Internasional
Pezeshkian: Musuh Harus Mengubur Mimpi Penyerahan Tanpa Syarat Iran
Ahlulbait Indonesia | 7 Maret 2026 — Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa musuh Iran harus mengubur mimpi mereka memaksa Teheran menyerah tanpa syarat. Ia menegaskan Iran tetap berpegang pada hukum internasional dan prinsip-prinsip kemanusiaan. “Yang kita patuhi adalah hukum internasional dan kerangka kerja kemanusiaan dan prinsip-prinsip,” tegasnya.
Dalam pesan yang disiarkan secara langsung Televisi Pemerintah pada Sabtu (7/3/26), Pezeshkian menyampaikan belasungkawa atas syahidnya pemimpin revolusi Imam Ali Khamenei, para komandan militer, serta pelajar yang menjadi korban serangan. Presiden Iran menyebut musuh Iran tidak ragu menyerang target sipil, termasuk rumah sakit dan sekolah.
“Musuh tidak ragu menyerang pusat-pusat sipil seperti rumah sakit dan sekolah. Kita juga harus berterima kasih kepada rakyat kita yang mulia, yang tetap hadir di lapangan setiap malam meskipun menghadapi berbagai kesulitan. Musuh harus membawa mimpi bahwa Iran akan menyerah tanpa syarat ke liang kubur,” ujarnya.
Pezeshkian juga menyampaikan apresiasi kepada rakyat Iran yang tetap bertahan di tengah situasi sulit. Menurutnya, seluruh warga Iran, tanpa memandang mazhab maupun latar belakang, memiliki peran dalam mempertahankan keutuhan wilayah negara.
Ia menekankan bahwa meskipun terdapat perbedaan di dalam negeri, masyarakat harus bersatu menghadapi krisis. “Kita harus bergandengan tangan dan membela tanah air hingga titik terakhir,” katanya.
Dalam pidatonya, Pezeshkian juga menyampaikan permohonan maaf kepada negara-negara tetangga yang terdampak serangan Iran. Ia menyebut serangan tersebut terjadi dalam konteks respons militer setelah para komandan Iran gugur akibat agresi musuh.
Menurutnya, Iran tidak memiliki niat menyerang negara tetangga dan selalu memandang mereka sebagai saudara. Pemerintah Iran, kata dia, berupaya memperkuat kerja sama regional demi menciptakan perdamaian dan stabilitas di kawasan.
“Di sini saya perlu meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang terkena serangan dari Iran. Situasi ini terjadi setelah para komandan dan pemimpin kami kehilangan nyawa akibat agresi brutal musuh. Setelah para komandan kami gugur sebagai syahid, kami mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk membela tanah air dengan kehormatan dan kekuatan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari respons terhadap serangan musuh.
“Atas nama Iran dan atas nama saya pribadi, saya menyampaikan permohonan maaf kepada negara-negara tetangga yang terkena serangan dalam kerangka pertahanan dan respons terhadap agresi musuh. Bangsa Iran, setelah kehilangan pemimpin tercinta, para komandan pemberani, serta sejumlah anggota angkatan bersenjata akibat agresi brutal musuh, terus berupaya mempertahankan keutuhan wilayah, kehormatan, dan martabat negaranya dengan sekuat tenaga,” kata Pezeshkian.
Pezeshkian mengungkapkan bahwa dalam rapat Dewan Kepemimpinan Sementara, pemerintah telah memutuskan untuk menghentikan serangan terhadap negara tetangga, kecuali jika serangan terhadap Iran itu berasal dari wilayah mereka. Keputusan itu telah disampaikan kepada Angkatan Bersenjata.
Ia menegaskan bahwa konflik seharusnya diselesaikan melalui jalur diplomasi, bukan perang yang berpotensi memperluas ketegangan di kawasan.
Presiden juga memastikan pemerintah tetap bekerja penuh untuk melayani masyarakat di tengah situasi perang. Ia mengakui kondisi negara berada dalam situasi konflik, namun menegaskan Iran telah bersiap menghadapi kemungkinan tersebut.
“Saya memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa agar pada bulan yang penuh berkah ini kita dianugerahi keyakinan, iman, dan keteguhan untuk membela keutuhan wilayah, kehormatan, dan martabat rakyat serta negara kita dengan kekuatan. Peristiwa ini juga harus menjadi pelajaran bagi generasi mendatang bahwa rakyat Iran selalu bersatu ketika negara membutuhkan mereka,” lanjutnya.
Di akhir pidatonya, Pezeshkian menyerukan persatuan nasional dan memperingatkan pihak-pihak yang ingin memanfaatkan situasi untuk menyerang Iran agar tidak menjadi alat kepentingan imperialisme. Ia menilai bekerja sama dengan pihak luar yang memusuhi Iran hanya akan membawa kehinaan dan tidak akan menghasilkan kebebasan maupun kehormatan.
“Jika ada perbedaan di antara kita, lebih baik diselesaikan melalui dialog, bukan dengan menjadi alat pihak asing,” ujarnya.[]
