatan Laut Eropa, Aspides, yang beroperasi di Teluk Aden. Pada saat yang sama, pasukan Eropa di kawasan tetap berada dalam kondisi siaga penuh sambil terus memantau perkembangan.
Gangguan sekecil apa pun di jalur ini akan langsung memicu kenaikan biaya transportasi, lonjakan premi asuransi, dan pada akhirnya mendorong harga barang lebih tinggi di pasar Eropa maupun Asia.
Kapal-kapal yang hendak melewati Terusan Suez dan Laut Merah kini dihadapkan pada dua pilihan: mengambil jalur yang lebih panjang dan mahal melalui Tanjung Harapan (Cape of Good Hope. Tanjung bebatuan di ujung selatan Semenanjung Cape, sekitar 50 km selatan Cape Town, Afrika Selatan, menghadap Samudera Atlantik), atau tetap melintas dengan risiko serangan yang lebih tinggi.
Realitas di lapangan menunjukkan Republik Islam Iran, dengan mengandalkan sekutu-sekutu regionalnya, kini memiliki kemampuan untuk memberi pengaruh langsung atas dua titik rawan energi paling penting di dunia.
Peringatan Eropa kepada kapal-kapal agar menghindari perairan Yaman secara tidak langsung mencerminkan pengakuan atas perubahan keseimbangan maritim di kawasan, setelah Poros Perlawanan yang bersekutu dengan Iran memperluas ruang tekan strategisnya.
Jika Yaman memperluas operasinya hingga mencakup serangan ke negara-negara tetangga di Dewan Kerja Sama Teluk Persia (P-GCC), konsekuensinya bisa jauh lebih berat.
Yaman berada dalam posisi yang lebih menguntungkan dibanding Iran untuk menjangkau infrastruktur Saudi dan pangkalan militer Barat di kawasan Teluk Persia.
Perang dalam skenario seperti itu kemungkinan akan jauh lebih intens, lebih merusak, dan lebih luas daripada gelombang konflik sebelumnya. Situasi tersebut juga dapat menyeret kawasan ke babak baru yang mengingatkan pada perang Saudi-Yaman 2015, yang sempat mereda pada 2022.
Singkatnya, jika operasi Yaman terus meluas, tekanan terhadap keamanan perdagangan dan energi yang terhubung dengan Amerika Serikat dan Israel akan meningkat tajam. Perkembangan ini sekaligus menyoroti kemampuan Poros Perlawanan dalam membentuk ulang dinamika kekuatan regional dan lanskap ekonomi global. []
