Tokoh
Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raajiun: Ali Larijani, Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Syahid
Ahlulbait Indonesia | 18 Maret 2026 — Televisi Iran pada Rabu (18/3/26) mengumumkan syahidnya Ali Larijani, Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, dalam serangan Israel-Amerika terhadap Teheran pada malam sebelumnya. Dalam pengumuman itu, Televisi Iran menyebut Larijani telah bergabung dengan Imam al-Shuhada dan dikenal sebagai politisi dengan kompetensi serta reputasi yang baik di Iran.
Disebutkan, “dia menghabiskan seluruh hidupnya yang terhormat setelah Revolusi Islam untuk mengabdi kepada Islam dan Revolusi, dan pada akhirnya meraih kehormatan mati syahid di tangan teroris paling kejam di dunia.”
Kepergian “hamba yang saleh” di tempat suci kesyahidan
Situs web Larijani menyatakan, “Hamba yang saleh, syahid Dr. Ali Larijani, telah naik ke kerajaan surga setelah menjalani hidup dalam jihad untuk kemajuan Iran dan Revolusi Islam. Dalam keajaiban hari Ramadan, dia mencapai keinginannya untuk mati syahid, bergabung dengan rekan-rekannya Syahid Sayyid Nasrallah dan Soleimani, bersama putranya Morteza, asistennya Ali Reza Bayat, dan sekelompok pengawalnya.”
Pernyataan tersebut melanjutkan, Larijani berpulang dengan teguh di jalan persatuan dan menghadapi musuh, meninggalkan warisan kebanggaan serta kemauan yang tak tergoyahkan untuk melanjutkan jalan menuju kemenangan yang tak terhindarkan.
Siapakah Ali Larijani
Ali Ardeshir Larijani lahir pada 3 Juni 1958 di kota Najaf, Irak. Ia berasal dari keluarga yang asal-usulnya ditelusuri ke wilayah Larijani di kota Amol, sebelah utara Teheran. Larijani kembali ke Iran bersama keluarga pada 1961 dan menyelesaikan studi akademik di sana, dan menikahi Farideh Motahhari, putri tokoh agama terkemuka Ayatullah Morteza Motahhari, dan memiliki empat anak: Sarah, Fatima, Morteza, dan Mohammad.
Kemajuan akademiknya
Larijani menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di kota Qom, Iran, kemudian menamatkan pendidikan menengah atas di Sekolah Haqqani, meraih gelar Sarjana Sains di bidang Matematika dan Ilmu Komputer dari Universitas Teknologi Sharif pada 1979 dengan peringkat pertama di bidang spesialisasi. Juga memperoleh gelar master dan doktor dalam filsafat Barat dari Universitas Teheran dengan disertasi tentang filsuf Jerman Immanuel Kant.
Larijani menulis beberapa buku, antara lain “Metode Matematika dalam Filsafat Kant,” “Metafisika dan Ilmu Pasti dalam Filsafat Kant,” serta “Saksi dan Isu Sintetis dalam Filsafat Kant.”
Karya lain meliputi “Open Air” dan “Modern Government: A Promise to the People,” serta 15 artikel penelitian di berbagai bidang.
Jabatan politik yang pernah diemban
Pada Agustus 2025, Larijani mengemban tanggung jawab sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menggantikan Ali Akbar Ahmadi berdasarkan dekrit Presiden Iran Masoud Pezeskian.
Larijani merupakan penasihat senior bagi Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam dan Republik Islam, almarhum Imam Ali Khamenei, serta pernah menjabat Sekretaris Dewan Keamanan Nasional pada 2005–2007. Dan menjabat sebagai ketua parlemen Iran selama tiga periode berturut-turut dari 2008 hingga 2020.
Antara 1997 dan 2004, Larijani menjabat sebagai kepala Lembaga Penyiaran Republik Islam Iran (IRIB). Sebelumnya, Larijani menjabat sebagai Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam pada 1994–1997.
Setelah Revolusi Islam Iran, Larijani bergabung dengan Garda Revolusi pada 1982 dan naik pangkat hingga menjadi wakil komandan pada 1992. Larijani juga mengoordinasikan serta mengawasi kegiatan media dan budaya Garda.
Larijani mengajukan pencalonan sebagai presiden sebanyak tiga kali, terakhir setelah wafatnya Presiden Ebrahim Raisi dalam kecelakaan helikopter pada 2024.
Sikap dalam menghadapi agresi Amerika-Israel
Larijani dikenal dengan pendirian nasional yang tegas dan tanpa kompromi dalam menghadapi agresi Amerika-Israel terhadap Iran. Beberapa pernyataan keras disampaikan kepada Amerika Serikat, dengan penegasan bahwa Iran tidak akan mundur hingga musuh menyesali “kesalahan perhitungan besar.”
Pernyataan itu berbunyi, “Kami tidak akan meninggalkanmu sendirian sampai kamu mengakui kesalahanmu dan membayar harganya.”
Pada Hari Al-Quds Internasional tahun ini, Larijani turun ke tengah demonstran di alun-alun Iran dan muncul dari Lapangan Revolusi di Teheran sebagai bentuk penolakan terhadap agresi Amerika-Israel.
Larijani juga menyampaikan pesan langsung kepada Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dengan mengatakan, “Para pemimpin kami dulu, dan masih, berada di tengah-tengah rakyat. Sedangkan para pemimpin Anda? Mereka berada di Pulau Epstein.”
Sehari sebelumnya, Larijani menerbitkan pesan enam poin kepada umat Muslim di seluruh dunia dan pemerintah negara-negara Islam. Pesan itu menyerukan penentuan sikap dalam konfrontasi yang berlangsung dengan pertanyaan, Anda berada di pihak mana?
Pesan tersebut juga mengingatkan Iran menjadi sasaran agresi Amerika-Israel yang menipu saat proses negosiasi dengan tujuan menghancurkan negara tersebut.
Pesan terakhir
Pesan terakhir yang ditulis tangan oleh Larijani diterbitkan setelah kematiannya. Dalam pesan itu, belasungkawa disampaikan kepada para syahid fregat “Dena” yang diserang Angkatan Laut AS dan menewaskan 104 awak kapal.
Pesan tersebut berbunyi, “Kenangan mereka akan tetap abadi di hati rakyat Iran, dan kesyahidan ini akan memperkuat fondasi tentara Republik Islam dalam struktur angkatan bersenjata untuk tahun-tahun mendatang. Saya memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menganugerahkan kepada para syahid terkasih ini pangkat keberanian tertinggi.”
Adhamallahu ujurana wa ujurakum. []
