Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Politico: Negara Teluk Evaluasi Komitmen Investasi ke AS

Published

on

Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Presiden UEA Sheikh Mohammed bin Zayed di Abu Dhabi pada 15 Mei 2025. (Foto: Press TV)

Ahlulbait Indonesia | Jumat, 27 Maret 2026 — Sejumlah negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (P-GCC) dilaporkan mulai meninjau ulang komitmen investasi besar mereka ke Amerika Serikat di tengah memburuknya situasi keamanan dan tekanan ekonomi kawasan akibat konflik dengan Iran.

Laporan itu pertama kali disorot Press TV pada Jumat (27/3/2026) dengan mengutip laporan Politico yang menyebut kekhawatiran di internal pemerintahan Presiden Donald Trump atas potensi tertundanya atau berubahnya realisasi komitmen modal dari negara-negara Teluk.

Selama beberapa bulan terakhir, Trump berulang kali menonjolkan komitmen investasi dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar yang nilainya mencapai ratusan miliar hingga triliunan dolar sebagai bagian penting dari agenda ekonominya.

Komitmen tersebut dipandang penting bagi sejumlah sektor strategis di Amerika Serikat, termasuk teknologi, investasi, pertahanan, dan bisnis skala besar.

Namun, menurut sumber yang mengetahui pembahasan internal dan dikutip Politico, meningkatnya risiko keamanan di kawasan Teluk kini memicu kekhawatiran baru di Washington.

“Yang benar-benar mengkhawatirkan para pengamat adalah negara-negara Teluk Persia telah memberi sinyal bahwa mereka hanya beberapa minggu lagi dari potensi pemulangan puluhan miliar dolar investasi berbasis di AS untuk mengatasi kebutuhan domestik dan pertahanan yang mendesak,” kata salah satu sumber.

Jika langkah itu benar-benar terjadi, dampaknya dinilai dapat mengganggu arus modal ke pasar Amerika Serikat pada saat ketidakpastian ekonomi global masih tinggi.

Tekanan terhadap perekonomian negara-negara Teluk juga disebut meningkat seiring gangguan pada sektor energi, logistik, dan aktivitas bisnis regional, termasuk terhadap pusat-pusat ekonomi seperti Dubai dan Doha.

Sejumlah laporan menyebut konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah memicu gangguan terhadap stabilitas kawasan, termasuk pada jalur perdagangan energi di sekitar Selat Hormuz.

Seorang eksekutif senior di sebuah perusahaan manajemen aset yang didukung modal dari kawasan Teluk juga menyebut sejumlah perusahaan mulai mempertimbangkan alternatif sumber pembiayaan di luar kawasan tersebut di tengah meningkatnya ketidakpastian.

Sementara itu, sejumlah ekonom menilai janji investasi besar negara-negara Teluk ke Amerika Serikat sejak awal memang menghadapi tantangan realisasi.

Salah satunya datang dari Adnan Mazarei, mantan wakil direktur di Dana Moneter Internasional (IMF), yang menilai komitmen tersebut kini semakin sulit dipenuhi.

“Janji-janji itu kini semakin sulit untuk dipenuhi,” ujar Mazarei.

Menurut dia, tekanan fiskal dan kebutuhan belanja pertahanan yang meningkat dapat memaksa negara-negara Teluk memprioritaskan kebutuhan domestik dibanding ekspansi investasi ke luar negeri.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah negara-negara P-GCC terkait kemungkinan perubahan komitmen investasi mereka ke Amerika Serikat. []