Berita
Iqtishaduna Talk 1: Membangun Koperasi sebagai Manifestasi Ekonomi Perlawanan dan Pilar Pemberdayaan Komunitas
Jakarta, 5 April 2026 — Departemen Pemberdayaan Ekonomi DPP ABI – Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (DPP ABI) sukses menyelenggarakan diskusi bertajuk “Iqtishaduna Talk 1” yang mengangkat tema strategis tentang koperasi sebagai menifesestasi ekonomi perlawanan dan model pemberdayaan ekonomi komunitas. Acara yang berlangsung secara online, pada Sabtu (4 April 2026) ini menghadirkan lima narasumber kompeten dari kalangan akademisi, pemerintah, dan praktisi koperasi. Acara mencatat pendaftar hingga 120 orang dengan rata-rata peserta di platform zoom mencapai 80 orang. Diskusi ini menjadi momentum penting bagi ABI dalam merumuskan langkah konkret pengembangan ekonomi berbasis nilai-nilai keadilan sosial, gotong royong, dan ekonomi perlawanan, sekaligus mengimplementasikan amanat Pasal 33 UUD 1945 tentang sistem ekonomi Pancasila yang menempatkan koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional.
Keynote Speech: Ustadz Zahir Yahya

Acara dibuka dengan keynote speech dari Ustadz Zahir Yahya yang menyampaikan landasan filosofis dan teologis koperasi dalam perspektif Islam. Beliau menjelaskan bahwa konsep koperasi sangat sejalan dengan prinsip ta’awun (tolong-menolong) dan amal jama’i (kerja kolektif) yang diajarkan dalam Al-Quran dan Hadits. Ustadz Zahir menekankan bahwa ekonomi Islam bukan sekadar transaksi yang halal, tetapi harus menghadirkan keadilan distributif dan kesejahteraan bersama. Koperasi, menurutnya, adalah manifestasi nyata dari ekonomi perlawanan (resistance economy) yang digagas Imam Sayyid Ali Khamenei, yakni sistem ekonomi yang mandiri, berkeadilan, dan tidak tergantung pada dominasi kapitalisme global. Ustadz Zahir mengutip perkataan Sayyid Ali Khamenei bahwa koperasi merupakan salah satu upaya yang paling logis dan paling fundamental untuk mencegah ketidakadilan sosial. Beliau menutup keynote-nya dengan mengajak seluruh peserta untuk melihat koperasi bukan hanya sebagai badan usaha, tetapi sebagai gerakan sosial yang memberdayakan umat dari akar rumput.
Pembukaan Sesi Diskusi oleh Moderator Kang Hilmi Dhiya
Setelah keynote speech, tongkat estafet diskusi diserahkan kepada moderator Kang Hilmi Dhiya yang memandu jalannya sesi dengan dinamis dan interaktif. Kang Hilmi membuka diskusi dengan memaparkan urgensi pembahasan koperasi di tengah tantangan ekonomi kontemporer, termasuk kesenjangan sosial, dominasi korporasi besar, dan lemahnya daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah. Beliau menyampaikan bahwa tujuan diskusi ini adalah untuk menggali pengalaman terbaik (best practices) dari berbagai perspektif—akademis, kebijakan pemerintah, metodologi pengembangan, dan praktik lapangan—sehingga ABI dapat merumuskan roadmap yang aplikatif. Kang Hilmi juga menegaskan bahwa diskusi ini bukan sekadar wacana, tetapi harus menghasilkan rencana tindak lanjut yang konkret dan terukur.
Pemaparan Materi Dr. Vita Sarasi: Koperasi dan Nilai Ekonomi Pancasila

