Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Pejabat Keamanan UEA Ajak Negara Teluk Pererat Hubungan dengan Israel

Published

on

Letnan Jenderal Dhahi Khalfan Tamim, Wakil Kepala Kepolisian dan Keamanan Publik di Dubai. (Press TV)

Ahlulbait Indonesia | 26 Maret 2026 —Seruan pejabat tinggi keamanan Uni Emirat Arab untuk mempererat hubungan dengan Israel memicu gelombang kemarahan di dunia Arab, di tengah meningkatnya ketegangan kawasan dan memanasnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Pernyataan itu datang dari Letnan Jenderal Dhahi Khalfan Tamim, Wakil Kepala Kepolisian dan Keamanan Publik Dubai, melalui serangkaian unggahan di platform X pada Rabu, (25/3/26). Ucapannya segera memantik kontroversi karena dinilai bertolak belakang dengan sentimen publik Arab yang selama ini memandang Israel sebagai kekuatan pendudukan di Palestina sekaligus sumber instabilitas regional.

Dalam salah satu unggahannya, Khalfan secara terbuka mendorong negara-negara Teluk untuk membangun kerja sama lebih erat dengan Israel.

“Wahai penduduk negara-negara Teluk Arab [Persia], perkuat kerja sama dengan Israel… Tidak ada kebaikan sama sekali di negara-negara di kawasan ini,” tulis Khalfan.

Pernyataan tersebut langsung menuai kecaman luas. Di media sosial, banyak pengguna dari berbagai negara Arab menilai seruan itu tidak hanya provokatif, tetapi juga menunjukkan keberpihakan politik yang sensitif di tengah situasi kawasan yang sedang bergolak.

Kontroversi makin membesar setelah Khalfan, dalam unggahan lain, menyebut serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sebagai upaya untuk “menghilangkan mesin penghancur” yang menurutnya dibangun demi hegemoni Persia di kawasan. Dalam pernyataan yang sama, ia juga menyebut negara-negara Barat sebagai “negara-negara sahabat”.

Tak berhenti di situ, Khalfan juga melontarkan kritik terhadap Liga Arab. Ia menuding organisasi tersebut gagal mewakili kepentingan dunia Arab, terutama dalam menyikapi Iran.

“Merupakan aib bagi negara-negara Teluk Persia untuk tetap berada di universitas yang menyebut dirinya Liga Arab… sementara universitas tersebut tidak memiliki sentimen Arab,” tulisnya.

Dalam unggahan lanjutan, ia menambahkan:

“Universitas itu bersimpati kepada Persia.”

Rangkaian pernyataan itu memicu reaksi keras di ruang publik Arab. Banyak komentar menegaskan bahwa ancaman terbesar terhadap keamanan kawasan Teluk bukan datang dari slogan politik, melainkan dari pendudukan yang terus berlangsung di Palestina serta proyek ekspansi Israel yang dinilai kian agresif.

Sejumlah pengguna media sosial juga menilai narasi yang dibangun Khalfan justru mengaburkan persoalan utama di kawasan. Bagi mereka, upaya mendorong normalisasi dan kedekatan dengan Israel di tengah perang yang terus meluas hanya akan memperdalam jurang ketidakpercayaan antara pemerintah dan opini publik Arab.

Kontroversi ini muncul saat kawasan Asia Barat berada dalam fase eskalasi berbahaya. Pada akhir Februari, Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan yang menargetkan sejumlah pemimpin Iran serta infrastruktur militer dan sipil. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal dan pesawat nirawak ke wilayah Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan.

Pemerintah Iran menyatakan respons tersebut sebagai tindakan bela diri yang sah. Teheran merujuk Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan menegaskan hak setiap negara untuk mempertahankan diri dari serangan luar.

Di tengah situasi itu, pernyataan Khalfan dipandang bukan sekadar opini pribadi seorang pejabat keamanan, melainkan cerminan dari perpecahan yang kian nyata di tubuh dunia Arab. Sebagian negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab, terus membuka ruang hubungan lebih dekat dengan Israel. Sementara di sisi lain, opini publik Arab tetap melihat Palestina sebagai pusat luka politik kawasan dan Israel sebagai aktor utama yang memperpanjang krisis.

Polemik ini sekali lagi memperlihatkan satu kenyataan yang sulit dibantah, bahwa dunia Arab masih terbelah dalam membaca ancaman, menentukan kawan, dan merumuskan arah politik kawasan di tengah perang yang belum menunjukkan tanda mereda. []