Ikuti Kami Di Medsos

Wawancara

#Podcast | Eskalasi Konflik Asia Barat Menguat, Aktivis Palestina: Israel Panik Hadapi Hari Al-Quds

Published

on

#Podcast | Eskalasi Konflik Asia Barat Menguat, Aktivis Palestina: Israel Panik Hadapi Hari Al-Quds

Jakarta, 12 Maret 2026 — Eskalasi konflik di Asia Barat meningkat menjelang peringatan Hari Al-Quds Sedunia. Iran melancarkan serangkaian serangan balasan terhadap Israel serta kepentingan militer Amerika Serikat setelah gugurnya pemimpin tertinggi Revolusi Islam Iran, Imam Ali Khamenei.

Ketegangan tersebut muncul di tengah bulan Ramadan, saat berbagai negara bersiap memperingati Hari Al-Quds, sebuah momentum global yang sejak lama digunakan untuk menggalang solidaritas internasional bagi perjuangan Palestina.

Aktivis Palestina sekaligus pengamat Poros Perlawanan, Sayyid Abbas Hasni, yang juga merupakan salah satu Presidium Aliansi Nasional Anti Zionis (ANAZ), menilai perkembangan terbaru di kawasan menandai fase baru konfrontasi geopolitik di Timur Tengah.

Pandangan tersebut disampaikan dalam Kanal Podcast ABI bertema “Kenapa Israel Panik dengan Al-Quds Day?” yang tayang pada 11 Maret 2026 dan dipandu oleh host Billy Joe.

Babak Baru Konflik Kawasan

Abbas menyebut konflik terbuka Iran melawan koalisi Israel–Amerika memasuki tahap baru. Menurutnya, operasi militer intensif berlangsung sejak sembilan hari terakhir melalui rangkaian serangan balasan yang dikenal sebagai Operasi “Janji yang Ditepati” Jilid 4.

Serangan tersebut disebut telah mencapai puluhan gelombang. “Tentu saja kita melihat ini sebagai babak baru,” kata Abbas.

“Peristiwa ini ditandai dengan gugurnya pemimpin tertinggi Revolusi Islam Iran, Syahid Ayatullah Al-Imam Ali Khamenei. Kejadian ini menjadi garis merah sangat dalam bagi rakyat Iran.”

Iran sejak lama menyatakan kepentingan militer Amerika di kawasan dapat menjadi target jika garis merah keamanan nasional dilanggar.

Dalam perbandingan kekuatan militer global, Amerika Serikat menempati posisi pertama dunia sementara Iran berada di peringkat ke-16. Namun Abbas menilai kondisi lapangan menunjukkan dinamika berbeda. “Iran berada jauh lebih unggul di atas Amerika,” ujarnya.

“Penentu utama bukan sekadar angka peringkat militer, tetapi sumber daya manusia dan fasilitas yang digunakan. Rudal yang digunakan memang sebagian berasal dari stok lama, namun telah mengalami regenerasi teknologi. Ada Syahab, Khaibar, Rudal Fattah, serta drone tempur yang mampu menembus bunker.”

Menurut Abbas, dampak serangan tersebut jarang muncul dalam laporan media Barat. “Sekali serangan merenggut ratusan korban dari tentara Amerika. Pihak yang paling menderita adalah Israel, khususnya di pangkalan militer mereka.”

Iran dan Infrastruktur Perlawanan Palestina

Abbas menyebut dukungan Iran terhadap Palestina menjadi faktor utama ketegangan antara Teheran dan Tel Aviv. Sebelum Revolusi Iran 1979, banyak negara Arab dinilai enggan menghadapi Israel secara langsung setelah mengalami kekalahan militer dalam perang kawasan.

Situasi berubah setelah berdirinya Republik Islam Iran. “Empat dekade perjuangan dijalani dalam konsistensi yang sangat kuat,” kata Abbas.

“Hampir setiap orasi pemimpin Iran selalu diiringi teriakan ‘Mampus Amerika, Mampus Israel’.”

Abbas juga mengutip pengakuan sejumlah pemimpin Hamas yang telah gugur dalam konflik Palestina. “Kalau bukan karena bantuan Iran dan fasilitas yang diberikan Iran, maka kami tidak akan pernah memiliki rudal atau roket untuk membalas penjajahan.”

Menurut Abbas, Israel memandang Iran sebagai sumber kekuatan utama bagi kelompok Perlawanan Palestina.

“Secara matematis Palestina mudah dikalahkan. Namun selama sumber perlawanan masih ada, moralitas, spiritualitas, fasilitas, dan persenjataan kelompok perlawanan akan terus menguat.”

Hari Al-Quds dan Tekanan Opini Global

Hari Al-Quds Sedunia diperingati setiap Jumat terakhir Ramadan sejak digagas Ayatullah Ruhollah Khomeini pada 1979. Sebagian kalangan memandang aksi tersebut sekadar demonstrasi simbolik. Namun Abbas menilai mobilisasi global tersebut memiliki dampak psikologis dan politik yang besar.