Narasumber pertama, Dr. Vita Sarasi dari Universitas Padjadjaran, menyamoaikan bahwa koperasi adalah model pemberdayaan ekonomi yang paling merepresentasikan nilai pancasila, namun koperasi tidak hanya cukup berhenti pada tataran nilai saja. Perlu ada penguatan dari sisi teknis sehingga nilai yang diusung dapat diimplementasikan secara maksimal di lapangan. Dr Vita kemudian membagikan hasil riset dan pengamatannya terhadap berbagai model koperasi sukses di tingkat internasional. Beliau memaparkan bahwa koperasi-koperasi yang bertahan dan berkembang memiliki beberapa karakteristik kunci: tata kelola yang baik (good governance) dengan sistem checks and balances yang jelas, integrasi teknologi digital dalam operasional dan pemasaran, serta partisipasi aktif anggota dalam pengambilan keputusan. Dr. Vita memberikan contoh koperasi di negara-negara Eropa dan Asia yang berhasil beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai badan usaha berbasis keanggotaan. Beliau juga menyoroti pentingnya edukasi berkelanjutan bagi anggota dan pengurus agar koperasi tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu berinovasi. Di akhir paparannya, Dr. Vita menekankan bahwa koperasi Indonesia memiliki modal sosial yang kuat berupa budaya gotong royong, yang jika dikelola dengan manajemen modern, dapat menjadi kekuatan ekonomi yang tangguh.
Pemaparan Materi Ibu Destry Anna Sari: Program dan Dukungan Kementerian Koperasi

Ibu Destry Anna Sari, Wakil Kementerian Koperasi, menyampaikan materi tentang kebijakan dan program pemerintah dalam mendukung pengembangan koperasi di Indonesia. Beliau memperkenalkan program unggulan “Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih” (KDKMP) yang bertujuan memperkuat basis ekonomi di tingkat desa dan kelurahan melalui pembentukan koperasi yang solid dan profesional. Ibu Destry menjelaskan bahwa pemerintah menyediakan berbagai fasilitas, mulai dari pendampingan, pelatihan manajemen, hingga platform digital talenta.koperasi.id yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran mandiri. Beliau menegaskan bahwa kepatuhan terhadap aspek legalitas, partisipasi anggota, transparansi pelaporan keuangan, serta profesionalisme pengurus adalah fondasi kepercayaan yang harus dijaga oleh setiap koperasi. Ibu Destry juga mengajak organisasi masyarakat seperti ABI sudah memiliki modal sosial yang kuat dalam mengakselerasi gerakan koperasi. ABI bisa fokus pada bisnis yang adaptif sesuai dengan potensi di masing-masing daerah, dengan struktur koperasi multipihak dan pendekatan pasar integrasi B2B dengan captive market untuk memaksimalkan gerakan koperasi di Internal ABI, tentunya dengan memaksimalkan kerjasama dengan pihak eksternal sebanyak-banyaknya. Di Akhir, Ibu Destry menyampaikan kesiapan kementrian koperasi dalam bermintra dengan ABI dalam rangka mengakselerasi gerakan koperasi di lingkungan ABI. Karena pada akhirnya koperasi masa depan bukan tentang siapa yang memiliki modal paling besar, melainkan siapa yang mampu mengorkestrasi ekosistem dengan tata kelola paling profesional.
Pemaparan Materi Sayyid Mahdi Jufri: Metodologi Pembangunan Koperasi Berbasis Kebutuhan

Sayyid Mahdi Jufri membawakan materi tentang metodologi praktis dalam membangun koperasi yang berkelanjutan. Beliau menekankan pentingnya pendekatan bottom-up yang dimulai dari pemetaan kebutuhan masyarakat (community needs mapping). Menurut Sayyid Mahdi, banyak koperasi gagal karena dibentuk berdasarkan instruksi atau tren semata, bukan dari kebutuhan riil anggotanya. Beliau menjelaskan langkah-langkah sistematis: identifikasi masalah ekonomi komunitas, analisis potensi dan sumber daya yang ada, perumusan model bisnis koperasi yang sesuai, pembentukan struktur organisasi yang partisipatif, dan evaluasi berkala. Sayyid Mahdi juga menyoroti pentingnya membangun kepercayaan (trust) di antara calon anggota sejak awal, karena koperasi adalah badan usaha yang berbasis pada kepercayaan kolektif. Beliau menutup paparannya dengan mengingatkan bahwa membangun koperasi adalah proses jangka panjang yang memerlukan kesabaran, komitmen, dan pembelajaran terus-menerus dari pengalaman.
Pemaparan Materi Ustadz Segaf Abdillah: Pengalaman Praktis Koperasi Konsumen Bazara

