Internasional
Rektor Al-Mustafa Kritik Keras Al-Azhar atas Kecaman Serangan Iran ke Pangkalan AS–Israel
Ahlulbait Indonesia | 20 Maret 2026 — Rektor Al-Mustafa International University, Syekh Dr. Ali Abbasi, melayangkan surat terbuka kepada Imam Besar Al-Azhar, Dr. Ahmed Al-Tayeb, berisi kritik tajam terhadap sikap lembaga tersebut dalam merespons konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Surat yang ditulis pada 29 Ramadan 1447 H, bertepatan dengan 20 Maret 2026, memuat “kekaguman sekaligus penyesalan mendalam” atas pernyataan Al-Azhar yang dinilai tidak mencerminkan ketegasan di tengah eskalasi konflik.
Apresiasi disampaikan terhadap penekanan Al-Azhar pada pentingnya perlindungan jiwa dan kepatuhan terhadap hukum internasional. Namun, pada saat yang sama, pernyataan tersebut justru mengecam respons militer Iran terhadap pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di kawasan.
“Pernyataan tersebut berakhir dengan menyalahkan pihak yang merespons, bukan pihak yang memulai agresi,” tulisnya.
Kritik atas “ketiadaan kecaman”
Penilaian utama dalam surat itu menyoroti ketiadaan sikap tegas terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, yang disebut terjadi di tengah proses negosiasi dan menimbulkan korban dari kalangan militer maupun sipil.
Ketiadaan kecaman terbuka dipertanyakan, terutama dalam kaitannya dengan tanggung jawab moral umat Islam untuk merespons penderitaan sesama.
Sebagai landasan, dikutip hadis Nabi Muhammad SAW mengenai kewajiban menjawab seruan sesama Muslim, sebuah rujukan yang mempertegas kritik terhadap sikap diam tersebut.
Sorotan pada pangkalan militer AS
Pernyataan Al-Azhar yang mengecam serangan Iran ke pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan Teluk juga menjadi perhatian. Dalam pandangan yang disampaikan, fasilitas-fasilitas tersebut diposisikan sebagai titik awal operasi militer terhadap Iran, sehingga masuk dalam kerangka target pertahanan diri.
“Menargetkan fasilitas yang digunakan untuk melancarkan serangan dipandang sebagai respons terhadap agresi, bukan penyebab konflik,” demikian isi surat tersebut.
Ayat Al-Qur’an (Al-Baqarah: 194) turut dikutip untuk menegaskan prinsip pembalasan yang setimpal dalam konteks serangan.
Pertanyaan terhadap peran negara kawasan
Surat itu juga menyinggung peran negara-negara tetangga Iran yang disebut memberikan akses wilayah dan ruang udara bagi operasi militer Amerika Serikat.
Ketiadaan peringatan atau kritik terhadap hal tersebut dipertanyakan, sekaligus dikaitkan dengan prinsip Al-Qur’an mengenai larangan menjadikan pihak luar sebagai sekutu dalam konteks yang merugikan umat Islam.
Palestina dan arah konflik
Isu Palestina diangkat sebagai bagian dari konteks yang lebih luas. Tekanan terhadap Iran dipertanyakan, apakah berkaitan dengan posisi negara tersebut dalam mendukung Palestina, khususnya di Gaza. “Apakah konflik ini semata soal Iran, atau terkait posisi dalam membela pihak yang tertindas?” tulisnya.
Peringatan disampaikan bahwa sikap diam terhadap konflik yang lebih besar berpotensi membawa dampak serius bagi masa depan dunia Islam.
Seruan kepada ulama
Di bagian akhir, seruan ditujukan kepada para ulama, khususnya Al-Azhar, untuk mengambil posisi yang konsisten dan berlandaskan prinsip keadilan tanpa standar ganda.
Ditekankan bahwa setiap pernyataan di tengah konflik memiliki konsekuensi moral dan historis. “Tanggung jawab atas setiap kata hari ini sangat besar, dan sejarah akan mencatatnya,” demikian isi penutup surat tersebut.
Surat ini menambah daftar respons dari kalangan ulama dan institusi keagamaan terhadap dinamika konflik yang semakin meluas di kawasan Timur Tengah, sekaligus mencerminkan perbedaan pandangan yang kian terbuka di antara otoritas keagamaan dunia Islam. []
