Ikuti Kami Di Medsos

Nasional

Organisasi Mahasiswa Kecam Sikap Pemerintah, Sebut Prabowo-Gibran “Antek Imperialis AS”

Published

on

Mahasiswa menilai ART sebagai skema konsesi dagang yang membuka kewajiban impor komoditas Amerika Serikat serta memperluas akses investasi asing terhadap sumber daya strategis, Selasa (3/3/26) (Foto: Mudanews.com)

Jakarta, 3 Maret 2026 – Sejumlah organisasi mahasiswa dan pemuda menggelar aksi damai di Jakarta, Selasa (3/3/2026), mengecam serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran serta menuding pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berpihak pada kepentingan imperialis.

Melansir situs Faktanasional pada Selasa, aksi tersebut diikuti sedikitnya tujuh organisasi yang menyatakan sikap resmi di ruang publik ibu kota. Mereka terdiri atas Front Mahasiswa Nasional, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) DKI Jakarta, GMNI Jakarta Selatan, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jakarta Pusat–Jakarta Utara, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Jakarta Pusat, Pemuda Baru Kapuk (PBK), serta Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA).

Dalam pernyataan sikap, massa aksi menilai pemerintah menunjukkan keberpihakan pada Amerika Serikat melalui kebijakan perdagangan dan partisipasi dalam forum internasional.

“Pemerintahan Prabowo-Gibran tanpa ditodong rudal balistik, tapi dengan sigap tunduk dan taat pada tuntutan Presiden AS Donald Trump sejak ditetapkannya tarif impor AS dan negosiasi-negosiasi selanjutnya,” ujar perwakilan mahasiswa.

Mereka juga menyoroti penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) serta keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace dan ISF. Menurut pernyataan tersebut, kebijakan itu dinilai tidak selaras dengan prinsip kedaulatan nasional.

“Tindakan menjijikkan Prabowo-Gibran berpuncak pada penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) dan keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace dan ISF. Semuanya berbanding terbalik dengan omon-omon kedaulatan bangsa,” lanjut perwakilan massa.

Mahasiswa menilai ART sebagai skema konsesi dagang yang membuka kewajiban impor komoditas Amerika Serikat serta memperluas akses investasi asing terhadap sumber daya strategis. Mereka juga mengkritik partisipasi Indonesia dalam forum internasional yang dianggap berkontribusi pada normalisasi relasi dengan Israel.

Selain isu geopolitik, massa aksi mengangkat persoalan domestik, mulai dari pembatasan ruang demokrasi, kriminalisasi aktivis, perampasan tanah, hingga pemangkasan anggaran layanan sosial.

“Terang bahwa tindakan rezim fasis dan boneka AS Prabowo-Gibran sangatlah menjijikkan, memalukan, dan menghina rakyat Indonesia serta konstitusi,” tegas perwakilan mahasiswa.

Delapan Tuntutan Mahasiswa

Dalam pernyataan sikap yang dibacakan di lokasi aksi, mahasiswa dan aktivis pemuda menyampaikan delapan tuntutan:

1. Mengecam dan menolak agresi serta perang yang dipimpin Amerika Serikat bersama Israel terhadap negara-negara berdaulat.
2. Menolak keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace dan ISF.
3. Menolak konsesi dagang Agreement on Reciprocal Trade.
4. Menolak segala bentuk kerja sama Indonesia dengan Israel serta meminta penghentian operasi PT Ormat di sejumlah daerah.
5. Mendesak Freeport angkat kaki dari Papua.
6. Menuntut pelaksanaan reforma agraria sejati dan pembangunan industri nasional.
7. Mendorong persatuan rakyat anti-imperialis dan anti-feodal.
8. Menguatkan solidaritas internasional terhadap rakyat tertindas di berbagai negara.

Aksi berlangsung tertib di bawah pengamanan aparat kepolisian tanpa insiden apapun. []