Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Ali Larijani dan Pesan di Balik Gestur Ikonik Syahid Hassan Nasrallah kepada Donald Trump

Published

on

Ali Larijani dan Pesan di Balik Gestur Ikonik Syahid Hassan Nasrallah kepada Donald Trump

Oleh: Muhlisin Turkan

Ahlulbait Indonesia, 8 Maret 2026 — Dalam geopolitik modern, pesan paling keras sering kali tidak lahir dari pidato panjang atau nota diplomatik, melainkan melalui simbol yang dirancang untuk dipahami seketika. Simbol yang tepat sering mampu menyampaikan pesan strategis dengan daya tekan yang jauh lebih kuat.

Di era perang informasi dan diplomasi digital, satu gambar dapat menjadi peringatan geopolitik.

Hal ini terlihat ketika Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, melalui akun X merespons unggahan resmi The White House pada Minggu (8/3/2026). Unggahan tersebut menampilkan momen dignified transfer, upacara pemulangan enam jenazah tentara Amerika Serikat yang tewas di Kuwait, yang dihadiri Presiden Trump dan istrinya serta Wakil Presiden Vance dan istrinya.

Respons Larijani tidak berupa kecaman panjang ataupun pernyataan diplomatik. Tokoh politik Iran tersebut justru mengunggah foto legendaris Syahid Sayyid Hassan Nasrallah yang memperagakan gestur tangan khas dan ikonik: satu tangan horizontal berada di atas tangan lain yang vertikal, membentuk huruf “T”.

Gestur yang tampak sederhana itu segera memantik berbagai interpretasi. Dalam konteks konflik yang sarat sinyal strategis, pilihan simbol seperti ini hampir selalu membawa pesan politik tertentu. Unggahan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional antara Amerika Serikat, Israel, dan Poros Perlawanan di Timur Tengah.

Baca juga : Kesalahan Strategis Trump dan Netanyahu: Menantang Kekuatan Tak Terlihat di Iran

Simbol “Garis Merah” dalam Retorika Konflik

Dalam kultur politik Timur Tengah, gestur tersebut lama dipahami sebagai simbol “garis merah” (red line), yaitu batas strategis yang tidak boleh dilampaui dalam sebuah konflik.

Makna pesan ini ringkas tetapi tegas. Terdapat ambang tertentu yang tidak dapat dinegosiasikan. Apabila batas itu dilanggar, respons akan mengikuti.

Dalam konteks unggahan Larijani, simbol tersebut dapat dibaca sebagai bentuk deterrence signaling, yaitu komunikasi strategis yang bertujuan mencegah AS dan Israel melakukan langkah yang berpotensi memicu eskalasi konflik.

Larijani tidak menyampaikan ancaman secara verbal. Bahasa simbolik yang dipilih justru menyampaikan pesan yang lebih padat dan langsung. Pesan yang tersirat dapat dirumuskan dengan sederhana: Stop. Sampai di sini!. Terdapat batas yang tidak boleh dilampaui.

Dalam logika geopolitik, sinyal seperti ini sering bertujuan menjaga stabilitas konflik. Dengan memperjelas batas strategis, sebuah negara berusaha mencegah salah perhitungan atau miscalculation yang dapat mendorong eskalasi tidak terkendali.

Di sinilah simbol bekerja sebagai instrumen komunikasi keamanan.

Mengapa Syahid Nasrallah, Bukan Simbol Iran?

Pilihan Larijani untuk menggunakan foto Syahid Hassan Nasrallah juga mengandung makna geopolitik yang penting. Larijani tidak menggunakan simbol resmi Iran maupun figur negara Iran lainnya. Sebaliknya, simbol yang dipilih berasal dari luar negeri, yaitu pemimpin Perlawanan Islam Hizbullah Lebanon.

Secara strategis, pilihan ini menyampaikan beberapa pesan.

Pertama, Syahid Hassan Nasrallah melambangkan jaringan Perlawanan regional yang lebih luas. Dalam arsitektur keamanan Timur Tengah, Iran tidak hanya beroperasi sebagai negara nasional, tetapi juga sebagai pusat jaringan aktor non-negara yang sering disebut sebagai Poros Perlawanan.

Dengan menggunakan simbol Syahid Nasrallah, pesan yang disampaikan tidak terbatas pada posisi Iran saja, tetapi juga merujuk pada dimensi regional dari konflik tersebut.

Kedua, simbol tersebut memperluas ruang deterrence. Apabila simbol nasional Iran yang digunakan, pesan tersebut dapat terbaca sebagai peringatan negara terhadap negara. Namun ketika simbol Syahid Nasrallah yang muncul, pesan yang terbentuk menjadi lebih luas: konflik berpotensi melibatkan seluruh Poros Perlawanan yang lebih besar.

Baca juga : Menanti Imam Zaman di Tengah Dunia yang Retak

Ketiga, Syahid Hassan Nasrallah memiliki nilai simbolik yang kuat dalam narasi Perlawanan di kawasan. Figur ini bukan hanya tokoh politik, tetapi juga simbol retorika resistensi terhadap Israel dan Amerika Serikat.

Dalam komunikasi politik, simbol yang memiliki resonansi emosional seperti ini sering kali lebih efektif dibandingkan pesan formal yang panjang.

Ambiguitas Strategis sebagai Bahasa Deterrence

Gestur tersebut juga bekerja karena memanfaatkan prinsip yang dikenal dalam studi strategi sebagai strategic ambiguity. Pesan yang disampaikan cukup jelas untuk dipahami, tetapi tidak menjelaskan secara rinci tindakan apa yang akan diambil jika batas tersebut dilanggar. Ambiguitas semacam ini bukan kelemahan komunikasi. Justru di sinilah kekuatan deterrence sering berada.

Dengan tidak merinci respons yang mungkin dilakukan, pihak pengirim pesan menciptakan ruang ketidakpastian bagi lawan. Ketidakpastian tersebut dapat meningkatkan kehati-hatian dalam pengambilan keputusan strategis.

Dalam konteks keamanan internasional, ketidakjelasan yang terkelola dengan baik sering menjadi instrumen stabilitas.

Diplomasi di Era Simbol

Peristiwa ini menunjukkan perubahan cara komunikasi geopolitik bekerja pada abad ke-21. Diplomasi tidak lagi hanya berlangsung melalui nota resmi atau meja perundingan. Komunikasi strategis juga berlangsung di ruang simbolik, melalui foto, gestur, dan unggahan digital.

Di sinilah geopolitik modern menemukan salah satu bahasanya yang paling efektif. Satu gambar dapat menjadi pesan strategis. Bahkan satu simbol dapat berubah menjadi peringatan geopolitik.

Dalam politik global kontemporer, kekuatan pesan tidak lagi diukur dari panjangnya kalimat, melainkan dari ketepatan simbol yang digunakan. Kadang sebuah gestur sederhana mampu menyampaikan makna yang tidak dapat diungkapkan oleh seribu kata. []

Baca juga : Antara Seattle dan Jakarta – Menghapus Kill Line dengan Keadilan Islam