Ikuti Kami Di Medsos

Nasional

Demo di Kedubes AS, ANAZ–KOSPY Sebut Serangan Amerika–Israel ke Iran sebagai “Terorisme Negara”

Published

on

Demo di Kedubes AS, ANAZ–KOSPY Sebut Serangan Amerika–Israel ke Iran sebagai “Terorisme Negara”

Jakarta, 9 Maret 2026 — Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Zionisme (ANAZ) dan Komite Solidaritas Palestina dan Yaman (KOSPY) menggelar aksi solidaritas di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (9/3).

Aksi yang berlangsung pukul 14.00 hingga 17.00 WIB itu digelar sebagai bentuk protes atas serangan militer yang mereka sebut sebagai agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran. Demonstrasi berlangsung dengan pengawalan aparat kepolisian di sekitar kawasan diplomatik tersebut.

Para peserta aksi membawa spanduk dan poster berisi kecaman terhadap Amerika Serikat dan Israel, serta menyerukan solidaritas internasional terhadap Iran, Lebanon, dan Yaman di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Perwakilan KOSPY, Zaid Ali, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk sikap moral masyarakat yang menolak diam terhadap serangan terhadap negara berdaulat.

“Dunia hari ini tidak sedang menyaksikan kematian seorang manusia, melainkan upaya sia-sia untuk memadamkan cahaya kebenaran,” kata Zaid Ali dalam rilis yang diterima Media ABI.

Ia menilai gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dipandang sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi kekuatan global.

“Syahadah beliau bukanlah sebuah kekalahan, melainkan proklamasi kemenangan moral di hadapan sejarah. Darah yang tumpah adalah tinta yang menuliskan babak baru perlawanan terhadap penindasan global,” ujarnya.

Dalam aksi tersebut, ANAZ dan KOSPY mengecam serangan terhadap Iran sebagai bentuk terorisme negara (state terrorism). Serangan terhadap pemimpin negara berdaulat dinilai sebagai tindakan extrajudicial killing yang melanggar prinsip hukum internasional serta norma kemanusiaan global.

Aliansi tersebut juga menyatakan solidaritas terhadap rakyat Lebanon dan Yaman yang mereka nilai turut terdampak oleh eskalasi konflik regional yang semakin meluas.

Selain isu konflik Timur Tengah, massa juga menyoroti keberadaan Board of Peace (BOP) yang mereka nilai sebagai pintu masuk kepentingan asing di Indonesia. Mereka mendesak pemerintah Indonesia serta lembaga legislatif untuk mengevaluasi hubungan dengan organisasi tersebut.

“Indonesia tidak boleh menjadi alat kepentingan asing yang mengatasnamakan perdamaian namun menghancurkan nilai konstitusional bangsa,” ujar Zaid.

Aksi berakhir pada sore hari setelah massa membacakan pernyataan sikap serta doa solidaritas bagi korban konflik di Timur Tengah.

Baca juga : Ayatullah Mojtaba Khamenei Resmi Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran, Kedubes Iran Tegaskan Hak Bela Diri

Pernyataan Sikap

Dalam penutupan aksi, massa membacakan pernyataan sikap yang diawali dengan kutipan ayat Al-Qur’an:

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.”

Pernyataan tersebut menegaskan duka sekaligus sikap politik atas perkembangan konflik di Timur Tengah.

“Dunia hari ini tidak sedang menyaksikan kematian seorang manusia, melainkan sedang menyaksikan upaya sia-sia untuk memadamkan cahaya kebenaran. Dengan hati yang penuh duka namun jiwa yang membara, kami yang berdiri di atas tanah merdeka Indonesia menyatakan sikap.”

Berikut poin-poin sikap yang disampaikan:

1. Penghormatan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran
ANAZ dan KOSPY menyampaikan penghormatan atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran. Syahadah tersebut dinilai sebagai simbol kemenangan moral serta awal babak baru perlawanan terhadap penindasan global.

2. Kecaman terhadap agresi Amerika–Israel
Serangan tersebut disebut bukan sekadar pelanggaran kedaulatan wilayah, tetapi juga tindakan extrajudicial killing dan bentuk terorisme negara (state terrorism) yang melanggar prinsip kemanusiaan.

3. Kritik terhadap standar ganda Barat
Dunia dinilai tidak boleh bungkam terhadap tindakan kekuatan global yang mengklaim membela hak asasi manusia, namun pada saat yang sama melakukan operasi militer yang memicu korban jiwa.

4. Solidaritas untuk Lebanon dan Yaman
Aliansi tersebut menyatakan dukungan terhadap rakyat Lebanon dan Yaman yang disebut turut terdampak oleh eskalasi konflik regional.

5. Kecaman terhadap dugaan operasi false flag
Pernyataan tersebut juga menyinggung dugaan penggunaan “bendera Iran” dalam operasi serangan palsu yang dinilai bertujuan menciptakan legitimasi agresi global serta memecah belah negara-negara Muslim.

6. Penolakan infiltrasi kepentingan asing
ANAZ dan KOSPY menolak berbagai bentuk normalisasi yang dinilai membuka ruang masuknya kepentingan Amerika dan Israel melalui lembaga tertentu di Indonesia.

7. Desakan evaluasi terhadap Board of Peace (BOP)
Aliansi tersebut mendesak pemerintah Indonesia dan lembaga legislatif untuk mengevaluasi serta memutuskan hubungan dengan organisasi tersebut yang mereka nilai berpotensi menjadi pintu masuk kepentingan asing.

Pernyataan tersebut menutup rangkaian aksi solidaritas yang digelar di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta.[]

Baca juga : Forum Tokoh Sipil Soroti Konflik Iran, Desak Pemerintah Jaga Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Continue Reading