Ikuti Kami Di Medsos

Nasional

Gempa 5,4 Guncang Jailolo, Sempat Picu Peringatan Tsunami; ABI Sampaikan Duka untuk Sulut dan Malut

Published

on

Pada fase awal pemantauan, BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami, namun status itu kemudian dicabut setelah pembaruan analisis menyatakan gempa tidak berpotensi tsunami. (Dok. ABI)

Jailolo, 2 April 2026 — Gempa bumi magnitudo 5,4 mengguncang wilayah barat laut Jailolo, Maluku Utara, Kamis (2/4/2026), dan getarannya dirasakan hingga sejumlah wilayah di Maluku Utara dan Sulawesi Utara, termasuk Ternate dan Manado. Pada fase awal pemantauan, BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami, namun status itu kemudian dicabut setelah pembaruan analisis menyatakan gempa tidak berpotensi tsunami.

BMKG mencatat gempa terjadi pada pukul 10.23 WIB dengan kedalaman 10 kilometer. Episentrum berada di laut pada koordinat 1,36 LU dan 126,62 BT, sekitar 99 kilometer barat Jailolo, Maluku Utara. Otoritas meteorologi juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai kemungkinan gempa susulan.

Guncangan dilaporkan terasa cukup luas. Data BMKG menunjukkan intensitas gempa mencapai IV–V MMI di Batang Dua, IV MMI di Ternate, serta II–III MMI di Manado, Minahasa, Minahasa Tenggara, dan Minahasa Utara. Situasi tersebut sempat memicu kepanikan warga, terutama di kawasan pesisir dan permukiman.

Hingga laporan ini disusun, belum ada data resmi final mengenai keseluruhan dampak kerusakan di seluruh wilayah terdampak. Namun, laporan media nasional menyebutkan gempa utama di kawasan Ternate–Bitung pada hari yang sama memicu kerusakan ringan di sejumlah titik dan memunculkan rangkaian gempa susulan yang masih dipantau BMKG.

Di tengah situasi tersebut, keluarga besar Ahlulbait Indonesia (ABI) menyampaikan duka dan solidaritas bagi masyarakat di Sulawesi Utara dan Maluku Utara yang terdampak gempa.

“Semoga Allah SWT memberikan kekuatan dan ketabahan atas musibah dan ujian ini,” demikian pesan yang disampaikan ABI pada Kamis (2/4/2026).

BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang, tidak terpancing informasi yang belum terverifikasi, serta terus mengikuti pembaruan resmi dari BMKG, BPBD, dan aparat pemerintah daerah. Dalam situasi seperti ini, satu hal yang paling berbahaya memang bukan hanya gempa, tapi juga grup WhatsApp keluarga yang mendadak jadi pusat “analisis tektonik nasional”. []

Continue Reading