Internasional
Tanggapi Permintaan Maaf Publik, Pemimpin Tertinggi: Syahid Imam Khamenei Anggap Rakyat sebagai Anak-anaknya
Ahlulbait Indonesia, 11 April 2026 — Kantor Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam merespons gelombang permintaan maaf dari berbagai lapisan masyarakat Iran yang mengaku menyesali sikap mereka di masa lalu terhadap Syahid Imam Ali Khamenei.
Melalui pernyataan resmi, kantor tersebut mengungkap bahwa penyesalan itu muncul setelah banyak pihak menyadari pengaruh propaganda media-musuh yang selama ini membentuk persepsi keliru terhadap sosok pemimpin tersebut.
Kantor Ayatullah Mojtaba Khamenei menegaskan, masyarakat tidak perlu diliputi kegelisahan. Syahid Imam Khamenei, semasa hidupnya, memandang seluruh rakyat Iran sebagai anak-anaknya sendiri dan telah memaafkan mereka.
Berikut kutipan pernyataan resmi yang dirilis melalui kanal Telegram:
“Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih dan Yang Maha Penyayang
“Diberi tahukan kepada rakyat tercinta, mulia, merdeka, dan berani Iran: Sejumlah lapisan masyarakat telah menghubungi Kantor ini dan mengungkapkan penyesalan yang mendalam karena, di bawah pengaruh jaringan-jaringan propaganda musuh, mereka telah mengambil sikap yang tidak pantas dan, kadang-kadang, melakukan tindakan yang tidak menghormati kedudukan mulia Pemimpin Agung, Syahid Imam Khamenei serta belum mendapat kesempatan untuk memohon maaf dari beliau. Mereka kini bertanya-tanya tentang apa yang mesti mereka lakukan.
“Beliau telah berulang kali beliau menanggapi kasus-kasus serupa selama hidupnya yang penuh berkah dengan mengatakan, ‘Seluruh rakyat Iran adalah anak-anak saya, dan saya mendoakan mereka. Saya telah mengampuni orang-orang terkasih itu, dan saya akan terus melakukannya,’ Maka dengan mempertimbangkan hal tersebut, dengan ini kami menyatakan bahwa semua orang-orang ini harus yakin bahwa mereka telah dimaafkan oleh sang pemilik hati penuh kasih itu, yang seperti halnya samudera, merangkul semua orang dalam pelukannya.
“Tanda pengampunan ini dapat dilihat dalam kehadiran yang sangat terpadu dan epik ini, juga dalam hati-hati rakyat yang telah menghancurkan musuh. Allah dengan rahmat-Nya telah menghapus semua tembok pemisah di antara mereka, dan semua, dengan slogan ‘Allahu Akbar’, telah mengibarkan bendera ‘Kalimat Allah adalah yang tertinggi’. Dengan bersandar pada Allah, mereka bersatu dalam hati dan tujuan, tidak memikirkan apa pun kecuali kemenangan atas musuh biadab umat manusia.
“Berdirilah dengan teguh dan yakinlah bahwa doa Pemuka Syuhada Iran telah dan akan senantiasa menyertai masing-masing dari rakyat yang tercinta. Keteguhan kalian inilah yang menandakan kemenangan ilahi dan kemenangan yang segera tiba, sebagaimana Dia berfirman: ‘Jika kalian menolong Allah, Dia akan menolong kalian dan akan meneguhkan langkah kalian.'” []
