Internasional
The Brookings Institution: Kebijakan Trump Dorong Pecahnya Tatanan Global
Ahlulbait Indonesia, 21 Februari 2026 — The Brookings Institution menilai pendekatan kebijakan Presiden Amerika Serikat berpotensi mempercepat fragmentasi tatanan global yang selama ini dibentuk Washington. Arah tersebut dinilai menjauhkan Amerika dari sistem yang dibangunnya sendiri sekaligus mendorong negara lain mencari jalur alternatif.
Mengutip laporan yang diberitakan IRNA, Sabtu (21/2/2026), peneliti senior Brookings, Douglas Rediker, menyebut Donald Trump tengah menguji fondasi tatanan internasional pasca Perang Dunia II.
“Donald Trump sedang menguji dan dalam beberapa hal mendefinisikan kembali fondasi tatanan pasca Perang Dunia II; telah mengubah kerangka tradisional kebijakan luar negeri Amerika dengan mendefinisikan ulang konsep keamanan dan menggeser hubungan lama menjadi relasi yang bersifat transaksional,” tulis Rediker.
Laporan tersebut menyoroti penggunaan perdagangan, tarif, dan instrumen pasar sebagai alat utama strategi “America First”. Kebijakan ekonomi ditempatkan dalam kerangka keamanan nasional, sekaligus memperluas arena persaingan geopolitik.
Brookings menilai langkah tersebut menjadi sinyal melemahnya komitmen terhadap arsitektur kelembagaan global yang selama puluhan tahun menopang pengaruh Amerika.
Indikasi pergeseran juga terlihat dari rencana pembentukan “komisi perdamaian” ketika Amerika memegang presidensi G20. Langkah ini dipandang mencerminkan preferensi pada mekanisme pragmatis dibanding pendekatan multilateral yang mapan.
Dampaknya diperkirakan menjangkau lembaga seperti Dana Moneter Internasional serta sistem manajemen krisis global. Dalam konteks krisis mendatang, muncul pertanyaan mengenai kesiapan dan konsistensi Amerika memimpin respons terkoordinasi seperti pada krisis finansial 2008.
Brookings memperkirakan perubahan tidak berlangsung gradual. Erosi kepercayaan dapat terjadi cepat, mendorong pemerintah dan pelaku pasar memandang Amerika sebagai aktor yang semakin transaksional, sementara institusi pendukungnya dinilai kurang stabil.
Kondisi tersebut mempercepat fragmentasi sistem internasional. Sejumlah mitra mulai mengembangkan mekanisme alternatif dan memperdalam pengaturan paralel guna mengurangi ketergantungan pada struktur lama.
Pemulihan relasi global setelah mengalami pelemahan diprediksi memerlukan waktu panjang. Pendekatan Washington berpotensi tidak hanya menggeser posisi Amerika dalam tatanan global, tetapi juga memicu akselerasi perubahan struktural yang sebelumnya tertunda.
Eropa termasuk kawasan yang terdorong mempercepat reformasi guna memperkuat euro sebagai pesaing dolar. Perkembangan ini membuka peluang terbentuknya sistem internasional yang lebih kompetitif dan semakin terdesentralisasi dari dominasi Amerika Serikat. [HMP/ABI]