Sebagai praktisi yang telah merasakan langsung dinamika pengelolaan koperasi, Ustadz Segaf Abdillah berbagi pengalaman mendirikan dan mengembangkan Koperasi Konsumen Bazara di Malang. Beliau menceritakan perjalanan koperasi yang dimulai dengan kurang dari 10 anggota dan omzet di bawah 10 juta rupiah per bulan, kini telah berkembang menjadi 115+ anggota dengan omzet mencapai 67,7 juta rupiah per bulan. Ustadz Segaf memaparkan tantangan-tantangan yang dihadapi, mulai dari membangun kepercayaan anggota, mengelola ekspektasi yang beragam, hingga menjaga profesionalisme dalam pengelolaan keuangan. Kunci sukses yang beliau bagikan adalah kombinasi antara manajemen profesional dengan pendekatan kekeluargaan, transparansi penuh dalam pelaporan keuangan, dan konsistensi dalam memberikan nilai tambah kepada anggota. Beliau juga menekankan pentingnya tidak terburu-buru mengejar pertumbuhan besar, tetapi fokus pada penguatan fondasi dan kepercayaan. Pengalaman Bazara menjadi bukti nyata bahwa koperasi yang dikelola dengan baik dapat menjadi solusi ekonomi yang nyata bagi masyarakat.
Penyampaian Kesimpulan
Moderator Kang Hilmi Dhiya merangkum seluruh diskusi dengan menyampaikan beberapa kesimpulan penting. Pertama, koperasi adalah model ekonomi yang sangat relevan dan sesuai dengan nilai-nilai Ekonomi Perlawanan dan Pancasila, serta terbukti efektif dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat. Kedua, keberhasilan koperasi memerlukan kombinasi antara landasan ideologis yang kuat, manajemen profesional, tatakelola yang baik, dan partisipasi aktif anggota. Ketiga, pendekatan bottom-up berbasis pemetaan kebutuhan masyarakat adalah kunci agar koperasi benar-benar menjawab persoalan riil. Keempat, transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan adalah fondasi yang tidak bisa ditawar dalam pengelolaan koperasi. Kelima, pengalaman praktis seperti Koperasi Bazara membuktikan bahwa dengan kesabaran dan konsistensi, koperasi dapat tumbuh dan memberikan manfaat nyata. Kang Hilmi menegaskan bahwa diskusi ini bukan akhir, tetapi awal dari gerakan konkret ABI dalam membangun ekosistem ekonomi umat yang berkeadilan.
Rencana Tindak Lanjut (RTL)
Sebagai tindak lanjut konkret dari diskusi ini, DPP Ahlulbait Indonesia merumuskan beberapa langkah strategis. Pertama, ABI akan menyusun Pedoman dan Standard Operating Procedure (SOP) lengkap untuk pendirian dan pengelolaan koperasi yang dapat menjadi panduan bagi komunitas-komunitas di bawah naungan ABI. Kedua, ABI akan meluncurkan Sekolah Bisnis ABI sebagai wadah pelatihan, pendampingan, dan inkubasi bagi calon pengurus dan anggota koperasi. Ketiga, ABI akan membangun kemitraan strategis dengan Kementerian Koperasi untuk memanfaatkan program-program pemerintah dan platform talenta.koperasi.id. Keempat, ABI akan memfasilitasi pembentukan jaringan antar-koperasi (networking) untuk saling berbagi pengalaman dan sumber daya. Kelima, ABI siap melakukan pendampingan dan layanan konsultasi berkelanjutan bagi komunitas yang ingin mendirikan koperasi, dengan melibatkan para narasumber yang telah berbagi di acara ini sebagai mentor. Seluruh RTL ini akan dijalankan secara bertahap dengan target konkret dan terukur, sehingga visi ekonomi pemberdayaan umat dapat terwujud secara nyata.
Penutup

Iqtishaduna Talk 1 ditutup dengan optimisme dan semangat tinggi dari seluruh peserta. Acara ini berhasil memberikan pencerahan komprehensif tentang koperasi dari berbagai perspektif—filosofis, akademis, kebijakan, metodologis, dan praktis. Komitmen DPP Ahlulbait Indonesia untuk tidak hanya berdiskusi tetapi juga bertindak nyata mendapat apresiasi dari para narasumber dan peserta. Dengan roadmap yang jelas dan dukungan dari berbagai pihak, gerakan koperasi berbasis nilai di lingkungan ABI diharapkan dapat menjadi model yang menginspirasi dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan umat. Acara ditutup dengan doa bersama agar seluruh ikhtiar ini mendapat keberkahan dan kemudahan dari Allah SWT. []