Ia menyinggung pernyataan Monique Rijkers, tokoh dan aktivis pro Zionis di Indonesia sekaligus pendiri organisasi Hadassah of Indonesia, dalam sebuah tayangan televisi swasta.

Baca juga : #Podcast | AS Salah Hitung? Pakar Universitas Brawijaya Ungkap Kekuatan Iran

“Monique menyampaikan secara terbuka,” kata Abbas.

“Dia mengatakan mereka tidak ingin mengganti rezim Iran jika dua hal bisa dihentikan. Pertama, Iran tidak perlu membuat Hari Al-Quds Sedunia. Kedua, yang paling menyebalkan adalah teriakan ‘Mampus Amerika, Mampus Israel’.”

Menurut Abbas, pernyataan tersebut menunjukkan kekhawatiran pihak pro-Israel terhadap dampak mobilisasi opini global melalui Hari Al-Quds.

Aksi tersebut kini berlangsung di berbagai negara. Di Indonesia, kegiatan solidaritas disebut berkembang dari kelompok kecil menjadi puluhan titik aksi setiap akhir Ramadan.

Slogan Perlawanan dan Perang Opini

Abbas juga menanggapi kritik terhadap slogan “Mampus Amerika, Mampus Israel” yang sering muncul dalam aksi solidaritas Palestina. Menurutnya, slogan tersebut tidak diarahkan kepada warga sipil.

“Kalimat ‘mampus’ atau ‘mati’ menunjukkan tidak ada masa depan bagi kezaliman. Semua orang menghindari kebinasaan. Secara sunatullah, kebatilan tidak memiliki masa depan.”

Menurut Abbas, sasaran kritik adalah sistem politik yang dianggap mewakili dominasi global. “Yang dihadapi adalah sistem arogansi yang diwakili pemerintahan Amerika dan pemerintahan Barat.”

Ia juga menyinggung aturan di Israel terkait penyebaran informasi kerusakan akibat serangan. “Di Israel, mengunggah kerusakan atau jumlah korban dapat dikenai hukuman lima tahun penjara. Media Barat jarang menampilkan fakta kerusakan secara utuh.”

Kritik terhadap Standar Ganda Global

Abbas menyoroti sikap negara Barat dan sebagian negara Muslim terhadap konflik kawasan. Menurutnya, sejumlah negara Barat sering berbicara tentang hak asasi manusia namun tidak mengambil langkah konkret terhadap konflik Palestina.

Ia juga menilai sebagian negara Muslim menunjukkan sikap tidak konsisten dalam merespons konflik Iran dengan Israel dan Amerika. “Saat Iran diserang mereka mengecam Iran. Saat Iran membalas mereka kembali mengecam Iran.”

Relevansi Al-Quds bagi Indonesia

Abbas menilai isu Al-Quds memiliki keterkaitan dengan Indonesia pada tiga level: konstitusional, kemanusiaan, dan keagamaan. Prinsip anti-kolonialisme tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. “Selama masih ada penjajahan di dunia, Indonesia akan menentangnya.”

Selain itu, pengalaman sejarah Indonesia sebagai bangsa yang pernah dijajah memperkuat solidaritas terhadap Palestina.

Dalam perspektif keagamaan, Al-Quds memiliki posisi penting dalam tradisi Islam sebagai kiblat pertama sebelum berpindah ke Makkah.

Seruan Persatuan Umat

Abbas juga menyoroti munculnya narasi sektarian dalam konflik Timur Tengah, terutama isu Sunni dan Syiah. Menurutnya, narasi tersebut sering dimanfaatkan untuk memecah solidaritas umat Islam. “Hari Al-Quds digagas sebagai hari pemersatu seluruh umat Islam.”

Ia mencontohkan Iran, Yaman, dan Lebanon sebagai wilayah yang menunjukkan solidaritas lintas mazhab dalam menghadapi konflik kawasan.

Momentum Al-Quds 2026

Peringatan Hari Al-Quds tahun ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Asia Barat. Sejumlah tokoh perlawanan dilaporkan gugur dalam konflik yang terus bereskalasi dalam beberapa waktu terakhir.

Meski demikian, Sayyid Abbas Hasni menilai momentum tersebut justru memperkuat solidaritas global terhadap perjuangan Palestina.

“Apapun yang keluar dari mulut Amerika dan Israel adalah kedustaan,” ujar Abbas.

“Kita harus percaya kepada saudara sesama muslim serta menyingkirkan perbedaan yang tidak prinsipil.”

Di Indonesia, ribuan masyarakat diperkirakan kembali turun ke jalan pada Jumat terakhir Ramadan dalam aksi solidaritas memperingati Hari Al-Quds Sedunia.

Ulasan lengkap pernyataan tersebut dapat disimak dalam Kanal Podcast ABI bertajuk “Kenapa Israel Panik dengan Al-Quds Day?”. []

Baca juga : #Podcast ABI | 47 Tahun Diembargo dan Ditekan Barat, Mengapa Iran Tak Pernah Tumbang?