Nasional
Komunitas Ahlul Bait Wonosobo, Gusdurian, dan Maiyah Duduk Bersama Rawat Ukhuwah di Tengah Perbedaan
Wonosobo, 3 April 2026 — Masih dalam suasana Idul Fitri, Komunitas Ahlul Bait Wonosobo menggelar pembacaan doa bersama Jausyan Kabir yang dilanjutkan dengan diskusi serta halal bihalal bersama Gusdurian Wonosobo dan Saba Maiyah Wonosobo, Rabu, 1 Maret 2026.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang perjumpaan antarkomunitas untuk merawat persaudaraan dan membangun saling pengertian di tengah perbedaan yang selama ini kerap disalahpahami.
Usai pembacaan doa Jausyan Kabir, diskusi dibuka oleh Ketua Gusdurian Wonosobo, Dr. Lutfan Muntaqo, yang menekankan pentingnya merawat ukhuwah dengan landasan pemahaman yang dewasa terhadap perbedaan.

“Merawat persaudaraan harus berpijak pada satu prinsip, yaitu memahami bahwa perbedaan adalah keniscayaan,” ujarnya.
Menurutnya, perbedaan tidak seharusnya menjadi sumber pertentangan, melainkan dikelola dengan bijak agar menjadi kekuatan dalam kehidupan bersama. Ia juga mengingatkan bahwa sebagai kelompok mayoritas, umat Islam memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kerukunan beragama di Indonesia.
Percakapan kemudian mengalir ke pengalaman komunitas Saba Maiyah Wonosobo. Pegiat Maiyah, Yuli Dwi Ardi, menjelaskan bagaimana Emha Ainun Nadjib membangun Maiyah dengan semangat keterbukaan dan ukhuwah yang kuat.
Menurut Dwi, konsep sinau bareng menjadi fondasi penting dalam Maiyah, yakni belajar apa pun bersama siapa pun tanpa sekat yang kaku.
“Kita diajarkan konsep sinau bareng, belajar apa pun dengan siapa pun. Ini yang membuat Maiyah bersikap toleran,” katanya.
Dari cara pandang tersebut, lanjutnya, lahir sikap yang tidak mudah fanatik dan tidak tergesa-gesa menghakimi orang lain hanya karena perbedaan latar belakang maupun keyakinan.
“Ndang dadio, itu pesan Cak Nun. Kalau NU, jadilah NU yang benar. Muhammadiyah, jadilah Muhammadiyah yang benar. Syiah, jadilah Syiah yang benar,” ujarnya.
Suasana pertemuan yang cair dan terbuka ini menunjukkan bahwa ruang dialog tetap dapat dirawat di tengah perbedaan. Ketika sekat identitas kerap dibenturkan, perjumpaan seperti ini justru menjadi jalan untuk saling memahami dan memperkuat kebersamaan.

Makna itu kemudian ditegaskan oleh Ketua DPD Ahlulbait Indonesia (ABI), Slamet Priyanto, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, perbedaan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial dan keagamaan, sehingga yang dibutuhkan bukanlah penyamaan, melainkan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan itu sendiri.
“Kita harus memandang perbedaan sebagai sesuatu yang wajar. Yang penting adalah bagaimana menyikapinya secara dewasa. Kita perlu saling mengenal agar tidak terjadi kesalahpahaman. Dari saling mengenal itulah akan tumbuh saling memahami dan saling mencintai,” ujarnya.
Menurut Slamet, kegiatan seperti ini memiliki arti penting sebagai upaya membangun ruang perjumpaan yang sehat di tengah masyarakat, sekaligus mengurai prasangka yang sering muncul akibat jarak dan kurangnya komunikasi.
“Silaturahmi seperti ini penting untuk mengurai kesalahpahaman di antara berbagai komunitas,” katanya.
Pertemuan ini pada akhirnya menjadi pengingat bahwa ukhuwah tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk saling memahami. Di tengah perbedaan yang ada, ruang dialog yang hangat dan terbuka tetap menjadi kunci untuk menjaga kebersamaan. []
